Vemale.com - Diceritakan kembali oleh: Agatha Yunita
Dahulu kala, singa adalah hewan yang didaulat menjadi raja hutan dan sangat dihormati. Di bawah kepemimpinannya, hutan sangat tentram dan damai. Namun, adalah seekor kancil, yang angkuh dan iri hati. "Ah, kenapa sih harus singa yang menjadi raja, padahal akulah yang jauh lebih pantas dari dia," katanya sombong. Tupai pun berceletuk, "bukannya sudah jelas kalau Singa sangat kuat dan bijaksana, tentu saja ia lebih pantas jadi pemimpin," protesnya. Si kancil masih saja tetap tak terima, namun ia berlalu dengan keangkuhannya.
Kancil pun menyusuri hutan dengan hati geram, "masa sih tak ada yang mau mengakui kalau aku lebih cerdas dan pantas jadi pemimpin, huh!" gerutunya di dalam hati. Ia pun berlari menuju danau tempat biasanya penduduk hutan berkumpul. Di sana, ia sudah melihat para hewan bercengkerama mendengarkan wejangan dan cerita dari singa.
Dulu, sewaktu ia masih kecil, ia adalah salah satu pendengar setia singa. Dan ia begitu mengagumi singa, sampai suatu saat, setelah ia beranjak dewasa lama-lama timbul rasa iri di dalam hatinya. Kenapa ia tak bisa seperti singa ya? Kenapa semua hewan memuji singa, yang saat ini sudah tua, bahkan berlari kencang pun ia sudah tak mampu. Untuk apa punya pemimpin yang lemah seperti itu? Bagaimana kita bisa dipimpin oleh sosok yang tak lagi muda dan tak bisa bergerak gesit? Dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ia semakin iri pun berkembang hari demi hari. Mengakar di dalam hatinya dan membuat ia jauh dari kelompok.
"Wahai kancil, mengapa berdiam di situ saja? kemarilah bergabung bersama kami," teriak singa kepada kancil. Namun kancil sudah tak tahan. Tak ada yang bisa percaya padanya, bahwa ia lebih kuat dan cerdas dari singa. "Tidak!" teriaknya, "Aku tak mau bergabung dengan kau lagi. Aku tak mau dipimpin olehmu yang lemah dan sudah tua. Bahkan kau tak akan pernah bisa mengejarku sekalipun kau adalah singa yang terkuat," katanya. Para penduduk hutan pun langsung riuh, mereka tak terima jika pemimpinnya diremehkan. Maka, mereka pun membela sang pemimpin mereka. "Hah apa ini? apakah kalian mau mengeroyok aku?" kata kancil, sinis.
Dan hutanpun ramai saat itu, penduduk hutan berencana menyerang dan menghabisi kancil. Mereka geram akan kesombongan kancil. Bahkan badak pun sudah menyiapkan culanya yang runcing dan tajam. Elang menyiapkan cakarnya yang kuat dan siap mencengkeram. "Sudah, hentikan!" teriak singa. Seketika gemuruh emosi penduduk hutanpun berhenti. Mereka tunduk pada kepemimpinan singa dan terdiam menanti putusan dari pemimpinnya. "Baiklah kancil, sudah kuputuskan, mungkin aku tak akan bisa mengalahkanmu karena aku sudah tua. Aku akan menyerahkan tahtaku padamu, jika kau bisa memenuhi satu persyaratanku," kata singa dengan lantang dan bijaksana. "Apa, hanya ada satu persyaratan? Baiklah singa, apapun persyaratanmu aku sangat yakin aku bisa memenuhinya," kata kancil percaya diri.
