Vemale.com - Cosmopolitan
Berani taruhan, hal pertama yang Anda lakukan kala mendapatkan kalender baru di awal tahun pastilah menghitung serta menandai tanggal merah dan hari kejepit yang ada tiap bulannya serta kemungkinan mengambil cuti. Ya, apalagi buat wanita karier yang super sibuk seperti Anda, liburan jelas merupakan suatu momen yang paling ditunggu. Dan ketika waktunya liburan hampir tiba, karena sudah tak sabarnya Anda terus saja berceloteh akan seperti apa menyenangkannya liburan Anda nanti kepada para kolega, sampai-sampai mereka bosan.
Namun ketika masa-masa bahagia itu sudah berakhir dan tiba saatnya kembali ke dunia nyata (baca: kantor), sindrom usai liburan pun mengambil alih. Jangankan bersemangat menghadap atasan untuk memberi ide-ide baru non inovatif, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu saja malas bukan main karena kerap terbayang masa-masa liburan. Sebenarnya, kenapa sih Post-Holiday Syndrome bisa terjadi?
Ternyata begini, ketika liburan Anda bisa bangun sesukanya dan bermalas-malasan seharian. Akibatnya Anda akan kehilangan ritme harian yang selama ini telah terpola, plus disiplin waktu. "Biasanya gejala dari kondisi ini adalah Anda akan mudah lelah, kehilangan konsentrasi hingga nafsu makan, mudah mengantuk atau justru tak bisa tidur, mulai tak peduli dengan hasil kerja Anda, sampai merasa kesepian," begitu kata Profesor Humbelina Robles Ortega, seorang peneliti dari Department of Personality, Assessment, and Psychological Treatment di university of Granada. Ini yang harus Anda lakukan kalau ingin terbebas dari sindrom yang mengganggu itu.
1. Liburan yang 'adil'
Jika Anda memiliki sisa cuti, katakanlah satu bulan, alih-alih mengambilnya sekaligus sebaiknya Anda bagi jadi beberapa periode. Mungkin bulan ini cuti dua minggu lalu sisa dua minggunya lagi bisa diambil nanti.
Kenapa: "Ini bisa mencegah rasa panik yang kerap datang kala Anda harus kembali bekerja. Selain itu perubahan kebiasaan yang terjadi juga tak akan terlalu permanen atau drastis sehingga Anda tak akan merasa trauma kala harus kembali bekerja," saran Profesor Ortega. Ingat, liburan yang berkualitas bukan dilihat dari lamanya Anda "menghilang" dari kantor, tapi dari lamanya Anda menghilang" dari kantor, tapi dari bagaimana cara Anda memanfaatkan waktu libur yang ada.
2. Pulang lebih awal
Mungkin Anda tak mau menyia-nyiakan waktu cuti uang ada. Akibatnya, jika tanggal D harus sudah berada di kantor, maka Anda akan mengambil pesawat paling malam di tanggal 4. Oke, ternyata lagi-lagi itu justru merupakan salah satu faktor pemicu stres di kantor, lho.
Kenapa: karena ternyata menyesuaikan diri lagi dengan rutinitas, semisal tidur lebih awal dan bangun lebih pagi, butuh waktu. "Untuk membantu adaptasi Anda pada rutinitas, yang paling baik adalah kembali paling tidak dua atau tiga hari sebelum masuk kantor," kata Profesor Ortega. Selama masa transisi itu, sebaiknya Anda berhasil memaksakan diri untuk mengenyahkan kebiasaan kala libur semisal tidur jam 4 pagi atau menikmati sesi selepas makan siang. Dijamin Anda tak akan 'kaget' harus bangun pagi ke kantor.
3. Perencanaan matang
Apakah Anda termasuk orang yang punya kebiasaan langsung menandai kapan tanggal merah dan memilih waktu yang tepat untuk mengambil cuti sejak awal tahun itu? Kalau jawabannya "ya", berarti ada kabar bagus buat Anda. Karena ternyata ini merupakan suatu tindakan yang bijaksana.
Kenapa: karena dengan begini, Anda akan melihat waktu bekerja dan bersenang-senang sebagai suatu siklus yang seimbang, Anda akan semakin semangat bekerja karena tahu usai kerja keras itu, Anda bisa berlibur. Jadi perasaan kalau bekerja keras tak bisa menghasilkan hal-hal menyenangkan akan hilang. Dan ternyata itu adalah penyebab utama Post-Holiday Syndrome. [initial]
Source: Cosmopolitan, Juli 2009, halaman 228
Provided by:
(Cosmo/bee)
(Cosmo/bee)
What's On Fimela
powered by