Gara-gara Lembur, Jurnalis Jepang Meninggal Dunia

Lanny Kusuma diperbarui 03 Apr 2018, 04:06 WIB

Fimela.com, Jakarta Semangat dan etos kerja yang tinggi menjadi ciri khas masyarakat Jepang. Bekerja hingga larut malam pun bakan bukan lagi menjadi sebuah hal yang aneh. Namun, kejadian yang menimpa Miwa Sado, jurnalis asal Jepang yang meninggal dunia akibat terlalu banyak lembur seolah membuka mata betapa kerasnya jam kerja di negeri sakura tersebut.

Salah seorang jurnalis mengatakan bahwa untuk mendapat berita yang ekslusif, ia diwajibkan untuk selalu stand by memburu narasumber. Tak ada lagi jam kerja 8 jam per hari, dalam 24 jam pun mereka harus siaga mencari berita. Bahkan tak jarang, mereka terpaksa pulang pukul satu dini hari dan kembali ke kantor dalam empat jam.

What's On Fimela
Seorang Jurnalis asal Jepang meninggal dunia karena terus bekerja. (Sumber Foto: Kapanlagi.com)

Salah satu rutinitas keras jurnalis di Jepang biasa disebut 'yomawari' atau ronde malam. Biasanya, para jurnalis yang membutuhkan keterangan dari narasumber akan terus menunggu di depan rumah hingga mereka mau bicara. "Saat musim dingin, aku sampai membawa pemanas tubuh tapi tetap saja masih terlalu dingin. Bahkan untuk ke kamar mandi pun tak bisa, benar-benar buruk untuk kesehatanmu," tutur salah seorang jurnalis berusia 30 tahun yang tak ingin disebutkan namanya, seperti dilansir dari AFP Sabtu (14/10).

Selain itu, mereka juga dikenal sebagai orang yang tak mudah menyerah, apapun kondisinya. Salah seorang mantan reporter TV mengungkapkan kondisinya saat bekerja. Karena terlalu serius bekerja, ia sampai tak sadar bahwa suhu badannya sudah mencapai 39 derajat celcius. "Pemimpin perusahaan hanya mengingatkan agar aku tak malas, namun mereka tak akan menyuruhmu beristirahat meskipun sudah bekerja terlalu keras," jelasnya.

Terkuaknya cerita mengenai jam kerja jurnalis di Jepang bermula saat salah satu reporter NHK, Miwa Sado tewas akibat gagal jantung. Wanita berusia 31 tahun ini meninggal akibat kelelahan bekerja karena mengambil 159 jam lembur dalam sebulan. Kasus ini bukan kasus pertama yang terjadi di Jepang, setiap tahunnya puluhan kematian akibat jam kerja terjadi, di antaranya adalah stroke, jantung hingga bunuh diri.

Meski petinggi NHK, Ryoichi Ueda, sudah membungkuk minta maaf di depan orang tua Sado, hal itu tetap tidak bisa memperbaiki keadaan. Perdana Menteri Shinzo Abe sudah mengajukan usul digelar program 'Jumat Ceria', di mana para pekerja di sektor apapun pulang lebih awal saban Jumat akhir bulan. Namun menurut pakar perburuhan Jepang dari Universitas Ryukoku, Profesor Shigeru Wakita menyebutkan bahwa hal tersebut tidak akan merata terjadi di seluruh perusahaan. "Kemungkinan aturan tersebut hanya akan berlaku di perusahaan besar terkemuka," tutupnya.

 

Penulis: Tyssa Madelina

Sumber: Kapanlagi.com