Merawat Ibu dan Menjaga Pacar yang Punya Gangguan Kepribadian, Aku Kuat!

Fimela diperbarui 25 Jun 2018, 17:00 WIB

Kadang dalam hidup ini, perempuan punya peran istimewa sebagai seorang penjaga. Meski kadang ujian hidup begitu berat tapi seorang perempuan bisa begitu tangguh menjalaninya. Seperti kisah sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #JagainKamu ini. Ada cerita yang begitu menyentuh hati di dalamnya. Lomba menulis kali ini dipersembahkan oleh Softex Daun Sirih, yang selalu #JagainKamu para perempuan Indonesia.

***

Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Jakarta, aku anak kedua dari dua bersaudara dan sekarang sekarang kakakku telah memiliki keluarga kecil dan tidak lagi satu rumah denganku. Aku hanya tinggal berdua bersama ibuku di suatu perkampungan kecil di pinggir kota. Dapat dikatakan kalau ibuku sudah tidak muda lagi karena usianya hampir menyentuh angka lima tetapi ia harus tetap bekerja untuk makan sehari-hari sebab kondisi finansial kami yang jauh dari kata cukup sehingga kami harus bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga.

Aku berusaha untuk lebih perhatian dalam menjaga kesehatannya. Di usia tua seperti sekarang ini, ibuku sering mengeluh merasa sakit kepala hingga pegal-pegal, maklum penyakit tua katanya. Tak jarang aku harus menjaga asupan makanan yang akan dikonsumsi oleh ibuku, juga menyuruhnya istirahat lebih cepat dari biasanya.

Terkadang aku merasa itu tidaklah mudah untuk dijalani, kegiatanku sebagai mahasiswi yang begitu banyak dan lelahnya bekerja paruh waktu membuat aku hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Namun sebagai seorang anak, aku merasa memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga ibuku seorang diri. Seringkali merelakan jadwal kuliahku untuk mengantarkan ibuku apabila ia memiliki keperluan di tempat yang jauh dari rumah karena rasa khawatirku dengan keadaan ibu apabila ia berangkat sendiri menggunakan kendaraan umum.



Ibu sudah tak muda lagi, tak bisa jalan dalam jarak yang jauh, juga tak bisa terkena terik matahari yang sekarang semakin memanas suhunya. Selain menjaganya, cara untuk tetap dekat dengan ibuku adalah dengan meluangkan waktu untuk bercerita bersama ibu, membuat beberapa lelucon dan tertawa bersama karena aku tidak mau membiarkannya merasa kesepian di masa tua. Aku harus memastikan ibuku tetap senang dan bahagia walaupun hanya tinggal bersamaku, agar ia mampu menjalani pekerjaannya dengan mudah sebab moodnya selalu terjaga.

Tak jarang aku mengajak ibuku untuk jalan-jalan mengunjungi mall besar yang ada di Jakarta pada akhir pekan, pastinya di saat ibuku libur bekerja. Mengajaknya makan di restoran dan sekadar melakukan swafoto bersama. Menciptakan suasana yang menyenangkan bersama ibu adalah hal yang terbaik yang selalu aku rindukan. Jika ibuku tak ingin keluar rumah saat akhir pekan, aku berinisiatif untuk mengajaknya memasak kue, itu adalah salah satu cara yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama. Dengan begitu aku merasa terkasihi karena kasih sayang ibu mengalir lewat perhatiannya. Menjadikan aku selalu merasa cukup walaupun secara materi, kami hanya mencapai kelas menengah ke bawah. Maka dari itu, menjaganya adalah suatu kewajiban bagiku, tak hanya menjaga kesehatannya, aku juga berusaha untuk selalu menjaga keamanan dan rasa nyaman selama aku bersama ibuku.

Selain aku menjadi penjaga ibu, aku juga perlu menjaga kekasihku karena ia memiliki gejala BPD atau Borderline Personality Disorder. Menurut ahli, BPD merupakan gangguan kepribadian dengan ketakutan terhadap suatu pengabaian atau ditinggalkan. Hal ini dapat ditandai ketika kekasihku merasa dirinya terabaikan oleh orang-orang terdekat atau orang yang ia percaya, di saat belum tentu ada bukti nyata bahwa ia benar-benar sedang diabaikan.



Suatu ketika, dalam hubungan kami pernah mengalami masa di mana ia merasa begitu takut ditinggalkan olehku, padahal tidak terjadi masalah yang berarti sebelumnya. Ia menangis sembari memberikan beberapa perumpamaan kalau nantinya aku akan benar-benar meninggalkannya. Aku hanya bisa berusaha untuk memberi kepercayaan padanya kalau aku tidak akan melepaskan hubungan ini apabila tak ada masalah fatal yang terjadi dalam hubungan kami. Tetapi waktu itu sangat terlihat jelas dari pandangannya kalau ia mengalami kecemasan yang dalam, sehingga aku memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya merasa tenang.

Gejala lainnya adalah perubahan mood yang ekstrem, apabila ia merasa ada hambatan yang terjadi di luar dugaan maka ia akan bersikap emosional. Perubahan mood-nya begitu drastis dari senang ke marah, cemas ataupun depresi. Misalnya ketika ia memiliki janji dengan seorang teman dari luar kota, dan ia terhambat di tengah kemacetan yang sebelumnya tidak ia prediksi maka ia akan merasa marah selama perjalanan dan muncul kecemasan yang berlebihan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Seringkali penderita gejala BPD ini memiliki perilaku yang impulsif seperti menghabiskan uang dengan sembarangan (tanpa tujuan atau kebutuhan tertentu) juga mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan serta sering sekali memikirkan apa tujuan ia hidup di dunia ini.



Aku tahu bahwa ketidakstabilannya dalam mengontrol dirinya sendiri dapat berdampak sangat buruk, sehingga aku perlu berusaha untuk menjaga perasaannya agar tetap tenang. Walaupun belum tentu nantinya akan berjodoh atau tidak. Aku pun belum memiliki pikiran akan menikah dengannya dan hidup berkeluarga. Tapi bagaimana pun juga sekarang aku adalah orang terdekatnya yang selalu menjadi tempat ia bercerita dan menjadikan dia orang yang apa adanya.

Aku harus memberi pengertian dengan segala yang sedang ia rasakan, aku tidak boleh egois seperti perempuan pada umumnya yang selangkah lebih ingin di mengerti. Aku sadar aku lebih bisa mengontrol apapun yang ada dalam diriku dibandingkan dengan kekasihku saat ini. Dengan menjadi penjaganya, aku memiliki harapan yang besar agar gejala BPD ini akan segera hilang dari dirinya dan lebih mudah menjalankan hari-harinya dalam meraih kesuksesan.

(vem/nda)
What's On Fimela