Singa pun menjelaskan maksudnya. Ia ingin mengadakan lomba lari antara kancil dan siput, makhluk hutan yang terkenal paling lambat jalannya. Kancil diminta mengalahkan siput, dan jika ia menang dari siput, maka sang singa akan menyerahkan tahtanya. Tentu kancil tertawa penuh kemenangan di dalam hati, "hanya seekor siput? hewan yang paling lambat itu? ah jangan bercanda kau singa," katanya sambil terbahak-bahak. Penduduk hutan pun cemas, apa yang sedang ada di dalam pikiran pemimpin mereka ini, sehingga mengutus hewan yang paling lambat. Jangan-jangan pemimpin mereka sudah gila dan putus asa. Merasa tak bisa mengalahkan kecepatan lari kancil, dan akhirnya menyerah dengan membuat lomba konyol ini. "Sudahlah, tuan singa pasti punya rencana di balik ini," kata jerapah. "Tapi ini gila, sama saja dengan bunuh diri namanya!" timpal gajah. Namun apa daya, singa sudah memutuskan, dan lomba akan digelar keesokan harinya. Penduduk pun diminta pulang untuk bersiap menyaksikan lomba kancil dan siput.[break]
Keesokan harinya, kancil berjalan dengan angkuh menuju arena perlombaan. Ia sudah sangat percaya bahwa ia bisa mengalahkan siput, hewan lambat yang kecil dan penuh lendir itu. Sang singa pun berdiri di garis start, ia memberikan aba-aba pada kedua makhluk untuk segera bersiap di garis start. "Baiklah, silahkan berada di belakang garis start, dan segeralah berlari sekencang-kencangnya sampai ke garis finish," kata Singa. "Kau bole lari terlebih dahulu, siput" ejek Kancil yang masih bersantai sambil mengunyah mentimun. Siput pun mulai berjalan pelan, setelah berlalu 10 menit lamanya, kancil segera menyusul, ia berlari dengan segenap tenaga dan meninggalkan siput jauh di belakangnya. Ia berlari sambil mendongakkan kepala dengan angkuh. Dalam hati ia terkekeh, bisa-bisanya singa bodoh itu membuat lomba yang akan mempermalukan dirinya.
Tapi tunggu, apa itu di depan kancil? Ternyata ada siput yang sedang berusaha berlari, kancil terkejut. Bagaimana bisa siput berlari secepat itu. Tadi sepertinya masih ada di belakangnya, kenapa sekarang sudah kembali di depannya? Kancil semakin mempercepat langkahnya. Namun di depan sana, siput masih memimpin. Ia memang berusaha keras berlari dengan kelambatannya, namun berkali-kali kancil menyerobotnya, kenapa ia masih ada di depan?
Kancilpun tak mau berpikir panjang, ia terus lari sekuat tenaga menuju garis finish. Dan setelah ia melihat garis finish ia lega. Kemenangan ada di depan matanya. Ia akan berhasil kali ini!
Tanpa memperlambat larinya, kancil pun bergerak menuju garis finish, di mana ternyata siput sudah tinggal selangkah lagi menginjak garis. "Tidakkkkkkkkk" teriak kancil kebingungan. Ia tetap menerobos garis finish dan jatuh terjerembab menabrak pohon besar. Ia pun terluka dan jatuh pingsan.
Kancil membuka matanya, ketika terik sinar matahari menyusup dan menyinari wajahnya. Perlahan samar-samar ia melihat ada singa, siput, dan penduduk hutan lain di sekelilingnya. "Apakah kamu tak apa, kancil?" tanya sang raja hutan. Kancil pun mengerang kesakitan, "sakit sekali kepalaku." Ia pun berusaha berdiri dan menghadap singa. "Maafkan aku, aku kalah dari siput," ungkapnya sedih sambil menitikkan air mata. Ia mengakui semua kesalahannya, rasa irinya, dan mohon ampunan dari sang raja hutan agar ia tak diusir dari sana. Sang raja pun menyetujui keinginan kancil, dan memaafkannya. "Namun ada satu hal yang ingin kutanyakan, bagaimana bisa seekor siput mengalahkanku?" tanyanya penasaran. Singa pun terkekeh geli. Ia tak menjawab pertanyaan kancil dan berlalu pergi.
Siput pun tersenyum di dalam hati. Ia berhasil menjadi pahlawan hari ini, dielu-elukan banyak penduduk hutan yang selama ini meremehkannya. Namun ia tak sombong dan tetap menjaga rahasia antara dirinya, singa dan semua saudara kembarnya.
Ya, tepat sekali tebakan Anda. Siput dan singa memang bermain curang, mereka menaruh saudara siput di beberapa tempat sekaligus untuk mengelabui kancil dan semua penduduk hutan. Rencana mereka pun berhasil, kesombongan kancil berhasil dikalahkan.
Pesan Moral: jangan sekali-kali Anda meremehkan Tuhan, tentunya IA punya rencana untuk Anda dan Anda diminta untuk bersabar.
Jika Anda sudah memiliki banyak hal, jangan sombong dan iri hati. Kedua hal itu hanya akan membawa Anda pada kebinasaan. Karena kerendahan hati dan kesabaran adalah kunci dari kebahagiaan. (vem/bee)