Review: Novel ''Sophismata'' Karya Alanda Kariza

Fimela diperbarui 23 Sep 2017, 19:30 WIB

Judul: Sophismata
Penulis: Alanda Kariza
Editor: Anastasia Aemilia
Desain sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, 2017

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya—mantan aktivis 1998—yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.

Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

***

Ingin menikmati novel roman populer dengan nuansa yang berbeda? Sophismata bisa jadi salah satu referensi yang menarik. Novel ini menceritakan Sigi yang tidak suka politik tapi dunia kerjanya sangat bersinggungan dengan dunia politik. Bekerja sebagai staf administrasi seorang anggota DPR bernama Johar Sancoyo, Sigi ingin sekali jabatannya naik sebagai tenaga ahli. Namun, ada sebuah persyaratan yang tak bisa ia penuhi untuk menjadi tenaga ahli. Meski begitu ia tak lantas putus asa. Justru ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu dan layak untuk menjadi tenaga ahli.

Sampai suatu hari ia kembali bertemu dengan teman SMAnya, Timur. Timur berniat untuk mendirikan sebuah partai. Yaps, di usianya yang masih muda dia sudah menunjukkan tekadnya untuk menjadi seorang politisi. Bahkan ia rela melepas pekerjaan sebelumnya yang notabene bisa memberinya gaji yang sangat besar.

Bagi Sigi, Timur jelas bukan sosok yang biasa. Semenjak SMA, Timur sudah memperlihatkan ambisi dan minatnya yang cukup tinggi pada dunia politik. Mengobrol dengan Timur, Sigi merasa nyaman karena sikap Timur yang tak menghakimi meski mungkin ada sudut pandang mereka yang bertentangan.

Bersama Sigi, Timur juga merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sigi jelas berbeda dari wanita kebanyakan. Sosok Sigi yang selalu berusaha mengerjakan sesuatu secara mandiri dengan sebaik mungkin jadi daya tarik tersendiri.

“Terkadang, kita memang harus terpuruk dulu untuk bisa bangkit,” tambah Timur. “Dessert wine dari Australia, namanya Noble One, adalah salah satu wine terbaik di dunia—sering sekali dapat penghargaan. Gue pernah coba. Rasanya seperti madu, Gi. Ternyata, dibuatnya dari anggur-anggur busuk, atau yang sengaja dibuat busuk. Terkadang mungkin kita memang harus bekerja sampai busuk dulu untuk bisa mencapai sesuatu.”
(hlm. 109)

Tema politik mungkin agak berat bila diangkat dalam novel. Tapi Alanda sebagai penulis tampaknya sudah melakukan riset yang cukup mendalam soal politik. Sehingga pembahasan soal politik di novel ini mudah untuk diikuti.

Interaksi Sigi dan Timur juga menarik untuk diikuti. Setiap kali bertemu ada banyak topik obrolan menarik yang mereka buat. Tak melulu soal politik, tapi juga sampai soal hobi Sigi membuat kue. Meski keduanya memiliki sejumlah pandangan yang berbeda akan beberapa hal, toh itu bukan jadi penghalang untuk bisa saling memahami satu sama lain.

Dunia politik bisa dibilang juga penuh dengan intrik. Usaha Johar Sancoyo agar mendapat jabatan menteri pun tak mudah. Apalagi ketika ada sosok wanita bernama Megara yang muncul dan membuat skandal yang menghebohkan, sampai membuat Sigi difitnah dan terpuruk. Meski begitu, Sigi tetap berusaha mengumpulkan kekuatannya bahkan mencoba untuk mencari peluang baru untuk mendapatkan karier impiannya.

“Kalau boleh jujur, aku nggak terlalu percaya passion. Buatku, bikin kue itu semacam rekreasi. Aku takut kalau itu aku jadikan pekerjaan, nanti malah jadi nggak fun. Lagi pula, perkara do what you love itu terlalu utopis. Semua kerjaan, semenyenangkan apa pun, pasti pada satu titik akan melelahkan. Mending cari kerjaan yang aku sedikit suka, tapi sekaligus menantang. Biar aku juga bisa berkembang, ya kan?”
(hlm. 201)

Yang membuat sosok Sigi begitu menonjol adalah usahanya untuk menjadi seorang perempuan yang kuat dan bisa diandalkan. Dia bukan tipe perempuan yang manja dan lemah. Setiap kali ada masalah muncul, dia dengan tekad yang kuat mengumpulkan keberaniannya untuk mengatasinya. Meski memang kadang ada hal-hal yang terjadi di luar dugaannya.

Tapi ngomong-ngomong tahu nggak apa arti Sophismata? Ternyata Sophismata adalah istilah dalam dunia filsafat yang berarti bahwa nilai kebenaran bisa bersifat ambigu, berada dalam ranah abu-abu. Istilah ini pas dijadikan judul novel Alanda Kariza yang memang mengangkat dan memadukan soal politik dan percintaan yang tak bisa langsung dihakimi salah benarnya. Bagi yang awam soal dunia politik, novel ini memberi kita ruang untuk memahaminya dengan sudut pandang yang baru.

Lalu bagaimana dengan hubungan Sigi dan Timur? Akan dibawa ke mana hubungan mereka? Sementara itu apakah Sigi bakal tetap bertahan bekerja sebagai staf administrasi atau malah ada lompatan yang ia buat untuk kariernya? Biar nggak penasaran, langsung saja baca Sophismata sampai habis, ya.




(vem/nda)
What's On Fimela