Mengolah Keindahan Kain Minahasa

FimelaDiterbitkan 01 Juli 2011, 16:00 WIB
Vemale.com - Sejalan dengan misi menghidupkan kembali kain khas Sulawesi Utara ini, bekerjasama dengan ISBSU (Institut Seni Budaya Sulawesi Utara) yang diketuai oleh Dr Benny J Mamoto, keduanya tergerak untuk menghidupkan dan melestarikan kain Minahasa. Terutama masuknya budaya Barat yang dibawa orang–orang Eropa membuat keelokan kain Minahasa ini mulai kurang diminati. Resmi berdiri di tahun 2008, ISBSU telah melakukan berbagai aktivitas pelestarian budaya yang meliputi beragam bidang seni, seperti musik dan Tari. Kegiatan kemudian berkembang selangkah lagi dengan memberikan perhatian pada kain tradisional yang telah punah. "7 record dunia, terlahir dari Sumatera Utara, dari keindahan alam, kain, seni kain, musik hingga kuliner,banyak potensi yang bisa digali, dan salah satunya dengan terciptanya Guinness World Records melalui Kain tenun terpanjang, dengan record panjang 101m," ucap Dr. Benny J Mamoto dalam sambutannya malam itu. Benny juga menambahkan sedang dalam proses kerja sama dengan pihak Ilmu pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia untuk kembali menciptakan record '12 ribu Pemain angklung', yang akhir tahun ini akan segera terlaksana. Langkah pelestarian kain tenun Minahasa diwujudkan dalam bentuk menciptakan kembali kain tenun Minahasa dalam olahan motif baru yang dikerjakan dari mulai bentuk benang sutera, menjadi kain tenun sampai rancangan busana masa kini oleh Thomas Sigar. Selain kain tenun sutra, motif olahan baru juga dipindahkan menjadi motif cetak tangan di atas bahan sifon atau sutera. Dalam tajuk 'The Enchanting Culture of Minahasa', malam pagelaran ini mempersembahkan kain tenun sutra bermotif patola dan motif patola cetak tangan di atas sifon dan sutra. Sebagai konsultan artistik PT BBC, perancang Thomas Sigar mengaplikasikan kain tenun dan motif patola itu menjadi rancangan–rancangan busana masa kini bernapas etnik modern. Kain patola adalah kain yang ditenun di atas sutera dan sifon, konon kain patola disakralkan masyarakat MInahasa karena corak motifnya yang bersegi geometris dan teratur dianggap mirip dengan bentuk sisik ular. Berdasarkan riset kain patola merupakan alat pembayaran dalam perdagangan di antara suku–suku di Indonesia Timur, hingga keindahannya berpengaruh dalam ragam hias kain tenun berbagai suku. Percampuran motif pada zaman dulu lazim terjadi seperti terlihat pada kemiripan motif kain kain yang terdapat di kawasan Indonesia Timur. Sebelum abad 19, masyarakat Minahasa memiliki kain tenun bernilai tinggi karena keunikannya. Ketika itu dikenal ada dua jenis kain khas Minahasa yaitu kain tenun Ikat bentenan dan kain tenun dengan sistem sungkit (songket), yaitu Pinatikan. Penenunan songket pinatikan memiliki benang timbul pada permukaan kain yang lebih mirip tenun Jalin Tapestri (Tapestry Weaving). Dalam gaya ethnic dan modern, motif patola menjadi highlight peragaan bertajuk 'The Enchanting Culture of Minahasa'. Ragam hias yang hadir dalam bentuk komposisi berulang dan teratur mirip sisik ulat atau ditata meliuk mengikuti gerak binatang melata, baik di atas kain tenun sutra maupun sebagai motif cetak tangan di atas sutra dan sifon. Untuk menggambarkan pengaruh kain India pada kain tenun Minahasa olahan baru ini, Thomas Sigar menggarap kain–kainnya menjadi busana bergaya India, yang dicampur dengan pengaruh animisme dengan dominasi warna coklat kayu, hijau pupus dedaunan dan abu–abu batu–batuan. Peragaan menampilkan 25 busana wanita dan pria dalam gaya sehari–hari sampai malam, yang dipresentasikan dalam alur peragaan bersuasana mulai horizon matahari terbit sampai tenggelamnya sang mentari. Koleksi dibuka dengan 13 rancangan busana wanita dan pria di atas bahan sutera dan sifon bermotif patola cetak tangan. Gaya rancangan tampil melambai dengan sentuhan siluet jelabah dan di sana sini diperindah teknik draperi. Sentuhan alam dan animisme diungkap lewat unsur tasel dan tali panjang yang diibaratkan akar pohon sebagai detil. Babak penutup menghadirkan 12 rancangan busana wanita dan pria dengan menggunakan Kalwu (Artinya 'Kain tenun' dalam bahasa Minahasa) bermotif Patola, Pinawetengan, Pinatikan dan Tembega. Dalam two pieces ataupun gaun terusan, busana indah dengan sentuhan wastra khas Minahasa ini begitu apik diciptakan dengan hiasan batu, permainan rumbai benang yang melambai indah mempercantik, menciptakan estetika visual yang sempurna. Aksesoris berukuran besar yang dikembangkan dari motif kuno sampai lambang–lambang tradisional hadir dalam bentuk anting panjang, tusuk konde besar dan kalung bernuansa animisme. (vem/ana/bee)
What's On Fimela