Ghea Panggabean di Milan Fashion Week

FimelaDiterbitkan 14 Oktober 2010, 10:11 WIB
Vemale.com - Bagi perancang busana kenamaan Indonesia, Ghea Panggabean, 30 tahun berkarya di dunia fashion bukanlah waktu yang singkat untuk bisa tampil memperagakan rancangannya di kota mode dunia, Milan, Italia. Ghea yang intens memperkenalkan rancangannya dengan menggunakan bahan tradisional Indonesia saat perancang lainnya berkiblat ke Barat; Ghea yang masa mudanya dihabiskan di Eropa justru merasa bangga unjuk kebolehan di Roma dan Milan. Kain tapis dari Palembang dan jumputan menjadi khas dalam setiap rancangan Ghea. Seperti pada HUT RI ke-65 kemarin, Ghea diundang Mohamad Oemar, Dubes RI di Roma, Italia untuk tampil dalam acara resepsi HUT RI ke-65 dan sekaligus menggelar peragaan busana yang dikemas dalam The Splendour of Indonesia yang berlangsung di Hotel Sheraton, Roma pada akhir September lalu. Acara yang juga menyajikan kesenian dari alat musik Sasando yang dibawakan Nicodemus Tenis itu diharapkan akan meningkatkan citra positif Indonesia serta memperluas cakupan kerja sama bilateral Indonesia dengan Italia. Ghea bersama Ghea Fashion Studio berhasil memukau sekitar 500 orang yang hadir pada acara fashion show di Roma tersebut, di antaranya dari kalangan diplomatik, pejabat pemerintah, anggota parlemen, komunitas mode, pengusaha dan media massa. Baru-baru ini, di sela-sela penyelenggaraan Milan Fashion Week yang menjadi salah satu kiblat dunia mode di dunia, Ghea kembali menghipnotis kalangan dunia mode di Milan dalam peragaan busana yang menggunakan bahan dan motif tradisional Indonesia. General Manager Alta Roma, Asosiasi Mode dan Perancang Busana Italia, di Roma, Adriano Franchi, mengakui berbagai kain eksotik warisan budaya Indonesia yang dirancang Ghea Panggabean sesuai trend mode terkini dunia. Kain-kain eksotik ini dinilai unik dan berkualitas tinggi. Adriano Franchi, mengakui bahwa rancangan Ghea pantas menjadi menu utama pada Milan Fashion Week, pekan peragaan busana tahunan paling bergengsi bagi perancang mode papan atas Italia. Ghea Panggabean bersama Ghea Fashion Studio pada Agustus lalu menggelar peragaan busana pada acara yang diadakan yayasan Prince Albert Donadation di Monte Carlo. Di kota yang menjadi salah satu kiblat mode dunia itu, ibu dari dua gadis gembar yang sudah dewasa ini berhasil menarik perhatian dan mendapat sambutan meriah dari kalangan dunia mode. Counsellor Pensosbud KBRI Roma Musurifun Lajawa mengatakan Indonesia berusaha membidik pasar mode dunia melalui pagelaran busana dan budaya yang bertajuk Reinventing Heritage atau bisa diartikan "Menemukan Kembali Warisan Budaya Bangsa" di sela Milan Fashion Week-Italia itu. Dalam acara yang dikemas oleh Ghea Fashion Studio bekerja sama dengan KBRI Roma dan Kementerian Budaya dan Pariwisata RI ini, Indonesia berusaha memperkenalkan keunggulan karya perpaduan harmonis antara beragam kain sebagai warisan budaya Indonesia yang dirancang sesuai dengan tren industri mode dunia. Tahun lalu rancangan wanita kelahiran Heemraad-singel, Rotterdam, pada tahun 1955 ini juga ikut menyemarakan promosi Indonesia selama sebulan di megastore bekas milik Mohamad Al Fayet, Harrods, yang terlatak di daerah elit kota London. Dalam acara peragaan busana di Milan dan Roma, Ghea Panggabean juga berkolaborasi dengan seniman tari Martinus Miroto yang berhasil memukau undangan, bahkan banyak di antaranya harus rela berdiri untuk menyaksikan kolaborasi tari ini. Ghea