Tetap Tegar Menjadi Ibu Tunggal, meski Mantan Suami Telah Menoreh Luka

Endah Wijayanti diperbarui 23 Mei 2019, 19:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: R - Jakarta

Sebenarnya di bulan istimewa tahun ini adalah bulan terberat untukku. Ya, Ramadan pertama aku sebagai ibu tunggal dengan satu putra yang umurnya belum genap dua tahun. Tak bisa dipungkiri kenangan Ramadan tahun lalu masih membekas di hati, di kala kami masih bisa berbuka puasa bersama layaknya satu keluarga bahagia. Tapi sungguh kita tidak akan pernah tahu masa depan, entah bulan depan, lusa atau esok bahkan beberapa jam setelah ini. Masih ku capkan rasa syukur dalam hati ketika aku masih dapat mempersiapkan pakaian hari raya untuknya tahun kemarin untuk terakhir kalinya selama delapan tahun bersama.

Badai berembus tanpa kenal dari mana sebabnya. Atau memang diriku yang kurang peka. Memang di beberapa bulan sebelumnya dia terlihat begitu acuh padaku. Bahkan pesan yang dikirimkan hanya berupa kata singkat. Kami memang menjalankan hubungan long distance marriage, hanya dapat bertemu di akhir pekan. Tak jarang aku menguntai kata rindu kepadanya, namun jawabnya hanya aku yang terlalu manja. Bahkan perhatiannya pun perlahan menghilang pada satu-satunya buah hati kami yang baru genap sepuluh bulan kala itu. Dalam ibadahku selalu aku berdoa kepada Tuhan agar menjaganya untukku dan menjauhkannya dari hal buruk.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Melepasnya Memaafkannya

Ilustrasi patah hati (iStockphoto)

Kala itu di hari raya, hari di mana kami seharusnya berbahagia menyambut kemenangan. Ia datang dengan muka masam dan diam seribu bahasa. Sampai akhirnya aku tahu di sinilah akhir dari segalanya. Ya, dia meminta agar kami berpisah. Dengan berbagai alasan yang ia untai sedemikian rupa seakan-akan aku penyebab segalanya, hingga aku memohon untuk dapat mempertahankan semua. Namun, ia tetap berucap dengan lantang bahwa memang sudah tak ada lagi rasa.

Ya, akhirnya kami berpisah. Namun, di satu sisi aku sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa sebenarnya alasan dari pisahnya kami bukan karena kesalahanku. Tuhan membuka semua rahasia yang ditutupi setiap hamban-Nya dan ini adalah jawaban dari setiap doa yang aku untai.

Tak disangka ia memang sudah memiliki seseorang yang menggantikan posisiku di hatinya. Dan tak mungkin aku memaksa perasaan yang sudah tidak lagi untukku. Jadi, kuputuskan untuk melepaskannya. Meski tak bisa disangkal ini sangat menyakitkan, mungkin melihatnya bahagia dengan orang lain adalah pilihan terbaik. Walaupun kini aku memutuskan untuk menjaga jarak komunikasi dengannya, aku terus berusaha untuk dapat memaafkan kesalahannya. Percayalah untuk dapat memaafkan dengan baik, kadang kita perlu melupakan seseorang dengan segala kenangan dengan sepenuhnya.

 

3 dari 3 halaman

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA