Aturan tentang seks memang tertulis dengan jelas pada tiap-tiap agama yang ada di dunia ini. Terdapat beberapa batasan yang tidak boleh dilakukan dan harus diakui, tetapi juga ada banyak hal yang boleh dilakukan dalam topik yang satu ini. Hal ini juga terjadi pada agama Buddha. Aturan tentang seks pada agama Buddha tertulis dalam aturan monastik.
Dalam aturan yang berada dalam bagian Vinaya-pitaka ini menyebutkan bahwa biarawan dan biarawati dari agama ini dilarang untuk melakukan hubungan suami istri dengan lawan jenisnya. Jika hal ini dilanggar, akan ada hukuman bagi para biarawan dan biarawati tersebut. Hukuman apa yang harus diberikan pun sudah tertulis dalam aturan yang satu ini.
Aturan ini begitu ketat dijalankan selama berpuluh-puluh tahun oleh banyak negara yang masyarakatnya beragama Buddha, tetapi ada satu negara yang akhirnya merubah aturan ini. Negara tersebut adalah Jepang. Seperti yang diceritakan dalam buddishm.about.com, aturan ini mulai berubah ketika ada seorang biarawan Buddha dari Jepang yang bernaman Shinran Shonin memutuskan untuk menikah dan tetap menjadi seorang biarawan. Ia kemudian meperbolehkan biarawan-biarawan Buddha dari Jodo Shinshu miliknya untuk melakukan hal yang sama.
Hal ini kemudian diikuti oleh seluruh biarawan Buddha di hampir semua pelosok negara ini. Oleh karena itu, pernikahan yang dilakukan oleh para biarawan semakin meningkat saja. Namun, ijin untuk menikah ini hanya bisa diperoleh para biarawan. Biarawati tetap tidak boleh untuk menikah. Peraturan ini terus berlangsung hingga sekarang ini.
Oleh: Meilia Hardianti
(vem/rsk)