Jersey's Chanel

FimelaDiterbitkan 20 Oktober 2010, 07:00 WIB
Vemale.com - Bercerita tentang Gabrielle "Coco" Chanel - sang persona di balik kemunculan label asal Prancis ini, tentu tak akan lepas dari jersey suit karyanya yang mendobrak aturan mode. Jersey, materi rajutan lembut yang dahulu dijadikan sebagai materi pakaian dalam pria, diolah oleh tangan kreatif Coco Chanel sehingga bertransformasi menjadi salah satu bahan yang paling banyak digunakan oleh kreator mode hingga saat ini. Semua berawal dari pecahnya Perang Dunia I di tahun 1914. Terpaksa beradaptasi dengan situasi perang, Chanel berusaha untuk tetap eksis dalam dunia fashion meski tanpa modal yang berlebihan. Ia kemudian mengadopsi materi jersey menjadi bahan yang "layak” untuk digunakan sebagai busana luar wanita. Bahan jersey yang dikategorikan relatif tidak mahal, menjadi tepat untuk diangkat dalam kondisi perang yang serba sulit. Sebuah trik yang cerdas! Tak hanya revolusi dalam perkara bahan, Chanel pun merealisasikan materi jersey ke dalam ensemble yang terlihat modern. Kebebasan untuk bergerak jadi salah satu poin utama dalam rancangannya. Detail yang dahulu selalu muncul di setiap busana wanita, seketika ditiadakan oleh Chanel. Tak ada lagi korset ketat memeluk tubuh yang sebelumnya sangat populer. Hasilnya? Pada bulan Mei 1916, Chanel melansir sepasang jaket tanpa garis pinggang, beserta rok yang jatuh pada penengahan betis serta terbuat dari wool jersey. A simplfiied elegance! Penikmat mode pada saat itu langsung jatuh cinta pada siluetnya yang nyaman serta mudah dikenakan sehari-hari. “I make fashion women can live in, breath in, feel comfortable in and look younger in," begitu Coco Chanel pernah berkata. Dan memang tak dapat dipungkiri bahwa inovasinya telah membawa dunia mode ke dalam era ketika fashion kini menjadi sederhana, praktikal, dan tentunya wearable. [initial] Source: Cosmopolitan, September 2010, halaman 210 Provided by:
(Cosmo/bee)