Pelukan Terakhir untuk Mama Tercinta

Endah Wijayanti diperbarui 10 Des 2019, 11:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Tita Widya - Bandung

Aku Ikhlas, Mah

Sudah hampir tiga tahun ini, aku masih mendengar suara itu, masih mencium aroma itu. Suara mesin pemantau denyut jantung yang setiap detik berbunyi ‘nuuuttttt’. Aroma kasur bercampur aroma lantai yang telah di pel dengan karbol. Uh, wangi karbol! Khas sekali. Aku berpijak di lantai yang dingin itu dengan bertelanjang kaki. Rasa dingin merasuk ke tulang.

Entah kenapa begitu masuk ke ruangan itu, seluruh udara terasa mencekik. Mencekik seluruh kemampuan fisik dan batinku untuk tetap kuat berdiri. Kali ini aku rapuh. Bukan tak ingin optimis, tapi setelah kesekian kali seperti ini, rasanya mungkin ia pun lelah. Aku tidak bisa memaksanya. Apalagi memaksa takdir dari-Nya.

Ibuku, biasa aku panggil mamah. Sudah seminggu terbaring di ruang ICU. Kesadarannya hilang. Beliau hanya bisa tertidur lesu dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. Aku tak tahu itu apa saja. Aku sudah tidak bisa berpikir. Pikiranku mengawang-awang. Memikirkan betapa menderitanya mamah. Aku tahu sekali, ia orang yang sangat cengeng. Ketika sakitnya kambuh, ia selalu menangis sambil memelukku. Tapi kali ini, dekapan itu terhenti, tak ada tangis, tak ada suara. Tubuh itu, tubuh itu diam terpaku menatap langit-langit. Seolah sudah siap menemui-Nya.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Kehilangan Mama

Ilustrasi/copyright unsplash.com/@icons8

Dari aku remaja, mamah beberapa kali dirawat di rumah sakit. Ia terkena stroke jantung, oleh karena itu ia rutin berobat setiap bulan. Ia rajin sekali berobat, karena ia ingin sembuh. Ia masih ingin melihatku. Masih ingin tinggal bersamaku jika aku menikah nanti. Keinginannya sangat sederhana sekali. Ia tidak pernah meminta naik haji atau berlibur ke luar negeri, atau meminta tas branded keluaran terbaru. Ia hanya ingin sembuh. Namun untuk kali ini, keinginannya harus ia bawa ke alam lain yang lebih kekal.

Kehilangan Mamah di usiaku yang ke-27 tahun menyisakan perih yang berbekas. Bagaimana tidak? Aku sangat dekat dengannya. Setiap hari aku bersamanya. Aku bukan tipe anak yang senang bertualang, senang main di luar atau hang out dengan teman-teman. Aku tipe anak rumahan, yang menjadikan ‘tidur’ adalah sebuah agenda liburan sehabis penat bekerja. Kasih sayang mamah sangat ‘mengenyangkan’ buatku, terlebih karena memang aku anak semata wayangnya. Semua tercurah untukku. Hanya aku dan aku.

Begitu pun aku, semua hanya untuk mamah. Semua demi mamah. Pernah di satu momen, aku sedang terpuruk. Keuanganku menyusut, pengangguran, aku mencari kerja tak kunjung dapat, lalu mamah harus masuk rumah sakit karena darah tingginya kambuh, aku berpikir uang dari mana untuk biaya mamah.

Mamah yang saat itu sedang memakai alat bantu napas berkata padaku, “Udah Neng, nggak apa-apa dirawat aja, uang mah pasti ada." Padahal aku tak berkata apa-apa padanya, karena aku takut jadi beban pikiran. Ternyata, ia tahu apa yang aku pikirkan dan aku rasakan saat itu. Akhirnya mamah pun dirawat, dan kemudian aku dapat pinjaman dari bibiku untuk membayar biayanya. Tak lama kemudian, aku pun dapat pekerjaan di salah satu hotel di Bandung, sampai sekarang. Inilah doa mamah, ucapannya selalu menjadi doa di setiap langkahku. Di mana aku berpijak, di situlah doanya bersemayam.

3 dari 3 halaman

Masih Ada yang Bisa Disyukuri

Ilustrasi./copyright shutterstock

Aku bersyukur, aku bisa merawatnya saat ia sakit. Walaupun mungkin usahaku belum cukup dan tidak akan pernah cukup, untuk membalas semua kasih sayangnya. Namun, jika harus membelah dada ini, semua adalah tentangnya. Tak pernah sedetik pun aku lupa menyebut namanya. Meminta pada Allah untuk membuatnya kembali seperti dulu. Sehat, bugar, dan bisa melakukan aktivitas yang ia sukai.

Aku pun bersyukur masih bisa menungguinya saat ia terbaring lemah di ruangan dingin itu. Tertidur di ranjangnya sambil terduduk di kursi. Berharap ada sebuah tangan yang membelai rambutku, seperti yang sudah-sudah. Biasanya saat ia dirawat di rumah sakit, aku selalu tidur di dekat tangannya, dan ia membelai lembut rambutku, sambil berkata, "Maaf ya Nak, Mamah nyusahin terus."

Saat itu, kalimat maaf tidak terdengar lagi. Di detik hembusan napas terakhirnya, tak pernah ada kata-kata lagi. Tubuh mamah sudah terbujur kaku di ranjang keras itu. Seberapa kerasnya para suster berusaha untuk memacu jantungnya saat itu, mamah tidak bangun. Aku pun terdiam, aku masih memegang erat tangannya yang sedingin es. Lalu aku memeluk tubuhnya untuk terakhir kali, sambil berbisik lirih, “Mah, Tita ikhlas, kalau Mamah udah nggak kuat, nggak apa-apa."

Itu kali terakhir aku melihat jasadnya sebelum dibawa para suster ke ruang jenazah. Di ruangan itu, ruangan dingin nan kaku itu, kami berpisah. Kami sekarang terpisah jauh sekali. Aku masih harus berjuang di sini, bersama dengan bapak, hartaku yang harus aku jaga. Sedangkan mamah sudah bahagia di sana, sambil menungguku dan bapak.

Aku pun terhanyut dalam lamunan itu. Aku yakin mamah akan menungguku di sana. Namun, aku bertanya dalam hati, “Mengapa ia tidak mengucapkan selamat tinggal padaku, ya Allah? Mengapa ia pergi tiba-tiba begini?" Seketika lamunanku buyar dan diriku pun tersadar. Mungkin ini sudah takdir dari-Nya.

Mah, selamat tinggal sekali lagi. Aku berharap, kita akan bertemu di akhirat nanti. I love you, Mah.

 

#GrowFearless with FIMELA