Sukses

FimelaMom

Kenapa Anak Justru Lebih Rewel Saat Bersama Ibu? Ini Penjelasannya

Fimela.com, Jakarta Bayangkan seorang ibu yang meninggalkan anak-anaknya bersama sang ayah untuk sementara waktu. Begitu sang ibu pulang, suasana rumah langsung berubah. Anak-anak mulai berebut perhatian, meminta camilan, atau saling bertengkar. Sang ayah yang kebingungan pun berkata, “Padahal mereka anteng seharian sebelum kamu datang.” Situasi ini mungkin terasa sangat familiar bagi banyak ibu.

Melansir laman parenting.firstcry.com banyak orang kerap heran mengapa anak justru terlihat lebih rewel ketika bersama ibunya. Hal ini sering disalahartikan sebagai tanda anak manja atau karena ibu kurang tegas dibanding ayah. Padahal, penyebab utamanya terletak pada aspek emosional. Anak merasa paling aman dan nyaman di dekat ibunya, sehingga tidak perlu lagi menahan perasaan atau berpura-pura kuat. Bersama ibu, mereka bisa mengekspresikan diri sepenuhnya seperti menangis, marah, atau merengek karena yakin bahwa sang ibu akan selalu menerima dan menenangkan mereka tanpa syarat.

Bagi anak, ibu adalah sosok yang membuat mereka merasa paling aman untuk menumpahkan segala emosi. Setelah seharian menahan diri di luar rumah, mereka tahu bahwa kehadiran ibu adalah saat di mana mereka bisa benar-benar melepaskan rasa lelah, marah, atau sedih yang tertahan. Karena itulah, tangisan, rengekan, atau perilaku rewel kerap muncul begitu anak kembali bertemu dengan ibunya bukan karena ingin membuat repot, melainkan karena akhirnya mereka bisa merasa bebas dan dimengerti sepenuhnya.

Rewel sebagai bentuk kepercayaan dan proses belajar emosi anak

Bagi banyak ibu, hal ini tentu tidak mudah. Setelah lelah bekerja atau mengurus rumah, menghadapi anak yang tiba-tiba tantrum bisa sangat menguras energi. Namun, para ahli perkembangan anak menegaskan bahwa perilaku ini bukan tanda anak kurang ajar, melainkan bukti kuatnya rasa percaya dan aman yang mereka rasakan pada sang ibu. Anak tahu, tidak peduli seberapa rewel mereka, ibu akan tetap mencintai dan menenangkan.

Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap perilaku seperti ini sebagai tanda anak manja atau ibu gagal mendidik. Bahkan ada yang berkomentar, “Makanya, anakmu lebih nurut sama ayahnya.” Padahal, menurut psikolog anak, sikap rewel ini justru menunjukkan bahwa sang ibu berhasil membangun ikatan emosional yang kuat. Anak merasa cukup aman untuk mengekspresikan semua perasaannya tanpa takut dihakimi.

Menariknya, ekspresi “rewel di depan ibu” juga membantu perkembangan emosional anak. Dengan berani menunjukkan perasaan mereka, anak belajar memahami dan mengelola emosi sejak dini. Bahkan, hal-hal kecil seperti anak tiba-tiba ngompol atau menangis tanpa sebab bukan berarti kemunduran, melainkan tanda bahwa mereka sedang belajar menyalurkan stres dengan cara yang aman.

Rewel bukan tanda manja, tapi bukti kuatnya ikatan ibu dan anak

Tentu saja, bukan berarti ayah tidak penting dalam hal ini. Anak-anak kadang memang tampak lebih tenang bersama ayah karena suasananya berbeda. Ayah cenderung memberi ruang bermain dan eksplorasi, sementara ibu menjadi tempat kembali untuk mencari rasa aman. Keduanya saling melengkapi dalam proses tumbuh kembang anak.

Jadi, ketika anak terlihat lebih rewel di dekat ibu, jangan langsung panik atau merasa gagal. Justru itulah bukti bahwa anak percaya pada ibunya, tempat di mana ia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri. Kuncinya adalah tetap sabar, hadir secara emosional, dan memahami bahwa di balik setiap tangisan, ada kebutuhan yang ingin disampaikan.

Pada akhirnya, rewel bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara anak berkomunikasi. Dengan memahami maknanya, ibu bisa menanggapinya dengan empati dan kasih sayang, menjadikannya momen untuk memperkuat ikatan batin yang tak tergantikan antara ibu dan anak.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading