[Vemale's Review] Novel ''Melankolia Ninna'' Karya Robin Wijaya

Fimela diperbarui 23 Jan 2017, 10:50 WIB

Judul: Melankolia Ninna
Penulis: Robin Wijaya
Penyunting: Jia Effendi
Penerbit: Falcon Publishing
Tebal: 204 halaman
Terbit : Cetakan pertama, 2016


Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.

Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.


Kesempatan Ninna untuk menjadi seorang ibu pupus sudah. Ninna dan suaminya Gamal tak akan bisa mendapatkan buah hati di pernikahan mereka. Kenyataan itu jelas sangat pahit tapi mau tak mau tetap harus dihadapi, meski memang sulit.

Sudah enam tahun usia pernikahan Gamal dan Ninna. Mereka pertama kali bertemu pada sebuah kejadian yang bisa dibilang kebetulan tapi sangat kocak. Ketika akhirnya menikah, memiliki anak sudah masuk dalam impian mereka. Bahkan kamar bayi lengkap dengan semua pernak-perniknya sudah dipersiapkan dengan baik. Sayangnya, impian itu tak bisa terwujud.

Ninna akhirnya memilih untuk kembali bekerja dan menjadi wanita karier, keputusan yang sebenarnya sulit diterima Gamal. Gamal memilih istrinya bisa jadi ibu rumah tangga saja sebab ia punya pengalaman yang terbilang kurang mengenakkan di keluarganya terkait ibu yang bekerja. Tapi setelah operasi itu, Ninna jelas butuh kesibukan agar pikirannya tak terus dihantui perasaan bersalah. Gamal akhirnya memberikan restunya.

Tak bisa dipungkiri Ninna dan Gamal masih sulit menerima kenyataan yang ada. Ninna merasa bersalah tapi ia juga tak bisa berpaling dari kenyataan. Gamal juga sama sekali tak ingin melukai perasaan istrinya tapi ia juga tak bisa mengelak dari keinginannya untuk bisa memiliki anak. Keduanya pun menyimpan rahasia masing-masing. Baik Ninna maupun Gamal, ada rahasia yang mereka pendam sendiri, bahkan ada kenyataan yang mereka sembunyikan hanya karena sama-sama tak ingin saling menyakiti. Meski ternyata malah saling melukai.

Sosok Terra sempat membuat Ninna merasa cemburu. Gamal dibuat bingung dengan situasi yang dihadapinya. Apakah mereka bisa mengatasi semuanya? Bisakah pernikahan tersebut tetap dipertahankan?


Kita selalu butuh rumah. Kata orang, cinta terbaik di dunia berasal dari sebuah rumah, bukan yang tercecer di pinggir jalan, bukan dari seorang kekasih, bukan juga teman-teman terdekat kita, melainkan keluarga. Dan aku sangat memercayainya.
(Ninna, hlm. 70)


Novel ini ditulis dengan dua sudut pandang karakter utamanya secara bergantian, Gamal dan Ninna. Saya sangat menikmati alur ceritanya. Dengan dua sudut pandang tersebut, pembaca diajak sama-sama hanyut dalam perasaan dan pergolakan yang dirasakan Gamal dan Ninna. Kita juga tak bisa memihak salah satu di antaranya. Mereka memang bukan pasangan yang sempurna tapi cara mereka melalui kesedihan dan menghadapi semua masalah terasa sangat realistis.

Satu hal yang sangat saya kagumi dari sosok Gamal adalah usahanya untuk menjaga perasaan istrinya. Dia punya prinsip untuk sebisa mungkin tak berduaan dengan wanita lain, sekalipun di luar rumah. Bahkan ruang kerja pegawai wanitanya juga dikondisikan sedemikian rupa. Meski kemudian kemunculan seorang wanita lain membuatnya seakan harus melanggar prinsipnya tersebut yang membuat Ninna terluka.


"Kita dan semua pasangan suami-istri di luar sana, mereka pengin punya anak. Namun, apakah itu jaminan kebahagiaan buat hidup kita? Jangan sampai, hal itu malah jadi sebaliknya, Nin. Jadi biang keladi atas kemuraman di rumah kita. Kamu sadar enggak sih, kita sudah menjadikannya seperti itu?"
(Gamal, hlm. 212)


Rasanya tidak ada konflik yang begitu meledak-ledak. Semua berjalan sederhana dan apa adanya tapi bisa menghadirkan nuansa yang begitu perih. Pasangan suami istri yang sama-sama tak ingin saling menyakiti tapi juga berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri menghadapi kenyataan yang ada.

Ada sedikit bumbu humor juga di novel ini. Karakter Gamal memang nggak bisa romantis tapi dia punya sisi yang begitu menarik dan membuat Ninna merasa sangat beruntung memilikinya. Bahkan momen lamaran mereka pun sangatlah unik. Saya sendiri dibikin heran, ada ya model lamaran yang kayak Gamal gitu, ada-ada saja idenya.

Banyak pelajaran soal pernikahan dan keluarga di novel ini. Memang segalanya tak bisa sempurna tapi selalu ada cara untuk bisa mengatasi semua persoalan yang ada. Ujian yang hadir ternyata bisa jadi sumber kekuatan yang baru.

(vem/nda)