Cara Terbaik Mengobati Kehilangan adalah Memaafkan

Fimela diperbarui 28 Mar 2018, 18:45 WIB

Aku adalah seorang anak perempuan semata wayang yang tinggal di Kabupaten Karawang bersama kakek, nenek, bibi, beserta kedua paman. Ibuku seorang tenaga kerja wanita yang telah bekerja selama kurang lebih 20 tahun di negara Arab Saudi, Uni Emirat, Malaysia dan Yordania. Aku bukanlah anak berasal dari keluarga yang memiliki harta berlimpah bukan pula anak perempuan semata wayang yang memiliki perhatian dari kedua orang tua. Maklum, semenjak ayah meninggalkan ibuku 20 tahun silam ibu pun meninggalkan aku merantau detik itu juga.

Alasan yang paling utama keberangkatan ibu menuju perantauan adalah tentu saja aku. Aku adalah seorang anak perempuan dan ibu menginginkan aku menjadi seorang anak yang berhasil khususnya di bidang pendidikan. Selama 20 tahun di negara orang ibu telah berhasil memperbaiki rumah, membeli beberapa lahan, membeli berhektar-hektar sawah dan memiliki beberapa emas simpanan. Ibu adalah perempuan yang tegar karena berkat kegigihannya aku mampu melanjutkan pendidikanku hingga ke jenjang strata satu dengan titel sarjana hukum.



Aku mengerti ibu selalu menggenggam luka dan aku selalu berjanji untuk bisa melepaskan luka itu dari jemari ibu dan akan kugantikan lukanya dengan kebahagiaan. Setelah kepergian ayah, ibu sempat mengalami stres. Air susu ibu tak keluar dan akhirnya dari umur satu bulan air susu ibuku diganti oleh susu formula. Sifat nenek yang keras pun menjadi bencana sendiri untuk ibu bahkan ibu kerap diperlakukan tidak baik karena menurut nenek, ibu memiliki nasib yang buruk sehingga pantas jika ibu ditinggalkan suaminya.

Ibu selalu memaafkan sifat nenek yang keras. Beliau tak pernah menyalahkannya bahkan pada suami yang telah meninggalkannya pun ibu tak pernah marah bahkan membenci. Nenek dan pamanku selalu bercerita bahwa ayahku telah meninggal namun ibu selalu berkata bahwa mereka berdusta. Ayahku ada dan dia masih hidup entah di mana. Ibu selalu yakin suatu saat nanti aku pasti akan menemukannya dan ibu selalu berpesan ketika aku bertemu dengannya aku tak boleh memarahi ayah bahkan membencinya.



Ketika aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Semarang aku mendapat kabar dari ibu nomor ponsel ayahku telah ditemukan namun berkali-kali dihubungi nomor itu tak juga bisa terhubung. Aku semakin jengkel dan putus asa. Di tengah keputusasaan, datanglah kabar dari ibu bahwa di Salatiga ada teman ayah dan dengan bermodalkan tekad aku mulai menelusuri di mana tempat tinggal teman ayah. Akhirnya pertemuan aku dan teman ayah terjadi setelah memakan waktu empat hari, beliau begitu kaget karena menurutnya aku begitu mirip dengan ayah.

Hari ketujuh aku dan teman ayah bergegas mencari ayahku tepatnya ke kabupaten Wonogiri aku mencarinya. Berhari-hari aku di sana namun nihil beliau tak kunjung ditemukan. Tak ada hasil yang didapat, aku dan teman ayah memutuskan untuk pulang kembali. Aku pulang ke Semarang dan beliau pulang ke Salatiga.

Setahun kemudian aku mendapat kabar bahwa ayah ada di Wonogiri. Berbekal tekad yang bulat aku kabur dari asrama mahasiswa pergi menuju Wonogiri tak peduli hukuman apa yang akan aku terima sepulangku nanti. Aku beberapa kali tersesat, mencoba mengingat-ingat kembali jalan yang berliku dan aku berhasil menemukan rumah ayah dan tepat pada detik itu aku melihat bola matanya. Bola mata yang sama sepertiku. Ibu benar, aku mampu menemukannya.

(vem/nda)
What's On Fimela