Dewi Kucu: Iseng-iseng Berhadiah Sukses

Fimela Editor diperbarui 17 Apr 2012, 08:59 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Iseng dan coba-coba, sampai jatuh cinta…

“Awalnya nemu karena iseng. Waktu itu lihat majalah fashion ada papper cutting sederhana, kayaknya bagus. Kebetulan juga mau nyiapin kado untuk keponakan yang ulang tahun. Ya sudah, saya coba bikin. Background saya kan arsitek yang selama kuliah sudah terbiasa menggunakan cutter untuk membuat tugas-tugas maket bangunan,” ungkap Dewi.

Percobaan iseng-isengnya itu ternyata diminati teman-temannya. Pesanan mulai datang dan akhirnya Dewi terpikir untuk menjadikannya bisnis kecil-kecilan pengisi waktu luang sepulang kerja, apalagi lewat pesanan demi pesanan itu hobi dan minat Dewi pada seni bisa tersalurkan. Maka dibuatlah Cutteristic. Mulanya pesanan datang dari orang-orang sekitar, lalu Dewi membuat Facebook dan website untuk melebarkan jaringan, dan caranya itu terbukti efektif membuatnya cukup dikenal publik.

Hobi akan tetap jadi hobi…

Ketika ditanya apa Dewi berencana menjadikan Cutteristic sebagai profesi, dengan tegas Dewi menjawab, “Nggak. Dasarnya ini hobi. Tujuan buat jadi massal pun enggak, karena sebenarnya pendekatannya lebih ke arah seni, jadi nggak bisa dibuat massal, apalagi dikejar-kejar waktu. Harus sesuai mood. Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer nggak ambil. Saat ini kebanyakan mengerjakan karya-karya yang konsepnya dari customer, ke depannya saya ingin karya Cutteristic yang lebih mengedepankan karya yang konsepnya dari saya sendiri.”

Biarlah ini menjadi karya eksklusif…

Semua orang punya impian karyanya dikenal publik dan banjir pesanan, tapi sebaliknya dengan Dewi. Dewi justru menghindari Cutteristic jadi boom dan jadi pesanan massal. Pasar Dewi yang terbatas di lingkungan sekitarnya memang mulai makin terbuka sejak ia membuat Facebook dan website, tempat Dewi memajang seluruh karyanya. Tapi, ia sudah merasa cukup terekspos dengan 2 media itu. Walaupun punya akun Twitter, Dewi mengaku tak terlalu aktif, apalagi kalau bukan karena ketakutannya jadi boom. “Memang sengaja lewat Facebook. Twitter ada, tapi saya nggak terlalu aktif. Selain lewat media online ya mouth by mouth saja. Kalau terlalu boom yang saya takutkan nantinya jadi massal. Dulu saja customer nemu-nya dari Facebook, sekarang sudah mulai banyak yang memang sengaja search Cutteristic atau Dewi Kucu. Publik sudah mulai aware.”

Pembatasannya itu beralasan. Kembali lagi ke konsep awal Dewi, bukan bisnis yang lebih ia utamakan, tapi seni. Dan seni akan hilang makna kalau akhirnya diproduksi secara massal tanpa passion dan asal-asalan demi memenuhi target. "Dulu ada yang contact tahu-tahu, lewat website. Pesan untuk ulang tahun Tomy Winata. Pemesannya cuma bilang dia (Tomy Winata) shio-nya anjing, terus dikasih fotonya. Sejak menyelesaikan Cutteristic untuk dia, hampir tiap hari ada saja pesanan yang dikerjain.

3 dari 4 halaman

Next

Cutter, ibarat soulmate

Cutter. Itu soulmate saya. Kalau orang mikir saya mengerjakan paper cutting dengan cutter pen, mereka salah. Saya pakai cutter biasa. Lebih ergonomis dan nyaman dipakai. Saya punya 8 cutter, macam-macam warna. Kalau pakai yang itu-itu terus kan, bosan. Tapi, ada satu yang jadi favorit dan belum terpikir ganti kalau belum nemuin yang lebih nyaman dari itu. Ada yang nitip dari teman yang ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada cutter minta dibeliin. Nggak semua dipakai juga, karena ternyata nggak nyaman dipakainya,” tutur Dewi bersemangat.


Tekun, kunci sukses menaklukkan hal baru…

Pertama, kebetulan melihat paper cutting sampai benar-benar jatuh cinta. Kedua, di Vinoti Living, sebelum bergabung dengan Sunpride, kebetulan kamera yang biasa digunakannya untuk memotret rusak, sehingga tiba-tiba perusahaan memberikan sebuah kamera SLR dan mempercayakan pembuatan katalog produk Vinoti Living kepadanya. Benarkah Dewi memang punya background atau hobi fotografi? Ternyata tidak. "Itu karena dipercayakan kamera SLR sama perusahaan karena kamera pocket yang biasa saya gunakan untuk motret home accessories mendadak rusak. Jadilah pakai kamere SLR itu saya diminta membuat katalog produk. Dari 2 katalog pertama yang hasilnya kurang memuaskan, saya belajar untuk menghasilkan yang lebih baik, da sekarang sudah menghasilkan lebih dari 10 katalog dan 2 majalah dengan standar seorang fotografer profesional," jelas Dewi.

