Wanita Karir & Mitos Budaya
Coba bayangkan saja, selepas lulus SMA, kamu akan otomatis langsung memilih-milih ingin memasuki universitas yang mana beserta jurusan yang disukai dengan harapan menjadi wanita karir yang sukses. Setelah sudah menghabiskan waktu sekian tahun, dunia kerja akan dimasuki dan titel wanita karir pun disandang. Seiring perjalanan, tahap menikah dan mempunyai anak pun ditapaki, dan kini pertanyaan itu pun menghampiri, “Apa yang sebaiknya dipilih, menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?”. Jawaban sepenuhnya ada di tangan kamu, tapi sebelum keputusan bulat itu diambil, sebaiknya lihat kedua pilihan itu dengan sisi yang lebih luas, bukan hanya dianggap sebagai mana yang lebih baik atau buruk, tapi mana yang lebih memajukan atau membuat mundur diri kita sendiri.
Seringkali juga, keputusan menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga dipengaruhi oleh kebudayaan yang menjadi adat. Untuk di negara Asia sendiri, khususnya di Indonesia, pola patrilineal atau dominasi laki-laki masih sangat berkuasa, sehingga perempuan seolah nggak punya pilihan lagi ketika status wanita karir yang mereka dulu miliki, dilepaskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Pikiran bahwa perempuan sebaiknya hanya diam di rumah, mengurus anak-anak dan suami, meletakkan karir di nomor kesekian, bukan menjadi wanita karir, dan menyerahkan tanggung jawab keuangan hanya kepada suami, sebenarnya belum tentu juga benar.
Coba saja dipikir, kalau kamu merasa adalah seorang perempuan yang mempunyai impian dan visi yang tajam tentang hidupmu, tentu tahap menikah dan menjadi ibu bukan suatu sinyal bahwa statusmu sebagai wanita karir harus berakhir. Berposisi sebagai wanita karir di siang hari dan beralih menjadi istri dan ibu di malam hari, sangat mungkin bisa diwujudkan, dengan catatan pasangan hidupmu berjalan pikiran yang sama denganmu, yaitu menjadi wanita karir setelah menikah dan punya anak bukan sebuah masalah.
Wanita Karir & Prioritas Utama
Sebagai sesama perempuan dan wanita karir, kesulitan menjalani dua dunia, work and family dalam waktu yang bersamaan itu dihadapi oleh hampir semua perempuan. Kamu nggak sendirian merasakan kesulitan, kegamangan, dan terkadang kewalahan menghadapi masalah pekerjaan di kantor sebagai wanita karir yang harus disambung dengan problema keluarga. Sebenarnya, kuncinya cuma satu, yaitu kompromi dengan pasangan. Sebagai suami yang mengetahui bahwa menjadi wanita karir adalah sebuah pilihan yang kamu sukai, sudah sepantasnya ia mendukung. Kompromi ini tentu bisa dicapai melalui sebuah sesi diskusi yang panjang, dalam, dewasa. Mitos bahwa hampir semua laki-laki merasa terancam beristrikan seorang wanita karir yang sukses, belum tentu berlaku pada pasanganmu. Jadi, sebelum memulai topik untuk kembali menekuni profesi sebagai wanita karir pascamenikah dan mempunyai anak, ciptakan suasana yang menyenangkan agar tercipta mood yang menunjang.
Ketika kompromi itu sudah tercapai, pastinya akan terasa beda mejalani status wanita karir dengan kebesaran hati pasangan dibanding tanpa izin. Contoh kecilnya saja adalah bila anak sakit dan akan sedikit rewel dari biasanya. Bila kompromi pembagian tugas mengurus anak sudah dibicarakan sebelumnya, pasangan tentu nggak akan tinggal diam dan melanjutkan tidur saat tahu kamu baru saja menjalani hari yang berat di kantor dan malamnya harus menghadapi anak sakit. Perhatian kecil saja begitu berarti bila kamu sendiri yang mengalami.
Wanita Karir dan Keselarasan
Nah, jadi jangan pusing lagi ketika ingin terus menjadi wanita karir dengan titel tambahan sebagai istri dan ibu rumah tangga. Mengurus suami, membesarkan anak, dan mengurus rumah, memang adalah tugas seorang perempuan, tapi alangkah lengkapnya hidup kita bisa mempertahankan profesi kita sebagai wanita karir dengan tetap mampu menyelaraskan tugas-tugas keperempuanan lainnya. Sudah terbukti lho, bahwa memiliki sosok ibu sebagai wanita karir, berefek baik pada cara berpikir anak kita nanti, begitu juga dengan cara pandang kita sebagai pasangannya. Sudah bukan zamannya lagi perempuan ditempatkan di jurang pilihan, antara hanya menjadi ibu rumah tangga atau berprofesi sebagai wanita karir.