Prestasi Pribadi Buat Teman Menjauh, Apa yang Salah?

Fimela Editor diperbarui 05 Sep 2012, 12:00 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Beragam komentar tajam makin banyak kita dengar seiring dengan makin sejahteranya kehidupan kita. Terkadang, hal ini yang justru membuat tak tahan dan memilih menjadi “biasa-biasa saja” dengan pencapaian seadanya tapi aman dan nyaman tanpa hadiah cibiran orang di sekeliling.

“Jadi menonjol itu lebih banyak ruginya karena orang lain akan menganggapku sebagai saingan, bukan teman. Kalau dikasih pilihan, aku lebih suka jadi biasa saja dan punya kehidupan yang tenang. Jadi sahabat semua orang dan saling support,” Mel (26 tahun, writer) angkat bicara.

Jangan panik dan buru-buru mengambil keputusan mundur atau berhenti move on, kenapa tak anggap mereka hanya iri pada diri kita yang jauh lebih beruntung daripada mereka? Bahkan, ketika orang yang berubah sikap dari mendukung jadi menikung itu adalah sahabatmu sendiri. “Pada dasarnya paling susah memang membedakan masukan mana yang baik dan mana yang menjerumuskan. Ya, nggak?” ungkap Novi (24 tahun, mahasiswi). Sambungnya, “Sahabatku di depan menasihati ini-itu, eh di belakang menjadikanku bahan gosip. Rasa sakit hati ini kutunjukkan dengan pembuktian kalau aku memang bisa lebih dari dia dalam segala hal. Cuma satu yang membuat aku kalah darinya, dia bisa bermuka dua sementara aku apa adanya.”

3 dari 3 halaman

Next

Kekurangan adalah sasaran utama, bahan untuk menjatuhkan mental kita. So, ketika ada di posisi ini cukup diam dan menjauh. Tak perlu membalas dengan tindakan apa pun selain stay cool dan tetap berusaha bersikap wajar. Tunjukkan kita berbeda “kelas” dengannya, dan apa pun yang dikatakannya tak memberi pengaruh apa-apa di kita. “Sikap sok cuek cukup kamu perlihatkan di depannya, tapi jangan lupa rekam apa pun yang dia atau mereka lontarkan tentangmu, terutama hal negatif. Bukan sebagai bahan merendahkan diri ataupun bahan untuk membalas omongan buruknya, tapi untuk introspeksi diri. Kelemahan dan kekuranganmu yang dengan sukarela ia tunjukkan justru bisa jadi ‘senjata baru’ untuk jadi lebih baik lagi dan makin maju. Secara tak langsung, dia malah membantumu eksis, kan?” saran Anti, mahasiswi pascasarjana Jurusan Developmental and Educational Psychology di Institute of Education University of London.

Kalau tujuan utamanya menjatuhkan mental dan kepercayaan dirimu, kemudian melihatmu jatuh, jangan pernah biarkan itu terjadi. Fokus saja pada apa yang sedang kamu lakukan dan terus berusaha maju. Tak perlu takut salah sehingga muncul omongan negatif lainnya tentang dirimu. Yang lebih penting adalah proses belajar, bukan hasil. Jika proses belajarmu di tengah banyaknya hambatan itu berjalan maksimal, hasil baiknya pun tinggal kamu petik.

Berprestasi, menonjol, dan disukai banyak orang adalah hak, kado istimewa atas sebuah usaha, dan siapa pun tidak berhak memintanya darimu, kecuali menciptakan keberhasilan mereka sendiri. Setuju?