Oleh: Agatha Yunita
Usiaku tak berbeda jauh dengan kakakku, hanya terpaut dua tahun. Kami cukup akrab sejak kecil, namun menginjak sekolah menengah, kami mulai jauh.
Ia sibuk menikmati kepopuleran karena kecantikannya. Memang sih, kuakui ia sangat supel dan cantik. Aku seringkali bermimpi menjadi dirinya. Tenar, dikagumi, dan pastinya banyak pria yang naksir. Tak terhitung berapa banyak hadiah yang ia boyong pulang setiap hari dari para pria itu. Tujuannya, agar bisa mendapatkan hati kakakku. Beruntung sekali ia, bisikku dalam hati.
Aku sendiri tak sepopuler dia, tidak populer sama sekali malah. Wajah kami cukup berbeda, dengan postur tubuh yang sangat berbeda pula. Terkadang teman-teman kakakku dan temanku saja tak percaya kalau kami bersaudara. Dan begitu pula dengan teman laki-lakinya yang kemudian mengurungkan keinginan berkenalan dengan aku. Mungkin, mereka berpikir aku akan secantik kakakku. Dan... ternyata tidak, dan mereka kecewa.
Sejak kecil aku hanya memiliki tiga orang sahabat. Kami sudah bersama dari taman kanak-kanak, dan bersekolah di sekolah yang sama. Kami berjanji tak ingin terpisah.
Suatu hari, aku dan kakak dikirim ke rumah nenek di luar kota. Dengan penuh semangat, kamipun menikmati perjalanan itu. Namun, baru sekitar 1 jam jaraknya dari kota tempat tinggal, bus kami mengalami kecelakaan. Aku bersyukur, aku dan kakakku selamat dan hanya mengalami lecet-lecet saja. Kamipun dievakuasi keluar dari bus oleh penduduk setempat, dan dikumpulkan di pinggir jalan menunggu bantuan datang.
Desa itu tergolong sepi, dan tak ada rumah sakit di sana. Kami terpaksa menghubungi polisi dan ambulans yang bisa menjemput kami ke kota. Untungnya masih ada signal handphone di sana. Mengusir kebosanan, kakakku memfoto luka kecil di kakinya dan memposting ke facebook.
Tak menunggu lama, ponselnyapun ramai oleh notif dari facebooknya. Menanyakan bagaimana kejadiannya, di mana, dan bagaimana keadaannya. Aku melirik ke ponselku sendiri, sunyi dan sepi. Sekalipun aku mengabarkan lewat status facebook bahwa kami mengalami kecelakaan dan tengah menunggu bala bantuan.
Aku hanya memandang nanar ke depan. Andai aku sepopuler kakak, pastinya sudah banyak juga orang yang mengkhawatirkanku.
Sejam kemudian, ambulans masih tak kunjung datang. Kami sudah bosan menunggu dan khawatir beberapa korban yang terluka akan terlambat mendapatkan pertolongan.
Beberapa menit kemudian kudengar bunyi sirene dari kejauhan. Beberapa ambulan datang dipimpin sebuah mobil yang kukenal. "Kak, itu Tasya, Arini, dan Fay," jeritku kegirangan.
Ternyata, membaca status di Facebookku mereka langsung membawa bala bantuan, menjemput kami ke lokasi tanpa menunggu lama. Mereka memang tidak membalas status di Facebookku, mereka langsung datang karena mengkhawatirkanku. Mereka tak mengobral kasihan di depan orang-orang, atau berbasa basi menanyakan keadaanku, mereka benar-benar ingin tahu dan menolongku, sahabatnya.
Sejak kejadian itu, aku sadar. Pemikiranku selama ini salah. Kepopuleran, paras ayu, belum tentu membuatku tahu bagaimana sahabat sejati itu. Ketulusan sahabat benar-benar teruji saat mereka ada di saat kau membutuhkan mereka. Mereka akan berusaha memberikan waktunya untukmu, di saat senang, maupun saat kau kesusahan.
(vem/bee)