8 Kekhawatiran Dan Penawarnya

FimelaDiterbitkan 16 November 2010, 07:00 WIB
Vemale.com - Apa yang Anda khawatirkan saat ini? Atau, mungkin ada di antara Anda yang membuka hari dengan kekhawatiran dan menutupnya dengan kecemasan yang lebih parah. Berikut ada beberapa kecemasan yang kerap melanda kita semua, namun untungnya ada 'obat' untuk bisa sembuh dari perasaan negatif tersebut. Khawatir Dipecat Kenyataan: Dalam keadaan ekonomi yang tak menentu seperti zaman ini, tetap tidaknya penghasilan dan pekerjaan yang dimiliki merupakan hal yang masih tanda tanya. Seseorang bisa dengan begitu mudah merasa terancam dan ketakutan jikalau posisinya tiba-tiba digantikan orang lain, dan itu berarti dirinya....dipecat. Oh, tidak! Titik paling sensitif berlaku bagi Anda yang melihat teman dekat atau pernah mengalami sendiri pahitnya di-PHK. Apa yang harus dilakukan? Tetapkan diri untuk menjalani hidup dari sehari ke sehari. Cara ini merupakan cara yang paling manjur untuk mengurangi stres. Anda juga bisa melakukan usaha nyata untuk 'menyelidiki' aman-tidaknya posisi Anda di kantor. Temui bos dan mintalah evaluasi darinya, bagian mana yang mesti Anda tingkatkan. "Adalah sikap yang bijak pula untuk melihat jauh ke depan dan menerima setiap kesempatan yang bisa membawa karir Anda ke posisi yang lebih tinggi", ujar Robert Leahy, Ph.D., pengarang The WORRY CURE. Keselamatan anak-anak Kenyataan: Karena terlalu mencintai anak-anak, maka adalah hal yang wajar bagi seorang ibu jika memiliki keinginan untuk melindungi buah hatinya. Meski begitu, agak sukar memang bagi para ibu untuk menerima kenyataan bahwa mereka tetap tidak bisa mengontrol semua keadaan. Titik paling sensitif berlaku bagi Anda yang anaknya pernah mengidap penyakit serius atau jadi korban kecelakaan. Selain itu, kekhawatiran lebih parah bisa menimpa Anda yang memiliki latar belakang diabaikan saat masih kecil dulu. "Bagaimana bila nanti anak merasa diabaikan?" Apa yang harus dilakukan? Temui dokter anak dan ceritakan apa yang Anda rasakan. "Ingat, kebanyakan dokter yang memiliki anak pasti juga pernah mengalami kecemasan yang sama seperti Anda," ujar Susan Nolen-Hoeksema, Ph.D., penulis WOMEN WHO THINK TOO MUCH. "Jadi, berbagi cerita dengan mereka yang telah 'sembuh' dari rasa khawatir tentu bisa sangat membantu." Lalu bagaimana bila sang dokter tak terlalu banyak 'menghibur' Anda? Carilah dokter lain yang mau menunjukkan simpati. Untuk rasa khawatir yang tak berhubungan dengan kesehatan, misalnya seperti takut anak tidak naik kelas atau buah hati bermasalah di sekolah, maka coba tanyakan pada diri Anda apakah ada tindakan nyata yang bisa diambil untuk mengatasi situasi tersebut. Jika bertukar pikiran dengan terapis atau teman sesama orang tua bisa membuat Anda merasa lebih baik, maka lakukan. Cobalah setiap solusi yang Anda rasa mungkin dilakukan. Hanya, tetap mengingat bahwa hidup ini serba tak menentu juga bisa diambil sebagai pemikiran jaga-jaga bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Toh, anak harus jatuh dulu kan sebelum pintar naik sepeda? Khawatir bencana alam Kenyataan: Tak dapat dipungkiri bahwa beberapa tahun belakangan ini, tanah air kita selalu dirundung berbagai musibah yang tak terduga. Aksi teroris yang mencekam, gempa bumi, banjir, hingga musim hujan yang lebih panjang dari biasanya. Semua ini bisa membuat siapapun juga menjadi paranoid dan ketakutan. Titik paling sensitif berlaku bagi Anda yang pernah