Aku Berjanji untuk Tidak Depresi Lagi

Fimela diperbarui 22 Jan 2018, 19:30 WIB

Apa resolusimu tahun ini? Apakah seperti resolusi sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba New Year New Me ini?

***

Dear Vemale,

Di tahun 2018 ini, resolusi terbesarku adalah menjadi bahagia. Tidak seperti resolusi tahun lalu yang aku tulis sangat banyak dalam bukuku yang hampir sebagian besar mengenai studi dan karirku. Setelah dijalani, tahun lalu adalah tahun yang paling berat dan melelahkan dalam hidupku. Aku tidak pernah merasakan kelelahan yang begitu hebat dalam sejarah hidupku selain di tahun 2017.

Tahun itu adalah tahun di saat aku mulai merasakan the real life. Mulai dari mengerjakan tugas akhir kuliah, mulai merasakan lelahnya bekerja dengan gaji sangat minim, orang tuaku sakit, kesulitan keuangan, kehilangan teman, hingga merasakan depresi yang sangat hebat. Mungkin tahun 2017 adalah tahun yang sangat aku benci dalam hidupku.

Sebelum lulus kuliah aku sudah bekerja sebagai guru di sekolah. Aku pikir dengan menerima pekerjaan ini, resolusiku terpenuhi. Memang terpenuhi tapi aku tidak bahagia. Aku sadari selama ini aku belum menemukan jati diriku. Hidupku masih diatur oleh orang lain, dan aku merasa semua ini percuma aku jalani. Orangtuaku masih menuntutku untuk menjadi pegawai negeri, padahal hati mengatakan aku tidak ingin menjadi pegawai negeri.

Kira-kira sudah satu tahun aku menjalani tugas menjadi pendidik di sekolah itu. Aku tidak berkembang sama sekali, aku merasa seperti robot. Karena alasan itu, aku memutuskan untuk melanjutkan studi Master. Permasalahan semakin bertambah ketika aku harus membagi jadwal kuliah dengan mengajar. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri tapi tidak diperbolehkan. Akhirnya aku harus berjuang pulang pergi Jogja-Klaten selama setengah tahun untuk kuliah dan mengajar.

Aku sangat lelah, belum lagi aku harus cari part time job untuk membantu biaya kuliah. Karena aku bekerja di sekolah negeri satu bulan hanya dibayar Rp200 ribu saja, hanya cukup untuk beli bensin. Belum lagi di pertengahan orangtuaku keduanya sakit-sakitan, aku harus merawat keduanya. Keadaan finansial juga sangat buruk, aku harus menggadaikan motor untuk makan dan kebutuhan lainnya. Ketika aku butuh teman curhat, teman-temanku semuanya pergi tanpa alasan.

Aku sempat mengalami depresi berat, selama tiga hari aku tidak makan, tidak masuk kerja, sering melamun dan menghabiskan waktu dengan tidur di rumah. Rasanya aku ingin mati saja saat itu. Dan aku baru sadar ini adalah ujian hidup yang mungkin lumrah dirasakan oleh setiap remaja yang beranjak dewasa.

Sejak saat itu aku mulai sedikit demi sedikit bangkit dan kembali menuliskan impian-impianku ke depannya. Sebenarnya aku sangat terhibur ketika kuliah, entah mengapa kuliah lebih menyenangkan daripada di tempat kerja. Aku merasa kuliah sangat membuatku berkembang dan bersemangat. Apalagi bertemu dengan banyak dosen yang menginspirasi. Sejak saat itu aku bangkit sendiri dari depresiku. Akhir tahun aku mulai menuliskan banyak resolusi. Tapi setelah kejadian masa lalu aku sempat berpikir untuk membuat perubahan dalam resolusiku kali ini. Ya, aku ingin menjadi diriku sendiri dan menjadi bahagia. Aku menuliskan resolusi dari yang terkecil hingga yang terbesar. Resolusi kecilku seperti membuat jurnal dan bisa diterbitkan, mulai mengerjakan tesis, belajar bahasa Inggris, melakukan semua hobiku, dan mengundurkan diri dari pekerjaanku.

Mungkin lucu bahwa mengundurkan diri dari pekerjaan adalah resolusi, tapi bagiku hal itu adalah hal yang luar biasa karena dalam hal ini aku sudah mulai menjadi wanita yang tegas dalam mengambil keputusan. Selama ini aku selalu plin-plan dalam mengambil keputusan, aku wanita yang lemah dan tidak tegas maka sering aku ditindas oleh senior-seniorku. Tapi untuk kali ini aku akan bertindak tegas terhadap kebahagiaanku.

Aku tidak menyenangi pekerjaan ini, hidupku stagnan dan tidak berkembang. Lingkungan pekerjaan ini membuatku menjadi wanita yang pemalas, membosankan dan tidak progress. Orangtuaku menyuruhku untuk tetap tinggal di sana, agar nanti mudah jadi pegawai negeri. Tapi aku tidak ingin jadi pegawai negeri, apapun alasannya aku harus tetap pergi mencari jati diriku sendiri. Aku memutuskan untuk fokus kuliah dan menyelesaikan gelar masterku sambil aku bekerja part time.

Aku juga ingin memperdalam bahasa Inggrisku karena selesai mendapat gelar master aku ingin mengambil beasiswa ke luar negeri. Kali ini aku sangat bermimpi menjadi seorang profesor lulusan luar negeri. Apalagi Indeks Prestasiku semester ini nyaris sempurna, membuatku semakin bersemangat belajar.

Hal lainnya adalah melakukan hobi-hobiku, yaitu menggambar dan membaca buku. Aku termasuk orang yang introvert, ketika sudah di kamar aku merasa bebas dan menjadi diriku sendiri. Koleksi gambarku sudah banyak, aku juga sering ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku. Karena tahun lalu aku tidak bisa melakukan kesenanganku, tahun ini aku harus bisa mendapatkannya. Aku ingin menambah koleksi gambarku dan menambah koleksi bukuku. Aku ingin lebih santai dan bahagia di tahun ini walaupun dengan cara sederhana.

Dan resolusi terbesarku adalah menjadi diri sendiri dan BAHAGIA. Di tahun ini aku ingin mengerjakan apa yang ingin aku kerjakan. Aku ingin melakukan hal yang bisa membuatku bahagia. Aku akan menemukan jalanku sendiri untuk masa depan. Aku ingin meminta maaf kepada orangtuaku karena belum bisa menuruti keinginan mereka, tapi sulit. Jadi mungkin aku akan bergerak sendiri, tapi aku sudah berjanji kepada Tuhan dan diriku sendiri, aku akan membahagiakan mereka tapi dengan caraku sendiri.

Kini aku akan mencoba untuk bahagia, aku berjanji untuk tidak depresi lagi. Kali ini aku sudah memiliki moto hidup, yaitu menjadi manusia yang berkembang, mampu bereksplorasi, bebas tapi tetap taat pada aturan, dan menjadi manusia yang hidup bahagia. Inilah beberapa resolusiku di tahun 2018, manusia hanya bisa merencanakan dan ikhtiar, Tuhan lah yang menentukan. So, Be Happy!

(vem/nda)