Eksklusif Rendy Pandugo, dari Musisi Kamar hingga Album 4 Negara

Nizar Zulmi diperbarui 11 Okt 2017, 08:27 WIB

Fimela.com, Jakarta Mungkin hal terbaik akan datang dari sesuatu yang tak terbayang sebelumnya. Lebih dikenal sebagai salah satu musisi Soundcloud, siapa sangka Rendy Pandugo akhirnya bergabung dengan major label yang menaunginya sekarang?

***

Rendy pun melihat ini sesuatu yang besar pengaruhnya dalam karier musik yang ia rintis. Musik bukanlah hal baru baginya, tapi kesuksesan rupanya datang di saat ia memilih keluar dari zona nyaman.

Sebelum menjadi solois, Rendy sudah terlebih dulu berkecimpung sebagai gitaris duo Di-Da. Merasa stuck dengan kondisi yang ada, ia pun memilih keluar dan vakum bermusik selama sekitar 4 tahun. Ya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melakukan eksplorasi tentang apa yang ia mau.

"Awalnya gue menolak saat ditawarin masuk label. Sampe beberapa kali disamperin, trus terjadi negosiasi karena gue pengen merilis album full bahasa Inggris, melakukan hal yang belum pernah gue lakuin sebelumnya," ungkap Rendy Pandugo yang sempat menyebut dirinya sebagai bedroom musician.

Namun kini ia mendapat kesempatan yang bagus untuk memperluas karier musik yang selama ini ia idamkan. Bergabung dengan Sony Music Indonesia, Rendy memulai dengan recycle lagu Sheila On 7, Sebuah Kisah Klasik di album Y2Koustic.

Dari situ namanya mulai banyak dikenal dan single debut solo menjadi sesuatu yang menjanjikan. Benar saja, lewat single I Don't Care musik Rendy Pandugo mendapat respon luar biasa dari penikmat musik Indonesia.

Euforia tersebut kemudian berlanjut dengan perilisan full album pertama Rendy Pandugo, The Journey yang dirilis di 4 negara yakni Indonesia, Singapura, Malaysia dan Filipina. Sebuah manifestasi dari perjalanan musik, obsesi dan kejujurannya dalam bermusik. Seperti apa Rendy memaknai albumnya? Simak cerita serunya dalam kutipan wawanara berikut.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Perjalanan Menuju The Journey

Simak obsesi, influence dan rasa lega Rendy Pandugo tentang karier musiknya. (Stylist: Indah Wulansari, Foto: Deki Prayoga, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Mungkin sebagian pendengar Rendy Pandugo baru mendengar karyanya selama satu atau dua tahun belakangan. Namun perjalanan karier Rendy Pandugo di musik sudah berlangsung cukup lama.

Kesuksesan Rendy tak datang dari sesuatu yang instan. Matang secara musik, ia baru menemukan pakem yang pas saat merilis album solonya yang sekarang ini.

Orang mungkin belum banyak tahu, bagaimana awal karier Rendy Pandugo?

Dulu sempet cover-cover, bikin lagu dan di-share di Soundcloud. Trus gue sebenernya juga bukan vokalis, dulu gue main gitar di grup namanya Di-Da. Akhirnya 2014 gue memutuskan solo karier, sampe 2015 akhir gue ketemu Sony Music Indonesia dan nawarin gue album.

Perbedaan Rendy di masa itu dan sekarang seperti apa?

Di album gue ini mungkin akan bikin kaget karena gue menyuguhkan sesuatu yang agak berbeda dari yang pernah gue kerjakan sebelumnya, which is akustik yang nuansanya cuma kaya bedroom musician, yang cuma pakai gitar.

Bicara soal The Journey, bagian perjalanan mana yang paling monumental?

Tahun 2014 gue memutuskan untuk ngamen di mall sih. Gue menyadari main di cafe-cafe dan mall itu keputusan yang tepat buat gue karena sebelumnya gue di Surabaya dan nggak pernah ngelakuin itu sama sekali. Mungkin ngaruhnya lebih ke jam terbang gue ya. Jadi kalau gue nggak ngelakuin itu gue nggak tau sih sekarang bakal gimana.

Sebagai musisi indie, apa reaksi saat mendapat tawaran dari Sony Music?

Awalnya gue sempat nggak mau sih, pengennya indie aja. Pengen bikin album yang gue kerjain sendiri di kamar terus gue rilis sendiri. Suatu ketika Sony nawarin dua kali dan gue tolak, karena gue yakin Sony nggak akan mau ngerilis album full bahasa Inggris. Sebenarnya di penawaran ketiga masih 60 persen Inggris 40 persen Indonesia, tapi gue mendapat rezeki lebih dan dipertemukan dengan A&R Sony Music Asia Pasific, gue present 3 lagu dan akhirnya disetujui bikin full bahasa Inggris.