berada dalam situasi musibah tak terduga serupa. Trauma yang ada bisa membuat radar khawatir terus on. Apa yang harus dilakukan? Ambil waktu sejenak untuk memikirkan hal yang mungkin terjadi, misalnya adakah kemungkinan kota tempat tinggal Anda diserang teroris, atau terletak pada daerah rawan gempa? "Jika seseorang bisa membedakan antara fakta dan perasaan takutnya, maka dia baru bisa memiliki kekuatan untuk menghadapi realita yang ada," ujar Jerilyn Ross, pimpinan Ross Center bagian Anxiety & Related Disorders, Washington, D.C. Dengan kesadaran tersebut, melakukan persiapan juga perlu dilakukan. Tulis saja daftar hal-hal yang bisa membuat Anda dan hunian lebih aman. "Lalu, Anda bisa berkata: 'Oke, aku sudah melakukan segala hal yang aku bisa. Sekarang aku harus melanjutkan hidupku lagi'," tambah Ross. Jika Anda tetap saja khawatir, maka saatnya mencari bantuan. Khawatir kesehatan pribadi Kenyataan: Setiap orang khawatir akan sakit penyakit yang mungkin diidapnya, dan bagi yang sedang merangkak mendekati usia lanjut, Anda juga lebih sering mengeluh tentang tubuh yang terasa sakit pada bagian ini-itu. Titik paling sensitif berlaku bagi Anda yang pernah mendapati orang terdekat mendadak sakit atau meninggal akibat penyakit mematikan. Atau, bagi Anda yang pernah bermasalah kesehatannya, maka Anda pasti akan lebih concern tentang hal itu. Apa yang harus dilakukan? Lakukan check up secara teratur untuk mencari tahu apakah kesehatan Anda tetap baik-baik saja, dan jangan lupa terbuka pada dokter. Lalu, fokuskan diri pada hal positif yang bisa Anda lakukan, misalnya menjaga pola makan, dan gaya hidup sehat lainnya. Khawatir akan uang Kenyataan: Bahkan bagi seseorang yang paling kaya sekalipun bisa dikejutkan oleh kebakaran bank, kerugian usaha, hingga bangkrut mendadak. Titik paling sensitif berlaku bagi Anda yang tumbuh dalam kondisi di mana orang tua selalu merasa cemas akan keuangan. Di sisi lain, ada yang berpikir bahwa lebih banyak uang, maka akan lebih aman. Sedihnya ada juga yang mencari uang untuk mengisi kekosongan hati karena merasa kurang dicintai, kurang berkuasa, atau terlalu minder," ujar Edward Hallowell, M.D., pengarang WORRY. Apa yang harus dilakukan? Buat anggaran belanja dan lacak ke mana saja uang Anda mengalir. Dengan demikian Anda bisa tahu bagaimana kondisi finansial. Perlu juga untuk tiap pribadi mencari tahu apa arti uang sebenarnya? Apakah uang melambangkan kesuksesan, harga diri, atau hanya sekedar sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup? Satu hal yang perlu dihindari adalah membandingkan diri dengan apa yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, lihatlah ke 'bawah', maka Anda akan sadar betapa beruntungnya Anda. Khawatir tentang hubungan dengan seseorang Kenyataan: Hubungan antar manusia selalu penuh dengan tantangan. Titik sensitif berlaku bagi Anda yang pernah dikhianati, trauma diabaikan, atau tumbuh dalam keluarga broken. Apa yang harus dilakukan? Selidiki hubungan Anda dengan bertanya pada diri sendiri, seberapa sering Anda frustasi dan marah pada pasangan/ orang lain, dan dalam situasi bagaimana biasanya hal tersebut terjadi. Tuliskan pemikiran Anda, sebab menuangkan rasa cemas dalam sebuah kertas akan memudahkan Anda mengevaluasi dengan pikiran jernih. Renungkan seberapa masuk akalnya ketakutan tersebut, lalu carilah waktu yang tepat untuk membicarakan hal tersebut dengan orang yang bersangkutan. (vem/meg)
What's On Fimela