Pernikahan Tak Bisa Diatur Sendiri, Sebab Bahagia Bukan Cuma Milik Berdua

Fimela diperbarui 28 Jul 2017, 14:30 WIB

Keluarga dan tetangga memang orang-orang yang paling diandalkan untuk dimintai bantuan dalam mempersiapkan pernikahan. Seperti kisah sahabat Vemale yang satu ini untuk Lomba Menulis Here Comes the Bridezilla. Dan tahukah kalau cuma butuh 2 bulan untuk menyiapkan semuanya? Wah!

***

Kamis, 20 Juli 2017

Persiapan pernikahan yang cukup pendek, hanya 2 bulan, yah itu yang saya alami. Sebagai karyawan yang dipindah posisi pekerjaan ke bagian lain menjadikan saya sebagai leader sebuah tim cukup membuat stres.

Selain memikirkan pekerjaan yang memiliki deadline 5 bulan harus sukses, saya juga harus menyiapkan pernikahan. Beruntung sahabat saya Ririn juga menyiapkan pernikahan yang kebetulan tanggal pernikahan kami sama pada tanggal 17 Februari 2017.

Kami saling berbagi info mulai dari undangan pernikahan, rias pengantin, souvenir, dan daftar undangan karena kami dulu sekolah di SMA dan kuliah di jurusan yang sama, bahkan satu kelas. Selain itu kami juga mendapat tambahan info dari sahabat kami Nea dan Pibi yang sudah menikah beberapa tahun sebelumnya.

Ririn lebih cepat mendapatkan rias pengantin dan souvenir pernikahan, 2 minggu dari persiapan awal, sedangkan saya masih belum menemukan rias pengantin. Akhirnya saya mengikuti saran dari mama yang menggunakan perias langganan pada saat wisuda yang kemampuannya tidak diragukan lagi.

Saya dan istri kakak sepupuku mbak Yuli berkunjung ke rias pengantin yang tak jauh dari rumah, baru lihat–lihat contoh sudah sesuai keinginan karena riasannya yang terlihat natural. Kami mengemukakan budget yang ada, tak disangka malah kami mendapat potongan harga karena memang sudah langganan dan ibu periasnya tahu kalau papa saya sudah tiada. Rias pengantin sudah termasuk dekorasinya yang sederhana tapi terlihat cantik, termasuk fotografer dan syuting video.

Undangan yang mengurus adikku sendiri, bahkan membuatnya sendiri karena dia bekerja di bidang kreatif, sehingga bisa pilih sesuai kemauanku, karena saya termasuk cerewat dalam memilih apapun. Hasilnya undangan yang sederhana tapi unik, karena didesain sendiri. Untuk mencetak undangan dia dibantu teman kerjanya karena butuh waktu yang singkat dengan mengejar waktu yang tersisa hanya sebulan sebelum hari H. Cukup menghemat biaya karena dikerjakan adik sendiri. Setelah undangan jadi, saya dan Ririn yang menyebarkan ke teman–teman kami, selain menggunakan socmed kami juga memberikan undangan fisik, dibantu Nea dan Asep sahabat kami juga.



Untuk souvenir saya belum menemukan ide walaupun waktu terus mendekati hari H, sementara sahabat saya sudah memesan sendok nasi yang terbuat dari kayu, rekomendasi dari temannya. Akhirnya mbak Yuli yang merekomendasikan kipas tangan lipat, selain harganya murah tapi bermanfaat karena cocok dibawa kemanapun dengan cuaca di kota Sidoarjo yang panas. Begitu pun juga untuk sewa kursi dan peralatan makan atas rekomendasi sepupuku. Lagi–lagi mendapat harga khusus karena pesan di saudaranya Mbak Yuli sendiri. Cukup menghemat budget.



Untuk menu makanan ditangani langsung oleh tante, adik Papa yang memang tidak diragukan lagi kemampuan dalam hal memasak dibantu tetangga dan keluarga besar saya. Sedangkan kue ditangani oleh sepupu saya juga, yang sudah mempunyai langganan untuk acara hajatan.  

Menjelang 3 minggu sebelum hari H saya juga menemani calon suami yang mengantar undangan ke saudara dan teman orang tuanyanya yang berada di Surabaya. Dengan posisi kami yang sama–sama kerja, waktu untuk mengirim undangan hanya bisa dilakukan hari Sabtu dan Minggu. Kami harus membagi waktu kirim undangan ke teman saya dan teman suami juga. Dua minggu sebelum hari H kami harus fitting baju agar sesuai dengan ukuran tubuh. Dengan kesibukan kami selama persiapan pernikahan, kami harus menjaga tubuh kami agar tetap fit. Dengan menjaga makan dan istirahat yang cukup.



Keluarga besar dan tetangga kami saling gotong royong membantu persiapan pernikahan dari menyiapkan souvenir, memasak makanan dan kue karena saya tinggal di desa yang masih kental rasa saling membantu. Saat pemasangan dekorasi sehari sebelum hari H ternyata yang terpasang tidak sesuai pesanan awal, saya menginginkan dekorasi warna coklat natural ternyata yang datang warna putih. Kesalahan saya memang hanya secara lisan, tidak meminta resi pesanan.



Akhirnya datang perias, kami menemukan jalan tengah dengan memberikan uang lelah untuk bongkar ulang dekorasi. Sampai hari H tiba, semua persiapan sesuai apa yang kami harapkan. Terima kasih untuk keluarga dan sahabat yang telah membantu persiapan pernikahan kami hingga acara berjalan dengan lancar. Sesuaikan budget yang ada, jangan terlalu memaksa apabila melebihi budget, karena memang banyak godaan yang datang saat mempersiapkan segala keperluan pernikahan.




(vem/nda)
What's On Fimela