Kenapa harus full bahasa Inggris?

Gua akuin gua tidak cukup mahir dalam menulis lagu dalam bahasa Indonesia. Gue sama sekali tidak mendiskreditkan bahasa Indonesia. Buat gue orang yang bisa menulis lagu dalam bahasa Indonesia yang bagus adalah sebuah gift. Karena gue nggak yakin bisa membuat lagu seindah, let's say Tulus. 

Gue bilang bahasa Inggris lebih simpel aja, untuk mengungkapkan sesuatu. Tapi gue juga pengen belajar lebih lagi buat bikin lagu bahasa Indonesia, bisa sih cuman mungkin agak lebih susah buat gue.

 

 

3 dari 3 halaman

Influence, Makna

Simak obsesi, influence dan rasa lega Rendy Pandugo tentang karier musiknya. (Stylist: Indah Wulansari, Foto: Deki Prayoga, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Selama produksi, proses apa yang paling menyenangkan?

Proses paling menyenangkan adalah gue harus pergi ke Swedia untuk ngerjain album ini. Sebulan di sana ketemu orang-orang baru pertama kali nginjak Eropa.

Secara teknis sebenarnya kalo dari produksi nggak jauh beda. Tapi yang berbeda itu referensi-referensi yang mereka punya, memang agak berbeda. Dan kerjanya emang bener-bener efektif. Jam 10 jam 5 sore.

Makna dan obsesi di album The Journey buat Rendy?

Sebenernya yang perlu dipahami adalah konsep album gue, judulnya The Journey. Itu literally bener-bener perjalanan gue. Gue menyuguhkan kumpulan nada-nada yang ada di kepala gue dari 2010 sampai 2015. Kenapa 2010 karena waktu itu gue stop nulis lagu dan baru nulis lagi di 2015. Dan nada-nada itu gue tulis dan akhirnya gue tuangkan di album ini. Ada beberapa genre yang dibikin di album ini, menunjukkan bahwa ini musik-musik yang gue dengerin sih.

Ada satu atau dua lagu yang paling personal di album ini?

Bad Company itu lagu yang gue tulis pertama kali, literally pertama kali gue tulis sendiri di album ini. Waktu itu gue ngerasa bener-bener kesepian dan nggak punya temen buat sharing, untuk memulai suatu karya. Sedangkan gue diharuskan menulis lagu dalam bahasa Inggris, yang belum pernah gua lakukan sebelumnya. Gue ngga tau mau nanya siapa ngobrol ama siapa dan gue menyampaikan keresahan yang gue rasakan di situ. Gue merasa lagu itu sangat jujur, itulah yang bikin lagu itu spesial buat gua.

Album ini dirilis di 4 negara, ada tanggung jawab lebih untuk karya berikutnya?

Gue sebenarnya nggak mau ada pressure sih. Gue rasa ketika lo ngerjainnya secara jujur dan ingin lo sampaikan itu akan lebih maksimal sih daripada saat merasa ada pressure dan lo berpikir keras untuk itu. Kenapa nggak lo take it easy, di breakdown pengennya kayak apa. Itu lebih baik sih menurut gue daripada stress mikirin berikutnya harus lebih fenomenal atau apalah itu. 

Ketika ada komentar, "kenapa lagu sebagus ini viewersnya sedikit," apa tanggapan Rendy?

Sebenernya gue serahin ke publik ya. Gua usahain semaksimal mungkin apa yang gue lakuin buat album ini segi promosi atau performance. Kalau dikerjain secara jujur sih gue nggak masalah.

Sempat merasa materi yang ditawarkan terlalu berat?

Kalau terlalu berat sih nggak ya. Mungkin lagunya Payung Teduh atau musisi lain lebih berat dari lagu gue yang chordnya gitu-gitu doang. Tapi kenapa bisa semeledak itu, kita nggak tau. Mungkin pasarnya emang banyak yang ke sana, tapi nowadays gue ngerasa setiap genre ada yang dengerin. Jadi itu mungkin masalah timing dan faktor X. 

Apakah go internasional jadi salah satu obsesi?

Buat gue go internasional tetep bonus sih sebenernya. Karena nowadays semua orang bisa akses musik digital. Semua negara bisa dengerin itu, tergantung lo mau menyikapinya gimana.