Kisah Nyata: Kakek yang Sudah Memakamkan 550 Jenazah

Fimela diperbarui 02 Jun 2016, 11:40 WIB

Mithalal Sindhi, kakek berusia 83 tahun asal Ahmedabad, India ini bukanlah orang kaya. Bahkan selama enam dekade terakhir, ia tinggal di jalanan. Ia penuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual pearl millet (satu komoditas serealia di India) dengan becak tuanya. Tapi ia telah melakukan kebaikan yang luar biasa istimewa di sebagian besar masa hidupnya.

Seperti yang dilansir oleh odditycentral.com, Mithalal telah memakamkan 550 jenazah tanpa identitas yang ditemuinya. Apa yang ia lakukan ini tak lepas dari sebuah pengalaman yang menyesakkan dada yang ia alami beberapa tahun lalu.

Saat masih berusia 15 tahun, Mithalal pindah dari Pakistan ke Bombay dengan keluarganya. Dia bekerja serabutan demi sesuap nasi. Lalu pada tahun 1957, ia pindah ke Ahmedabad ia mulai berdagang buah kecil-kecilan dengan modal sedikit tabungan yang ia punya. Saat itulah ia bertemu dengan Nyaldas Sindhi, seorang pedagang sayur yang kemudian jadi sahabat karibnya. Mereka sering makan siang bersama dan tidur berdampingan. Namun, persahabatan mereka hanya bertahan dua tahun ketika suatu pagi Mithalal mencoba membangunkan Nyaldas tapi tak ada respon.



Rupanya pagi itu Nyaldas sudah meninggal. Mithalal menyadari kalau sahabatnya itu tak punya keluarga atau kerabat dekat yang bisa membantu proses pemakaman. Ia coba meminta bantuan pada orang lain tapi tak ada yang mau membantu karena merasa tak ada urusan. Akhirnya Mithalal sendiri lah yang mengkremasi jenazah sahabatnya itu di Callico Mill. Saat itulah Mithalal kemudian menyadari bahwa setiap hari di Ahmedabad ada banyak orang meninggal tapi tak ada ritual pemakaman yang layak untuk mereka.

Mithalal kemudian jadi pria yang akan turun tangan langsung setiap kali menjumpai jenazah tanpa identitas atau jenazah yang diabaikan oleh keluarganya. Apapun agamanya, jenazah-jenazah itu sebisa mungkin akan dimakamkan dengan layak oleh Mithalal. "Bisa jadi agamanya Hindu, Muslim, Jain, atau Kristen. Tapi bagiku hanya ada satu agama dan itu adalah rasa kemanusiaan. Agama lain tak kuyakini," papar Milathal.

Setiap kali ia menemukan jenazah, hal pertama yang dilakukan adalah mencari simbol atau tanda yang mengindikasikan agamanya. Kalau agamanya sudah ketemu, Mithalal akan memakamkan jenazah tersebut sesuai dengan ritual agamanya. "Kalau orang yang meninggal agamanya Hindu, aku membawanya ke VS Crematorium, kalau Muslim aku membawanya ke Jamalpur dan kalau Kristiani aku menguburnya di pemakaman. Aku akan mengayuh becakku dan membawanya ke krematorium," kata Mithalal.



Mithalal juga akan mencari tahu info tentang keluarga si jenazah. Namun, seringkali saat ia sudah menemukan keluarganya, pihak keluarga pura-pura tidak tahu atau menolak untuk membiayai proses pemakaman tersebut. "Di mata masyarakat, jenazah itu mungkin hanya tubuh tak bernyawa, tapi bagiku jika jenazah itu wanita yang sudah lanjut usia, dia kuanggap ibuku sendiri. Jika jenazah itu masih bocah maka kuanggap putraku sendiri, kalau jenazahnya wanita setengah baya, maka dia seperti adikku. Aku tak bisa membuat ritual pemakaman untuk ayahku tapi aku tak bersedih akan hal itu. Bagiku semua yang meninggal bisa dibilang masih keluargaku," ucap Mithalal.

Butuh biaya sekitar 1.500 rupee atau sekitar 300 ribu rupiah untuk memakamkan satu jenazah dan uang itu diambil dari kantong Mithalal sendiri. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 550 jenazah yang dimakamkan oleh Mithalal. Dia pun mengaku akan terus melakukan ini hingga akhir hayatnya nanti.

Mithalal mengaku sudah tak lagi memikirkan persoalan duniawi. Dia sudah melepas warisannya dan memilih untuk hidup di jalanan alih-alih tinggal bersama anak-anaknya yang sudah punya rumah sendiri dan menjalankan bisnis restoran. Dan itu semua sudah jadi pilihan hidupnya yang membuatnya merasa lebih bahagia.

(vem/nda)