Hidupmu Itu Sungguh Berharga, Jangan Sia-Siakan Setiap Detiknya

Fimela diperbarui 01 Jul 2016, 11:10 WIB

Bismillahirrahmanirrahim,

Pada tahun 1960 terdapat sebuah penelitian marshmallow.Sekelompok anak diberi satu permen dan mereka dijanjikan akan mendapatkan permen lebih jika sedikit bersabar menunda makan permen. Apa yang terjadi? Sebagian besar dari meraka tak mampu bersabar sejenak untuk merasakan lebih banyak permen.

Kemudian lahirlah sebuah teori delaying gratification,yaitu kemampuan kita untuk secara sukarela mengatur siklus kenyamanan dan ketidaknyamanan sedemikian rupa sehingga kita dapat bersabar dalam ketidaknyamanan “sebentar” untuk dapat menikmati kenyamanan yang “lebih lama”.

Menurut saya, teori ini sudah diajarkan 1.400 tahun yang lalu, saat kita diperintahkan berpuasa. Sadarkah kita buka puasa begitu lezat dibanding makan malam pada umumnya karena diawali tak makan sepanjang hari? Teori ini bisa digunakan pada bidang apapun. Misal, untuk menjadi pengusaha, seseorang harus mau melakukan sesuatu yang orang lain tak mau lakukan untuk merasakan sesuatu yang orang lain tak mampu rasakan.

Beragama juga demikian, ketika ingin masuk surga kita diminta bangun jam 4 pagi, salat tahajud, laki-laki salat Subuh ke masjid, berzikir, berbakti pada orang tua, mempertahankan kejujuran, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran untuk kebaikan. Kita diminta merasakan ketidaknyamanan sehingga bisa merasakan kenyamanan lebih nan sempurna di kemudian hari.

Jika kita melakukan yang orang lain tidak mau lakukan, maka kita akan mendapatkan yang orang lain tidak mampu dapatkan. Kemenangan itu manja, dia harus dijemput dengan kebenaran dalam cara dan kesabaran dalam perjuangan. Dengan ini, kita bisa menjadikan keinginan membahagiakan keluarga menjadi motivasi yang kuat dan mendorong kita kerja keras. If you don't have what you want, work harder!

Wama ladzatu illa ba'da ta'ab, tidak ada kenikmatan kecuali sesudah kepayahan.

Tidak ada keberhasilan di masa tua yang didapatkan dengan kesenangan di masa muda.

Bukankah keberhasilan akan lebih manis dan menyenangkan tatkala diawali dengan perjuangan yang lebih keras?

Mana yang kau pilih? Lahir dari keluarga kaya, hidup bermanja-manja, bersenang-senang, bermalam-malasan atau lahir dari keluarga sederhana, bekerja keras dengan tangan dan kaki sendiri, lalu mencapai keberhasilan yang mengagumkan nan mempesona? Jika kita sudah bekerja dengan penuh keikhlasan dan kerja keras, lalu apa ada lagi yang lebih berarti dari itu semua?

Masa depanmu ditentukan oleh bagaimana kamu menghabiskan waktumu setiap hari. Ingatlah, bahwa tanda baiknya seseorang, dia meninggalkan apa yang tak berguna baginya. Oleh karena itu, tumbuhkan rasa bersalah jika kita menggunakan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Bayangkanlah setiap hari adalah hari terakhirmu, maka engkau akan penuh hormat dengan waktu. Teruslah bergerak, teruslah bergerak, teruslah bergerak, dan kita akan menjadi pusaran yang menarik kebaikan-kebaikan datang kepada kita.

"Lakukan pekerjaan pada puncak kemampuanmu.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Banyak pekerjaan tidak akan berhasil di tangan orang-orang pintar, tapi ia akan berhasil di tangan pekerja keras. Saya sering menemukan orang hebat yang gagal, saya temukan banyak di antara mereka kikir untuk bekerja keras dan tidak menyukai tantangan. Kapal yang berlabuh di pelabuhan itu memang aman, tapi bukan itu tujuan dibuatnya kapal. Nikmatilah tantangan, karena di sanalah orang hebat, orang tangguh, dan orang kuat dibesarkan. So, don't limit your challenges, challenge your limit!

*Artikel ini ditulis oleh dr. Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika & Motivator Internasional.

#GamalBerbagi #MudaMendunia

(vem/nda)