13 Mitos Salah Tentang Makan

Fimela pada 06 Sep 2013, 00:01 WIB

Pernah dengar anjuran ini, “Jangan makan buah sebelum makan nasi”, “Belum makan namanya kalau belum makan nasi”, atau “Jangan terlalu sering makan jambu biji nanti kena usus buntu”? Menurut Anda itu mitos atau fakta?

Banyak mitos tentang makan yang masih hidup dan terus berkembang di masyarakat kita. Mulai dari yang masuk akal hingga yang terdengar aneh. Apakah fakta sebenarnya di balik mitos tersebut?

Simak penjelasan Vemale berikut.

(vem/aik)
2 dari 14 halaman

Mitos: Belum makan kalau belum makan nasi

(c) shutterstock

Mitos: Belum makan kalau belum makan nasi

Fakta: Ubah pola pikir Anda tentang definisi makan mulai saat ini! Nasi adalah salah satu sumber karbohidrat, namun bukan satu-satunya.  Makan mi, singkong, kentang, jagung, ubi, atau roti juga sumber karbohidrat yang artinya perut Anda sudah cukup kenyang tanpa nasi.

Terlalu banyak karbohidrat terutama nasi yang mengandung gula paling tinggi disanding sumber karbohidrat lainnya justru akan membuat Anda berisiko terkena diabetes. Variasikan karbohidrat Anda agar hidup lebih sehat!

3 dari 14 halaman

Mitos: Anak sehat = banyak makan dan gemuk

(c) shutterstock.com

Mitos:  Anak sehat, anak yang banyak makan dan gemuk

Fakta: Anak dengan postur tubuh yang padat sampai cenderung gemuk seringkali menjadi tolok ukur tingkat kesehatan anak di masyarakat.  Anggapan itu sebenarnya sudah kuno! Jadi jangan lagi ikut berlomba-lomba memberi makan anak sebanyak-banyaknya biar cepat gemuk dan dianggap sehat. Anak gemuk mungkin saja memang sehat, tapi  belum tentu anak yang tidak gemuk itu tidak sehat.

Anak yang terlalu gemuk justru berisiko terkena banyak penyakit. Di antaranya, obesitas, diabetes, napas pendek, kurang aktif bergerak, terhambatnya pertumbuhan tulang, dan risiko penyakit lainnya. Makan saja secukupnya, yang perlu diperhatikan adalah asupan nutrisinya.  Anak tidak gemuk, namun pertumbuhannya sesuai dengan tahapan perkembangan, itu berarti anak Anda cukup sehat.

4 dari 14 halaman

Mitos: Karbohidrat itu menggemukkan

(c) shutterstock.com

Mitos:  Karbohidrat itu menggemukkan

Fakta: Bukan nasi, roti, pisang atau singkong yang membuat gemuk, tapi jumlah nasi yang Anda konsumsi yang tidak diimbangi dengan olah raga, aktivitas, dan kurangnya keseimbangan dalam komposisi makanan yang menyebabkan  kegemukan.

Makanlah karbohidrat secukupnya. Kalori yang dihasilkan oleh karbohidrat merupakan sumber energi yang penting untuk aktivitas sehari-hari. Variasikan juga asupan karbohidrat dengan berbagai bahan makanan, seperti singkong, ubi, jagung, pisang, sukun dan lainnya, selain nasi.

5 dari 14 halaman

Mitos: Makan buah salak memicu sembelit

(c) shutterstock

Mitos: Makan buah salak memicu sembelit

Fakta: Salak bukan penyebab sembelit! Justru seratnya yang tinggi akan membuat Anda mudah buang air besar. Faktanya, jumlah asupan serat akan makin tinggi, jika salak dikonsumsi beserta kulit arinya, yang pada umumnya justru dikupas dan dibuang.

Salak baik untuk dikonsumsi, selain karena sarat serat juga sebagai sumber vitamin C.

6 dari 14 halaman

Mitos: Makan malam bikin kegemukan

(c) shutterstock

Mitos: Makan malam menyebabkan kegemukan

Fakta: Makan di malam hari akan membuat Anda gemuk jika terlalu banyak asupan kalori yang Anda konsumsi, sementara aktivitas di malam hari sebagian besar diisi dengan tidur. Hasilnya, Anda akan menambah timbunan lemak di dalam tubuh akibat metabolisme yang melambat akibat minimnya aktivitas di waktu malam.

Faktanya, makan di malam hari perlu dicermati. Pilihlah makanan yang rendah kalori dan tinggi serat, seperti sayur dan buah. Hindari nasi dan gorengan! Jika harus karbohidrat pilih kentang atau ubi rebus.

7 dari 14 halaman

Mitos: Makan buah sebelum makan nasi = sakit perut

(c) shutterstock

Mitos: Makan buah sebelum makan nasi memicu sakit perut

Fakta:  Menurut para peneliti, sebenarnya makan buah paling baik ketika perut sedang kosong. Karena ketika buah bercampur dengan makanan lain, maka makanan  justru akan membusuk lalu menghasilkan gas  sehingga bisa menyebabkan kembung. Namun, makan buah bisa kapan saja, sesuai kondisi tubuh Anda. Jika Anda tidak memiliki masalah lambung, makan buah sebelum makan justru akan memberi hasil terbaik karena nutrisi buah akan terserap tubuh.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan, makanlah buah sebelum makan, agar perut terasa sudah kenyang, sehingga akan mengurangi porsi makan. Nah, jika Anda punya sakit lambung seperti maag atau radang lambung, makanlah buah sesudah makan agar tidak memicu produksi asam lambung dan pilihlah buah yang manis.

