Cinta Bisa Datang Belakangan Saat Sudah Sama-Sama Merasa Nyaman

Fimela diperbarui 12 Apr 2018, 13:00 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Orang-orang di sekelilingku terlalu sering mengatakan, “Berdamailah dengan dirimu sendiri, Fit.” Mungkin yang mereka pikirkan berdamai dengan diri sendiri itu adalah hal mudah. Tapi bagiku itu sangat sulit untuk dilakukan, butuh waktu tahunan untuk aku memutuskan, "Oke, aku menyerah."

Aku seorang wanita 24 tahun, sehat secara fisik dan psikologis. Tentu seorang wanita yang sadar bahwa dirinya sehat secara fisik maupun psikologis wajar jika dia memiliki mimpi dan harapan-harapan untuk hidupnya. Tapi tidak untukku, semua harapan yang kumiliki harus kubuang jauh-jauh demi sebuah sikap patuh dan tunduk kepada kedua orangtuaku.



Selama 24 tahun dalam hidupku aku tak pernah sekalipun menyesali sikap patuhku kepada orang tuaku. Aku memahami mereka, tentu sebagai orangtua mereka ingin yang terbaik untuk putri bungsunya ini. Aku ikuti semua ingin mereka. Masalah pendidikan bahkan pekerjaan yang aku geluti saat ini pun adalah pilihan orang tuaku. Tapi aku tidak bisa menerima keputusan mereka perihal jodoh atau pasangan hidupku. Ini tentang pasangan hidup, yang dengan dia aku akan melewati sisa-sisa dari usia yang kumiliki, yang dengan dia harusnya aku bisa membagi bahagia sekalipun duka yang kualami. Dengan menyadari fakta itu bagaimana mungkin aku bisa begitu saja menerima keputusan orangtuaku untuk menjodohkanku dengan anak salah satu teman mereka?

Untuk pertama kalinya aku menolak kehendak mereka. Berbulan-bulan aku mencari alasan kuat agar aku bisa mengatakan tidak pada keputusan mereka. Aku akui aku memanglah seorang wanita yang sulit untuk merasakan suka pada seorang pria. Bahkan dalam 24 tahun hidupku aku hanya pernah satu kali berpacaran itu pun semasa aku masih ABG. Mungkin hal ini juga yang membuat kedua orang tuaku khawatir, mereka berpikir bahwa jika aku dibiarkan mencari jodohku sendiri aku akan jadi perawan tua yang sering digunjing oleh para tetangga rumah kami.



Dalam perjalanan mencari alasan untuk menolak ini, aku sering bertemu dengan teman-temanku, meminta mereka untuk mengenalkanku dengan pria yang menurut mereka baik. Berkali-kali aku mencoba untuk bertemu dengan mereka, mungkin memang dasarnya hatiku ini sedikit bebal jadi aku tak pernah merasa cocok dengan laki-laki pilihan teman-temanku itu. Pada akhirnya mereka menyerah dan berhenti. Mereka selalu menyarankanku untuk mencoba berkenalan dengan pria pilihan orang tuaku, mereka selalu bilang tidak ada salahnya untuk mencoba, cinta bisa datang belakangan saat kamu merasa nyaman nanti.



Awal tahun 2018 ini akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan iya kepada orangtuaku. Pertemuan dua keluarga mulai dibicarakan hanya untuk membuat kami saling mengenal. Kami memulai percakapan pertama kami seusai pertemuan dua keluarga dengan kikuk, dengan rasa canggung yang tidak bisa dibantahkan. Kesan pertama yang kudapatkan dari pria ini adalah dia begitu sopan dan terlihat cerdas. Berminggu-minggu kami mulai bertukar pesan lewat WhatsApp. Banyak hal yang harus kami tahu, terutama tentang kepribadian masing masing.

Mungkin benar apa yang sering teman temanku katakan bahwa cinta bisa datang belakangan saat aku mulai merasa nyaman. Saat ini mungkin masih terlalu dini jika aku mengatakan bahwa aku mulai menyukai pria pilihan orang tuaku, karena kami masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain. Kami intens berkomunikasi, saling menanyakan kabar dan melaporkan hal-hal yang kami lakukan hari ini. Hingga pada akhirnya aku mengatakan iya untuk kedua kalinya pada tawaran yang dia berikan, iya untuk menikah kali ini.



Kedua orangtuaku tentu sangat bahagia dengan keputusan kami berdua. Mereka bilang bahwa aku tidak akan pernah menyesal telah mengambil keputusan untuk selalu patuh kepada mereka, karena mereka adalah orangtuaku. Meski apa yang aku jalani saat ini adalah hidup milikku, tapi aku tidak akan ada dan tidak akan seperti saat ini tanpa kedua orang tuaku. Mereka tetaplah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupku, kelak aku akan mempertahankan sikap patuhku dan selalu mempertimbangkan apa yang menjadi ingin mereka karena tidak pernah sekalipun aku menyesal untuk melakukan apa yang mereka pilihkan. Dengan begitu aku juga bisa bahagia.




(vem/nda)