Panggabean kepada koresponden Antara London mengakui bahwa ia sangat puas dengan seluruh acara. Menurut Ghea, hal ini berkat teamwork dan juga dukungan dari berbagai pihak yang menyukseskan acara ini. Ghea memperkenalkan glimpses of Indonesia yang kaya akan warisan budaya melalui journey into fashion, dance and culture. "Suatu kombinasi yang pas", ujar Ghea yang dalam acara peragaan busana itu juga menggelar pameran kain Heritage Textiles dari Rumah Pesona Kain. Tiga Daerah Dalam acara peragaan busana yang berjudul Reinventing Heritage tersebut, Ghea membagi dalam tiga bagian yaitu pertama bertemakan Spiritual Offering yang diawali dengan Tari Bali. Tari dibawakan oleh penari kenamaan Miroto dengan tari Barong lengkap dengan dupanya. Pada bagian pertama peragaan busana, Ghea menampilkan rancangan busana yang mengambil inspirasi dari kain Bali dan NTT. Peragawati kenamaan dari Indonesia yaitu Agisca Diyose, Nadine Chandrawinata, Paula Verhoven, dan Prinka Cassy, bersama para peragawati bermata biru dari Italia berhasil menyedot perhatian undangan dari berbagai kalangan itu. Pada bagian kedua yang bertemakan Spirit of Java, peragaan busana diawali dengan penampilan tari klasik Jawa yang dibawakan oleh Miroto dan penari Monique Basalamah. Busana yang ditampilkan terinspirasi dari busana klasik Keraton di Jawa. Sementara bagian ketiga, peragaan yang bertemakan Swarnadwipa diawali dengan tarian Gending Sriwijaya dari Sumatera Selatan. Pada sesi ini Ghea menampilkan busana rancangan yang inspirasinya diambil dari kain songket Palembang. "Ketiga tema yang ditunjang oleh multimedia itu menjadi satu kesatuan yang menarik sesuai dengan keinginan saya", ujar Ghea yang masa kecilnya berpindah-pindah tempat tinggal, mengikuti tugas sang ayah sebagai pegawai pajak yang menjadi diplomat. "Its wonderfull", ujar Nathalie Gavotti Di Castellaro, salah satu undangan yang merasa kagum dengan keindahan busana rancangan Ghea Panggabean yang dipadukan dengan penampilan tarian Spirit of Java oleh seniman tari Monique Basalamah dan Miroto. Acara yang digelar KBRI Roma bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini diawali dengan penampilan busana karya murid sekolah mode Accademia Internasionale d'Alta Mode e d' Arte del Costume, Koefia. Bianca Cimiotta Lami dari Koefia sangat surprise dengan acara peragaan busana yang dipadukan dengan penampilan kesenian tradisional Indonesia berupa tari tarian. "Very interesting", ujarnya. Cimiotta juga menambahkan bahwa ini adalah satu pertunjukkan yang unik dengan memadukan peragaan busana dan penampilan kebudayaan berupa tari tarian, dan ia merasa bangga bisa menjadi bagian dalam acara tersebut. General Manager AltaRoma Adriano Franchi mengaku tertarik dengan penampilan fashion show yang dipadukan dengan penampilan kesenian berupa tari tarian. "Suatu hal yang unik," ujarnya . Hal yang sama juga disampaikan Arturo Cerulli dari Comune di Monte Argentario, yang menjabat kepala daerah di kota pinggir pantai Italia. Pria yang beristrikan wanita Indonesia ini mengatakan ia berharap bisa mengadakan acara serupa di daerahnya. "Saya berharap bisa mempromosikan Indonesia di daerah kelahiran saya di Monte Artentario, salah satu daerah tujuan wisata di Italia," ujar Cerulli. Pagelaran di sela Milan Fashion Week di Milan ini sebelumnya juga sudah mendapat sambutan antusias tidak saja dari dunia industri mode tetapi juga dari berbagai kalangan dengan membeli langsung busana hasil rancangan Ghea. Dapat