Dasarnya Dewi senang mempelajari hal baru dan antusias mencari tahu hal-hal yang asing dan unik. Sebelum terjun ke dunia paper cutting, atau sebelum jadi fotografer dadakan sampai akhirnya sangat menguasai pekerjaannya, Dewi juga sudah nekat sejak awal masuk kuliah. Lihat saja, tanpa keahlian menggambar, Dewi sangat tertarik desain grafis. Tapi, dengan dukungan keluarga, akhirnya ia memilih arsitektur, yang cukup dekat dengan desain grafis, karena tak diterima di sana, dan berkutat di dunia barunya sampai lulus sebagai salah satu lulusan terbaik. Setelahnya, bukannya menekuni bidang yang memberinya gelar sarjana, Dewi malah berkarier sebagai Creative Designer dan Fotografer, melanjutkan passion-nya yang sempat tertunda, lagi-lagi tanpa background pendidikan yang mendukung.

"Selama kuliah saya sudah menyukai home accessories sehingga ketika lulus kuliah, saya memutuskan untuk nggak berkarier di bidang arsitektur karena sudah menargetkan untuk masuk Vinoti Living sebagai tempat kerja pertama, ujarnya.

Meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu perlu…

Pekerjaannya membuat Dewi menghabiskan pagi hingga sore di kantor. Malam harinya sudah pasti ia akan berkutat dengan paper cutting, bahkan sampai subuh kalau ada pesanan yang harus segera diselesaikan. Begitu setiap hari. Tapi, wajib bagi Dewi menyisakan satu hari untuk kehidupan sosial. “Weekend saya lebih utamain untuk social life, tapi kalau ada deadline pekerjaan biasanya saya tetap sempetin untuk kumpul-kumpul sebentar, baru kembali lagi ke kerjaan. Biasanya kan, saya memang baru mulai kerjain paper cutting itu malam, jadi pagi sampai sore free. Sabtu biasa diisi dengan kegiatan gereja sekaligus bersosialisasi dengan teman-teman gereja, lalu Minggu sore spare waktu untuk social life dengan teman-teman di luar gereja, setelah kebaktian pagi."

4 dari 4 halaman

Next

Belajar bisa dari mana saja, termasuk lewat lagu…

Mengaku tidak punya hobi lain selain paper cutting karena waktunya sudah habis berkutat di sana, Dewi ternyata penyuka musik China. Bukannya tanpa alasan, lewat lagu China-lah Dewi memperdalam kemampuan berbahasanya. “Dasarnya saya suka belajar bahasa macam-macam, termasuk bahasa China. Teman-teman, sparing partner buat ngomong China-nya jarang, susah, jadi mau nggak mau belajar lewat lagu. Lainnya ada juga, musik instrumen Bali, Yanni, juga Bond dan Maxim.”

Punya impian memamerkan seluruh karya…

Bagi seorang artis, tak ada yang lebih istimewa selain bisa mewujudkan mimpi untuk memamerkan seluruh karya ke ruang publik. Itu juga yang jadi mimpi Dewi Kucu, “Saya punya target suatu saat bisa memasang karya-karya saya ke ruang publik. Pikiran ada, cuma belum sempat bikin. Terakhir ini saya coba menggabungkan Cutteristic dengan origami, contohnya karya yang saya beri judul ‘Everlasting Rose’. Next, saya bakal mengerjakan origami ikan koi. Ada pesanan 88 koi dari origami digabungkan paper cutting.” Sampai saat ini, perempuan yang mengaku mendapat inspirasi dari alam dan batik ini sudah menghasilkan lebih dari 50 buah karya yang tersebar di berbagai tempat.

Berbagi skill ke orang lain, kenapa tidak?

Selain berpameran, Dewi juga punya impian bisa membagi keahliannya bermain kertas kepada orang lain. “Kalau buat mencari bibit-bibit baru kenapa nggak. Karena passion-nya juga untuk menginspirasi publik kalau barang sederhana tuh bisa jadi sesuatu yang WOW. Targetnya adalah bagaimana generasi yang sekarang ini bisa lebih explore, ini kan sebenarnya materi yang sangat sederhana, tantangannya adalah bagaimana kita bisa create something dari bahan yang very simple, gitu. With the touch of skill, bisa jadi satu karya yang bikin orang lain terpesona.”