Belajar Bahasa Asing Mengubah Hidupku, Meski Sempat Dikira Mau Jadi TKW

Fimela diperbarui 29 Mar 2018, 11:15 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Aku adalah anak aktif yang juga dikenal memiliki rasa ingin tahu tinggi. Prestasi di sekolah kucapai sejak sekolah dasar, namun karena beberapa kejadian, secara perlahan aku memilih untuk tidak terlalu menonjolkan diri. Ya, aku adalah si kutu buku yang tidak memiliki teman dekat. Sahabat-sahabatku yang baru kutemukan di bangku SMU, meyakinkanku untuk terus menggali kemampuan bahasa asing dan percaya jika suatu hari aku akan menjadi penulis seperti yang kucita-citakan, walau banyak orang berkata jika semua kegemaran itu tidak ada faedahnya.

Selain mencintai buku, aku tergila-gila dengan menulis. Hobi lainnya adalah menekuni bahasa asing. Aku serius belajar bahasa Inggris sampai lumayan fasih lalu berhasrat untuk menguasai bahasa Jepang. Andai ada kelas bahasa di SMU dulu, pasti aku akan masuk kelas itu. Ketika aku bercerita mengenai hal ini kepada orangtua, yang terlontar dari mereka adalah,”Untung di sekolahmu nggak ada kelas bahasa. Yang bagus itu masuk kelas IPA. Kam mau jadi apa kalau masuk kelas bahasa?”



Mendengar itu aku jadi sedikit kecewa. Selama ini orangtuaku memang tidak melarangku untuk ikut les bahasa asing atau menulis cerita di sela waktu belajar, tetapi jika menjadikan kedua hobi itu sebagai tujuan hidup agaknya akan menimbulkan perdebatan. Profesi yang keren itu selalu identik dengan hal-hal berbau eksakta seperti dokter dan insinyur. Kelas IPA atau Sains dianggap lebih prestisius.

Belajar Bahasa Jepang Disebut Mau Jadi TKW
Lulus SMU, aku diminta Ayah untuk masuk ke jurusan-jurusan berbau ilmu eksakta. Hasilnya gagal semua. Yang ada di benakku adalah aku ingin menjadi orang yang fasih berbahasa asing dan juga menjadi penulis yang inspiratif. Setelah gagal di berbagai ujian masuk, kunyatakan keinginan kepada orang tua jika ingin masuk jurusan Sastra Jepang. Respons yang kuterima sudah bisa kutebak.

“Mau lulus jadi apa? Anak-anaknya teman Ayah yang masuk jurusan itu bilang kalau Sastra Jepang itu gampang masuknya, sulit keluarnya. Banyak yang mutung di tengah jalan.”



Kecemasan itu memang ada benarnya. Apalagi keluargaku bukanlah keluarga kaya sehingga jika ingin menguliahkanku pasti  harus rela mengencangkan ikat pinggang. Singkat cerita, aku berkuliah di jurusan impianku setelah berjanji kepada Ayah,”Lihat deh, Yah. Aku akan menjadi yang terbaik. Aku akan lulus dengan prestasi terbaik.”

Yang menyakitkan adalah kata-kata dari kenalan yang bilang,”Mau apa belajar bahasa Jepang? Mau kerja jadi pembantu di sana? Mau jadi TKW?”

Pikiran orang-orang yang tidak tahu dan awam menghujat pilihan kuliahku. Aku tak peduli. Aku belajar jauh lebih keras dari mahasiswa lain yang berasal dari kelas bahasa dan sempat mengenyam bahasa Jepang lebih lama. Aku pernah ikut kursus bahasa Jepang ketika SMP tetapi hanya sebatas tata bahasa paling dasar dan akhirnya lupa karena kursusnya bubar di tengah jalan. Kuliah bahasa Jepang tak hanya belajar huruf kanji, tata bahasa ratusan, budaya dan sastranya tetapi juga sedikit ilmu psikologi. Kupakai waktu malamku untuk belajar. Hampir tiap hari selalu ada kuis atau tes kecil yang mempengaruhi indeks prestasi. Syukurnya, aku bisa melaluinya dengan sangat baik. Tiap semester aku mendapat nilai terbaik bahkan pernah mendapat indeks prestasi sempurna dua kali. Nilai IP tidak pernah di bawah 3,6. Beasiswa pun sering kuperoleh.

Profesi Penerjemah dan Penulis
Sejak tahun terakhir kuliah, aku mencari banyak pekerjaan freelance, dari menerjemahkan di event, menerjemahkan naskah tertulis dan menulis artikel. Hanya 4 jam waktu tidurku selama sehari sampai tubuhku ambruk karena maag akut dan sinus akut. Profesi penerjemah pun kuperoleh selepas lulus kuliah. Aktivitas menulisku semakin meningkat dari yang hanya sebagai penulis antologi meningkat menjadi penulis buku atas nama sendiri dan blogger. Aku pun belajar content writing secara perlahan. Kini tulisan-tulisanku dan juga kemampuanku dalam berbahasa asing sudah memberiku rezeki yang cukup. Malah kini aku dipercaya untuk sesekali mengisi workshop mengenai kepenulisan. Sungguh sebuah keajaiban!



Dengan menjadi penerjemah, aku juga belajar hal baru di kantor. Mulai dari ilmu manufaktur, bisnis,manajemen dan lainnya. Penerjemah di dunia perusahaan juga dituntut memiliki kemampuan di luar bahasa asingnya.

Kini mulai banyak yang berkeinginan mengasah kemampuan bahasa asingnya dan ingin belajar menulis. Duniaku semakin meluas. Mereka yang dulu mencibir kini bertanya padaku apa aku dulu sudah tahu soal kemungkinan bahasa asing serta menulis akan menjadi kebutuhan saat ini? Jelas saja aku menjawab tidak. Aku tak pernah bisa meramal bagaimana dunia akan berputar. Yang kumiliki adalah rasa percaya dan ketekunan agar dua passion-ku benar-benar bermanfaat.

Kini aku bukan lagi anak kutu buku yang menutup diri dari dunia. Aku memiliki banyak impian dan semuanya berkat dua hobi yang kujadikan energi dalam hidup, selain karena ingin membahagiakan orang tua. Cintai impian kita dengan tulus, bekerja keras, dan lihat keajaiban apa yang akan kita terima.





(vem/nda)