pujian Bahkan disela-sela penyelenggaraan Milan Fashion Week, Ghea mendapat pujian dari seorang fashion editor kenamaan dari majalah mode Collezioni Italy, Alessandro Ferrari. "Aku seneng mendengar dari dia bahwa fashion Indonesia bisa diterima untuk mata Eropa," ujar Ghea kepada koresponden Antara London saat menyaksikan kekaguman publik Italia akan karya anak bangsa Indonesia. "Ghea mengakui bahwa amat terkesan dengan spontanitas penonton Italia yang sangat antusias bertepuk tangan setiap ada performance yang mereka hargai," ujar Ghea saat menceritakan kejadian unik di belakang layar. Ghea bercerita, saat peragaan busananya di Milan, ia sempat duduk di kursi belakang untuk melihat efek shownya, dan di sebelahnya ada yang berkomentar. "Kok saya tidak pernah dengar ya tetang designer ini, begitu bagus terjemahan budaya dalam interpretasi fashion yang sangat masa kini dan modern... ini orangnya penuh soul...penjiwaan," ujar Ghea menirukan komentar orang Italia. Tidak tahan, Ghea yang menguasai lima bahasa secara aktif, yakni Belanda, Jerman, Inggris, Indonesia, dan Perancis pun memperkenalkan diri dan mengakui bahwa dialah yang menjadi perancang busana yang sedang ditampilkan itu. "Kami sama-sama tertawa dan mungkin dia pikir aku masih designer muda," ujar Ghea yang tidak menyangka kalau yang memberikan komentar itu ternyata Alessandro Ferrari. Dutabesar RI untuk Roma, Mohamad Oemar merasa bangga dengan keanekaragaman kekayaan budaya termasuk fashion dengan menampilkan karya Ghea Panggabean yang tampil di sela-sela Milan Fashion Week di kota Milan, Italia tersebut. Dikatakannya Ghea Panggabean merupakan salah seorang desainer terkemuka Indonesia yang berkecimpung selama 30 tahun di dunia mode dengan berbagai koleksi rancangannya dan tetap konsisten untuk mengangkat berbagai budaya etnis Indonesia. Dubes mengharapkan dengan digelarnya peragaan busana rancangan Ghea Panggabean ini, industri fashion Indonesia akan meningkat. Menurut Musurifun Lajawa, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk merintis masuknya mode busana berkelas dari Indonesia ke salah satu pusat mode dunia yang diharapkan akan dapat mendorong masuknya arus wisatawan Italia ke Indonesia. "Peragaan busana dari Indonesia malam ini sangat profesional, mulai dari perpaduan harmonis antara busana eksotik dan modern yang ditampilkan para peragawati terlatih hingga tari-tarian yang anggun, serta pengaturan panggung, pencahayaan, suara dan acara yang apik," ujar Bianca Lami, Direktur Hubungan Internasional pada KOEFIA, sekolah tinggi mode tertua di Roma. "Penataan ruang pamer dengan jajaran baliho ukuran besar, yang menampilkan foto dan contoh berbagai jenis kain tenun dan pakaian khas daerah sebagai warisan kekayaan tradisi dan budaya Indonesia, membantu memberikan pemahaman yang utuh kepada para pengunjung mengenai tema Reinventing Heritage yang diusung pada acara peragaan busana ini", lanjut Lami. "Malam ini sungguh menggembirakan menyaksikan sambutan masyarakat Italia di Roma yang sangat antusias terhadap karya rancangan saya," ujar Ghea yang berminat membuka butik Indonesia di Milan. Ghea mengharapkan para perancang busana muda di tanah air untuk tidak henti-hentinya menggali dan mengembangkan kekayaan budaya bangsa. "Saya sudah 30 tahun berkecimpung di dunia mode tetapi setiap kali menggali kekayaan bangsa dalam bidang kain dan mode, saya selalu menemukan sesuatu yang baru," demikian ungkap Ghea Panggabean. (ant/miw)
What's On Fimela