Fimela.com, Jakarta Rivkah Lambert Adler mengaku belum pernah makan sushi, buah alpukat, sayap ayam, acar, yogurt, dan bahkan tidak pernah minum kopi. Ada banyak jenis makanan yang tidak pernah ia makan atau coba. Dalam sebagian besar hidupnya, ia tak tahu kenapa makan banyak makanan bisa membuatnya merasa muntah. Sampai kemudian ia tahu bahwa ia mengidap gangguan makan yang disebut ARFID.
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder atau ARFID kadang juga disebut selective eating disorder (SED). Melansir laman huffpost.com, singkatnya ini adalah sejenis fobia makan di mana penderitnya bila menelan jenis makanan tertentu atau sekadar membayangkan jenis makanan tertentu bisa menyebabkan hal yang tak diinginkan seperti tenggorokan yang tiba-tiba menutup, mual, atau muntah. Karena mengidap gangguan itu, Rivkah sering menolak makanan atau enggan makan.
Sejak Kecil Sudah Pilih-Pilih Makanan
Saat masih kecil, Rivkah sudah pilih-pilih makan. Ketika sekeluarga pergi ke restoran misalnya, dia hanya akan makan nasi putih. Lalu ketika sudah agak besar, Rivkah mulai makan telur gulung. Selain itu, dia juga punya pengalaman traumatis terkait makanan.
Ketika berusia sekitar 6-7 tahun, Rivkah mengalami anemia dan ibunya menyiapkan olahan hati untuk bantu menyembuhkannya. Namun, Rivkah menolak. Lalu ayahnya menyuruhnya untuk makan. "Kami akan duduk di sini sampai kamu makan ini. Dan jika kamu tidak memankannya malam ini, Ayah akan menyajikannya untukmu buat sarapan. Dan makanannya akan dingin," kata ayahnya waktu itu. Pada akhirnya sang ayah berhenti memaksanya makan. Lalu, seiring waktu berjalan Rivkah semakin sering menolak makanan.
Pengidap ARFID Memilih Makanan yang Mereka Anggap Aman
Saat sudah menjadi seorang ibu, Rivkah mulai mencari-cari info tentang kondisinya yang masih saja pilih-pilih makanan. Mungkin jika yang memilih-milih makanan itu anak kecil masih bisa dimaklumi. Sampai beberapa tahun lalu, ia menemukan sebuah grup di Facebook untuk pemilih makanan. Dari situlah ia tahu bahwa kondisinya itu disebut ARFID.
Pengidap ARFID memilih makanan yang mereka anggap sebagai "makanan yang aman". Setiap pengidap ARFID punya daftar tersendiri terkait makanan aman tersebut. Bagi Rivkah, makanan yang ia anggap aman meliputi pizza, pasta, dan kentang tutih atau makanan padat kalori seperti kacang-kacangan. Selain itu, dia bisa makan dada ayam tapi tidak untuk bagian sayap, kaki, atau pahanya. Dia bisa makan paprika kuning dan paprika oranye, tapi tidak untuk paprika merah. Dan masih ada banyak lagi.
Rivkah tak bisa memastikan standar makanan yang ia anggap aman atau tidak. Dia hanya bisa mengenalinya setelah ia melihat makanan itu dan memperhatikan reaksi tubuhnya. Salah satu hal tersulit yang ia hadapi karena gangguannya itu adalah ketika ia mendapat undangan makan. Rasanya agak tidak nyaman ketika orang-orang mengomentari kecenderungannya hanya bisa makan makanan tertentu.
"Meski aku tidak tahu bagaimanan dan kenapa fobia makanan ini aku alami, ada beberapa hal yang aku tahu. ARFID lebih dari sekadar pilih-pilih makanan biasa. Dan sebagain besar pengidap ARFID tak bisa mengatasinya," jelasnya.
Rivkah merasa kelompok dukungan yang ia ikuti sangat membantu. "Aku sekarang tahu ada pengobatan hipnoterapi klinis yang dilaporkan sangat berhasil untuk orang dewasa sepertiku. Pengobatan itu adalah sebuah investasi. Aku belum mencobanya dan tidak mengesampingkannya. Bisa jadi ke depannya aku bisa mencoba sushi," papar Rivkah.
#ChangeMaker