Dilangkahi Adik Nikah Duluan, Wanita Usia 30an Beban Mentalnya Makin Berat

Fimela diperbarui 20 Apr 2018, 19:30 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Saya seorang perempuan single yang sudah berusia di atas 30 tahun. Dalam kehidupan sehari-hari tentu masih menjadi hal tabu di beberapa kehidupan sosial. Tidak mudah menjalani hari dengan beberapa omongan orang lain yang terdengar langsung maupun tersampaikan melalui perantara. Yang menjadikan hal tersebut makin berat adalah posisi saya sebagai anak sulung, adik saya lelaki dan sudah memasuki usia siap menikah. Bahkan adik saya tersebut sudah memiliki kekasih yang tentunya juga mulai memasuki usia menikah.

Sudah dari jauh hari saya menyiapkan mental untuk dilangkahi sang adik. Pada tahun 2015, saya mulai berpikir untuk mendorong adik saya segera melamar kekasihnya. Jika sampai akhir tahun 2015 adik saya belum juga melamar kekasihnya, maka saya yang akan memunculkan isu tersebut di keluarga. Adik saya memang lelaki, tidak menjadi hal tabu kalau sampai menikah di usia yang lebih dewasa lagi. Tetapi di samping adik saya ada sang kekasih yang juga perempuan dengan usia siap menikah, itu yang menjadi pertimbangan berat saya.



Pada tahun yang sama akhirnya adik lelaki saya itu meminta izin untuk melamar kekasihnya. Saya langsung mengizinkannya karena memang saya tidak mau menjadi penghambat jodoh orang lain. Tapi justru saat itulah konflik keluarga dimulai. Bapak keberatan kalau saya sampai dilangkahi. Perdebatan bapak dan saya cukup serius, sampai pada titik di mana kami berdua menangis bersama. “Bapak mau nunggu sampai kapan? Pacar aja nggak punya, jodoh saya masih gelap” Terdengar putus asa memang, tapi itulah sebenarnya perasaan saya saat itu. Saya putus asa. Tidak berani lagi untuk berharap.

Setelah bapak setuju untuk melamarkan adik saya, konflik terjadi lagi di lingkungan keluarga besar dan tetangga sekitar. Terus terang, saya dan ibu hanya bisa saling menguatkan. Jika memang jodoh tidak akan bisa dicegah, begitupun sebaliknya, kalau memang tidak jodoh diusahakan bagaimana pun tidak akan bisa bersatu. Hanya kata-kata itu yang bisa kami berikan setiap ada orang yang bertanya (nyinyir), “Kok adiknya dulu yang nikah?” Mungkin orang lain pikir hal tersebut bukan hal besar buat kami. Mereka tidak pernah tahu gejolak emosi yang kami rasakan di dalam diri kami masing-masing. Saya, ibu, dan bapak hanya bisa mencoba lapang dada atas kejadian ini. Saya, ibu, dan bapak berusaha menekan ego kami masing-masing di hadapan orang lain.



“Kamu milih-milih kali,” beberapa orang teman berkata seperti itu seolah saya belum menikah sampai sekarang adalah kesalahan saya. “Pilkada yang cuma lima tahun aja milih, apalagi suami yang buat seumur hidup,” hanya itu jawaban yang bisa saya berikan. Sambil tertawa miris tentunya.

Sebenarnya ada beberapa hal lain yang menjadi pertimbangan saya atas ketidaksiapan untuk menikah. Masalah ekonomi salah satunya. Saya takut kalau saya sudah menikah, kebutuhan adik saya yang lain akan kurang terpenuhi. Selain adik yang sudah menikah tersebut, masih ada dua adik lainnya. Bahkan yang bungsu saat ini masih berkuliah. Hati kecil saya pernah berucap, akan lebih baik kalau saya menikah saat si bungsu sudah menjadi sarjana. Mungkin Tuhan mendengar ucapan itu dan mengabulkannya. Insya Allah tahun ini si bungsu tamat kuliah, harapan untuk menikah kembali muncul tahun ini.



Namun ada gejolak emosi lainnya. Adik pengais bungsu adalah perempuan dan sudah ada yang siap melamar, saya harap tidak ada tragedi dilangkahi yang lainnya. Entah apa yang terjadi nanti, keyakinan saya tetap sama. Tidak ada yang perlu disesali. Apa yang terjadi adalah yang terbaik.




(vem/nda)