Ujian Terberat Menikahi Pria Terpandang adalah Menahan Nyinyiran Orang

Fimela diperbarui 17 Mei 2018, 11:15 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

2008 – 2018. Tahun ini tidak terasa sepuluh tahun sudah saya dan suami membangun bahtera rumah tangga. Alhamdulillah selama sepuluh tahun perjalanan rumah tangga, Allah telah memberikan kepercayaan kepada kami seorang putri yang kini berusia 9 tahun. Dan seorang putra berusia 2 tahun. Sungguh terasa lengkap dalam kehidupan rumah tangga kami.

Di balik semua kebahagiaan yang kami rasakan itu, bahkan sampai saat ini saya masih merasa sangat berat untuk memaafkan orang–orang yang dahulu telah dengan begitu tega menghina, melecehkan, memfitnah saya dan keluarga saya. Saya menikah dengan suami yang notabene secara finansial berkecukupan. Saya waktu itu hanyalah seorang gadis yang tidak punya apa–apa. Saya hanya seorang guru honorer di sebuah sekolah menengah atas di daerah saya.



Banyak sekali ucapan maupun perbuatan yang dilakukan orang di sekitar saya yang sampai saat ini masih sulit sekali saya lupakan. “Emang kamu punya apa kok berani beraninya menikah dengan mas A?" “Gadis jelek begitu nggak pantas jadi menantunya bapak K." “Paling–paling dia mau menikah sama mas A cuma mau moroti hartanya saja." “ Kasihan banget mas A udah ganteng, kaya. Tapi istrinya kok cuma kayak gitu?" Itu adalah beberapa hinaan yang harus saya terima saat awal pernikahan kami.  

Setelah menikah saya baru sedikit bercerita kepada suami tentang keadaan yang saya alami. Alhamdulillah suami saya selalu mendukung saya dan memberi semangat supaya saya tidak mudah menyerah dan berusaha membuktikan kepada semua orang bahwa yang mereka bicarakan tentang saya itu tidak benar.



Setiap saat saya berusaha untuk mencoba memaafkan orang yang telah menyakiti saya. Saya sudah memaafkan mereka, tapi sulit sekali rasanya untuk menghilangkan luka yang telah mereka goreskan di hati saya. Allah tidak tidur. Mereka yang dahulu meremehkan dan merendahkan saya sekarang mulai diam.

Waktu jua yang membuktikan bahwa saya bukanlah seperti apa yang mereka pikirkan. Saat bertemu dengan saya mereka yang kebanyakan adalah saudara dari suami yang dulunya tidak menyukai saya sekarang berbalik 180 derajat. Dengan kesabaran dan keikhlasan semua hal buruk pasti berlalu.

Kita tidak pernah tahu akan seperti apa perjalanan hidup kita dan akan jadi seperti apa kita ke depan. Allah akan selalu bersama denga orang-orang yang ikhlas dan bersabar. Semua akan indah pada waktunya.

(vem/nda)
What's On Fimela