8 dari 14 halaman

Mitos: Makan nanas menyebabkan ibu hamil keguguran

(c) shutterstock

Mitos: Makan nanas menyebabkan ibu hamil keguguran

Fakta: Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan nanas menyebabkan keguguran. Justru buah nanas adalah sumber vitamin C yang sangat baik untuk memelihara daya tahan tubuh. Selain itu, nanas mengandung enzim yang dapat memecah protein makanan sehingga mudah terserap tubuh.

Ibu hamil sebaiknya memilih nanas yang sudah matang dan manis sehingga tidak menyebabkan tingginya produksi asam lambung.

9 dari 14 halaman

Mitos: Gula adalah musuh utama diabetes

(c) shutterstock

Mitos: Gula adalah musuh utama diabetes

Fakta: Tinggi kadar gula dalam darah memang penyebab diabetes. Namun bukan berarti gula adalah penyebab satu-satunya diabetes. Banyak faktor yang bisa membuat seseorang sakit diabetes. Seperti, pola makan gula yang terlalu banyak, asupan kalori yang terlalu tinggi, obesitas dan kurang olahraga.

Agar Anda terhindar dari risiko diabetes, batasi asupan gula dan kalori, perbanyak serat, buah, sayur dan pilih karbohidrat rendah gula, seperti nasi merah, kentang, ubi, singkong, kentang, atau jagung.

10 dari 14 halaman

Mitos: Jauhi karbohidrat agar berat badan cepat turun

Mitos: Jauhi karbohidrat agar berat badan cepat turun

Fakta: Memang benar diet karbohidrat akan menurunkan produksi insulin dalam darah penyebab bertambahnya berat badan. Namun, membatasi asupan karbohidrat secara berlebihan bisa membuat kurangnya kalori dalam tubuh. Akibatnya, cadangan energi dalam tubuh akan terus berkurang, Anda akan merasa lemas dan dehidrasi.

Pintarlah dalam memilih karbohidrat jika ingin menurunkan berat badan. Ganti nasi dengan karbohidrat yang memiliki indek glikemis lebih rendah, seperti kentang, ubi, singkong, jagung, gandum, sagu, dan lainnya.

11 dari 14 halaman

Mitos: Porsi makan ibu hamil dua kali lebih banyak

Mitos: Porsi makan ibu hamil dua kali lebih banyak dibandingkan ketika belum hamil

Fakta: Anggapan ibu hamil makan untuk berdua bukan berarti makan dua porsi. Kebutuhan janin tidak sama dengan ibunya. Makanlah secukupnya. Yang perlu diperhatikan adalah komposisi nutrisi agar menunjang tumbuh-kembang janin.

Terlalu banyak makan, justru akan membuat penambahan berat badan ibu hamil melonjak tinggi sehingga bisa membawanya pada risiko komplikasi kehamilan, seperti diabetes dan pre-eklampsia (keracunan dalam kehamilan) yang berbahaya bagi ibu dan janin.

12 dari 14 halaman

Mitos: Karbohidrat adalah satu-satunya sumber kalori

(c) shutterstock

Mitos: Karbohidrat adalah satu-satunya sumber kalori

Fakta: Kurang tepat! Tidak semua sumber karbohidrat merupakan sumber terbesar kalori, kecuali jika sumbernya adalah nasi putih. Namun jika diganti dengan ubi, singkong, kentang, jagung, gandum, sagu, sukun, dan lainnya,

Anda tak perlu khawatir terancam obesitas atau mengalami lonjakan gula darah yang dapat memicu gangguan metabolisme seperti diabetes.

13 dari 14 halaman

Next

(c) shutterstock

Mitos: Semua lemak itu “jahat”, sebaiknya tidak mengonsumsinya

Fakta: Salah! Lemak diidentikan dengan kegemukan, sehingga dianggap semua lemak itu jahat. Padahal ada juga jenis “lemak yang baik”, sepeti yang ada dalam alpukat, kacang-kacangan dan ikan.

“Lemak baik” berfungsi sebagai sumber energi untuk menjalankan fungsi organ tubuh, serta menyerap dan mengedarkan vitamin ke seluruh tubuh.

14 dari 14 halaman

Mitos: Vegetarian = berat badan selalu stabil

(c) shutterstock

Mitos: Menjadi vegetarian membuat berat badan selalu stabil

Fakta: Kurang tepat! Seorang vegan hanya makan bahan makanan nabati, namun bukan berarti bebas dari kelebihan berat badan. Bila seorang vegan mengkonsumi kalori lebih besar dari kebutuhan, tetap bisa mengalami kegemukan. Agar berat badan tetap stabil, vegetarian juga harus tetap menjaga asupan kalori, salah satunya dengan memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat.