Pengalaman Berinteraksi dengan Pelajar yang Maunya Nikah Aja Selepas SMP

Fimela diperbarui 20 Agu 2018, 13:00 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Tidak ada yang salah dengan menikah. Siapa yang tidak ingin hidup satu atap bersama orang terkasih? Bagi insan dimadu cinta, menikah kerap jadi cita-cita utama.

Menikah juga sering dianggap sebagai keputusan tepat bagi mereka yang sudah lelah dengan kerasnya kehidupan. “Duh, mending nikah aja deh aku, ngerjain skripsi nggak kelar-kelar!” “Cari kerja nggak dapet-dapet, maunya dinikahin aja kalau gini caranya!” dan sebagainya. Seolah-olah menikah cuma perkara bikin mie instan. Padahal menikah tidak sesederhana itu. Percayalah, karena saya sudah mengalaminya.

Beberapa waktu belakangan ini, “tren” menikah muda sedang marak jadi perdebatan. Sebagian mendukung, sebagian lagi menolak mentah-mentah. Bagi saya, menikah muda sah-sah saja, asal usia pelakunya di atas 19 tahun.



Saat ini Undang-undang yang jadi pegangan pemerintah adalah UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam peraturan tersebut, tertulis usia minimal penduduk Indonesia untuk menikah adalah 19 tahun bagi laki-laki, dan 16 tahun bagi perempuan. Tapi belum lama ini, tidak sedikit pihak yang mendorong pemerintah merevisi UU yang dipandang sudah tak lagi relevan itu. Seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang mendukung peningkatan batas usia menikah. Menurut Komisi KPAI, Retno Listyarti, seharusnya minimal usia laki-laki menikah adalah 21 tahun, sedangkan perempuan 18 tahun.

Saya pribadi, ada di barisan terdepan pendukung usulan KPAI itu. Karena menikah menurut saya bukan hanya sekadar mencari teman tidur. Ada banyak elemen yang perlu dipersiapkan seseorang untuk berkomitmen dalam sebuah ikatan pernikahan.

Selain fisik, ekonomi dan mental juga harus siap lahir batin. Menurut sebuah data yang pernah saya baca, tingkat perceraian tertinggi justru terjadi pada pernikahan yang dilakukan di usia dini. Begitupun dengan kemungkinan keguguran yang menghantui. Perempuan yang masih dini, secara fisik rahimnya belum siap untuk mengandung. Kegagalan kehamilan jadi peristiwa yang sering terjadi pada pelaku menikah muda.



Sedihnya, menikah muda justru jadi cita-cita sebagian besar pelajar perempuan SMP yang pernah saya kunjungi di Wonosobo. Saat itu saya mendapat kesempatan menjadi pengajar bersama teman-teman komunitas pendidikan 1000 Guru Jogja.

Berinteraksi dan berkomunikasi dengan pelajar-pelajar di sana menjadi cara saya untuk membuka mata lebih luas lagi. Di kota, mungkin kita kenyang dengan anak-anak yang melek teknologi, sehari-hari mengakses media sosial, dan punya cita-cita mulia, mulai jadi astronot sampai ilmuwan. Tapi, lain halnya dengan siswa-siswi yang saya temui di sana.

Boro-boro update story di Instagram, sinyal saja kembang kempis. Maklum, daerahnya masih cukup terpencil, butuh waktu dan transportasi yang tidak sembarangan untuk sampai ke sana, mengingat medannya yang begitu sulit dilewati. Tidak hanya teknologi saja yang terbatas, pemikiran mereka pun masih sangat sempit. Tidak ada sama sekali bayangan di kepala mereka untuk menjadi peneliti di NASA, atau pemenang olimpiade internasional. Setelah lulus SMP, cita-cita mereka cukup sederhana: menikah.

Tidak heran bagi saya ketika tahu lingkungan mereka pun ternyata tidak jauh-jauh dari menikah muda. Ayah ibu mereka kebanyakan juga menikah di usia yang masih sangat belia. Usia yang harusnya jadi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dan eksplorasi hal baru bagi anak seluas-luasnya.



Sebagian ada juga yang bermimpi jadi sopir truk atau tukang bangunan. Sekali lagi, mereka pun bercermin dari keluarga dan lingkungan terdekat. Wajar. Tapi kewajaran ini harus segera diperbaiki. Saya dan teman-teman komunitas sangat percaya kalau mereka berhak punya mimpi setinggi-tingginya, tidak boleh kalah dengan anak-anak kota. Mereka hanya butuh dituntun, dibantu agar pemikirannya berkembang.

Saat itu yang saya dan teman-teman lakukan adalah memotivasi mereka dengan menjelaskan beberapa profesi yang bisa mereka tekuni sejak dini. Tentu berdasarkan minat mereka. Misalnya ada yang bermimpi jadi tukang bangunan, kami terangkan bahwa minat mereka bisa dialihkan ke profesi lain yang lebih “menjual” seperti arsitek atau teknisi. Atau siswa-siswi yang ingin jadi petani, kami perkenalkan dengan profesi lain seperti peneliti di bidang pertanian, atau bahkan Menteri Pertanian.

Khusus untuk pelajar perempuan yang ingin menikah, kami beri pemahaman dan pendekatan juga bahwa ada banyak hal yang bisa mereka lakukan saat lulus SMP nanti, tentunya selain menikah. Kami juga menerangkan bahwa menikah butuh kesiapan fisik dan mental yang matang.

Beberapa antusias ketika saya berbicara mengenai beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Keterbatasan informasi mengenai biaya dan akses ke sekolah menengah atas, secara tidak langsung juga turut mempersempit pemikiran mereka soal apa yang seharusnya dilakukan selepas lulus SMP, selain menikah. Asumsi mereka, melanjutkan sekolah ke SMA adalah suatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan karena butuh biaya cukup besar.



Tidak seperti sekolah SD atau SMP yang lokasinya bisa ditempuh dengan jalan kaki, letak SMA di sana memang terbilang cukup jauh. Dalam satu kecamatan sebegitu luasnya, hanya ada 1 SMA Negeri berdiri. Lokasinya yang tidak dekat dari rumah, membuat mereka yang ingin lanjut sekolah terpaksa harus kos atau kontrak. Sedangkan kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk itu. Sebuah dilema dan polemik cukup serius bagi kita anak muda yang peduli pendidikan, dan mereka pemangku kebijakan.

Meski mungkin tidak mudah mengubah begitu saja pemikiran sempit mereka, tapi saya berharap apa yang sudah saya dan teman-teman komunitas lakukan bisa berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya perjuangan kami melewati medan bebatuan di lereng pegunungan, menggunakan sepeda motor yang sempat mogok beberapa kali, dengan angin malam yang dinginnya tidak ketulungan, sedikit terbayar dengan melihat senyum dan antusiasme adik-adik, mendengarkan setiap kata yang kami lontarkan, dan setiap tawa yang kami bagi.

Ini pengorbananku, mana pengorbananmu?

(vem/nda)
What's On Fimela