Dilarang Kuliah karena Dianggap Tak Ada Gunanya Saat Sudah Menikah

Fimela diperbarui 27 Mar 2018, 13:45 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Saya adalah seorang wanita sederhana di keluarga saya. Saya salah satu golongan yang semi-feminim dibandingkan dengan saudari dan sepupu-sepupu saya. Karena itu, terkadang mereka suka bilang saya galak, tomboy dan lainnya. Ya, saya tak masalah dengan sebutan-sebutan tersebut. Namun, ada hal yang membuat diri saya hampir terusik.

Ceritanya begini. Saat saya berada di kelas 3 SMA, saya sangat ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah atau perguruan tinggi favorit saya. Namun hanya sebagian dari keluarga besar saya yang setuju, lainnya sangat tidak setuju. Mereka bilang saya akan sulit lulus di sana. Namun, saya tetap bersikeras ingin mencoba jalur SNMPTN saat itu.

Tiba pada tanggal 9 Mei 2016, ternyata saya lulus di PTN itu dan nama saya sudah tercetak di salah satu koran lokal. Saya benar-benar berharap saya dapat membuktikan diri saya. Namun, ada salah satu paman saya yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berkuliah, saya dianjurkan untuk bekerja di toko kainnya dan berhenti mengikuti pendaftaran mahasiswa baru. Dia bilang, untuk apa saya kuliah, percuma buang-buang tenaga dan uang, karena nanti juga akan menikah dan duduk di dapur. Paman saya mencoba membanding-bandingkan saya dengan sepupu saya yang baru saja tamat kuliah dan langsung menikah kira-kira setahun yang lalu. Ditambah lagi, saudari saya yang baru saja tamat SMA juga langsung menikah.

Saya merasa sangat sedih, sebab mereka menganggap wanita itu tidak perlu berwawasan, berintelektual dan berpendidikan dan bergelar sarjana. What’s wrong with their mind?


Hanya bapak dan ibu saya yang 100% men-support saya dalam hal ini. Saat itu juga, saya ingin membuktikan bahwa omongan mereka salah. Wanita bisa berkarier, berpendidikan, berintelektual dan bergelar sarjana. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya memiliki masalah finansial untuk kuliah saya. Syukurnya ada dermawan baik dari tempat beribadah saya yang menawarkan laptop. Mendengar kabar tersebut saya sangat bahagia, namun saya juga bermasalah karena biaya kuliah yang mahal.

Setahun kemudian, saya membaca sebuah brosur yang berisi tawaran beasiswa yang bersyarat kontrak kerja lima tahun. Ternyata ya... lagi-lagi karena kata “perempuan” akhirnya orangtua saya menolak saya mengikuti tahap wawancara, padahal saya sudah lulus tahap seleksi berkas. Orangtua menolaknya karena alasan takut anak perempuan bekerja di pelosok-pelosok daerah.

Hari demi hari, dari laptop hadiah tersebut, saya terus mencari informasi tawaran beasiswa. Saya saat itu sangat kekurangan. Saya membutuhkan sebuah printer untuk keperluan tugas-tugas kuliah saya, kebetulan HP saya juga sudah rusak. Saya tak ingin seperti anak manja yang meminta uang dari orangtuanya. Saya tidak mengeluh hal ini pada orangtua saya.

Mencari dan terus mencari, rata-rata tawaran beasiswa memiliki syarat yang tidak akan pernah disetujui oleh orang tua saya, yakni kontrak kerja. Sempat putus asa? Iya sempat banget malah hampir down saat itu. Perjuangan saya menggapai cita-cita saya pikir hampir kandas saat itu juga. Saya sempat berniat ingin berhenti kuliah saja. Putus harapan saya.



Tiba-tiba niat buruk tersebut berhasil saya urungkan berkat obrolan dengan salah satu teman kampus saya. Namanya Haposan, dia suka dipanggil Po, heheh. Saat sedang ngobrol-ngobrol seusai UAS, tiba-tiba aja Po bilang dia dapat beasiswa. Dia berbicara panjang lebar tentang beasiswa tersebut, tapi saat itu saya tak begitu menghiraukan Po. Setelah saya pulang dari kampus, saya teringat kata-kata Po, dia bilang dia dapat sertifikat beasiswa yang ditandatangani oleh Menkeu Sri Mulyani. Saya sangat penasaran, mencoba meng-google-nya. Yap! Dapat.

Setelah melewati proses seleksi yang begitu panjang, ternyata Tuhan sedang melihat perjuangan saya meraih cita-cita. Saya lulus beasiswa Kemdikbud angkatan 2017, yang dibiayai biaya pendidikan sampai tamat kuliah, biaya hidup, buku dan lainnya. Luar biasanya, beasiswa ini tanpa kontrak kerja. Ini adalah awal baru kehidupan saya, kekurangan kebutuhan yang membuat saya ingin berhenti kuliah, ternyata dijawab dengan prestasi ini.

Akhirnya keinginan saya yang ingin membuktikan bahwa wanita itu juga bisa berwawasan, berintelektual, berpendidikan, dan bergelar sarjana sedang dalam kuasa Tuhan. Saya berharap agar secepatnya saya dapat menyelesaikan pendidikan saya. Keluarga yang sempat tidak menyetujui saya berkuliah, akhirnya bilang bahwa saya memang sangat berniat sukses berbeda. I’m possible! You?







(vem/nda)
What's On Fimela