Story Telling Jadi Kunci Niluh Djelantik dan Daniel Mananta Bertahan di Bisnis Fashion

Vinsensia Dianawanti diperbarui 17 Sep 2020, 10:20 WIB

Fimela.com, Jakarta Selama pandemi seluruh industri bisnis mengalami penurunan yang signifikan. Tak terkecuali industri fashion. Sebagai pegiat bisnis fashion, baik Niluh Djelantik dan Daniel Mananta juga merasakan dampak dari pandemi itu.

Keduanya tidak lagi bergantung pada bisnis offline dan justru beralih mengandalkan bisnis online. Bisnis online pun kini mendadak menjamur. Sehingga menurut Daniel Mananta sebuah brand harus memiliki gimmick unik yang membedakannya dari yang lain.

"Story telling menjadi penting untuk sebuah brand. Kualitas memang harus tinggi. Tapi yang membedakan brand luar biasa dan biasa adalah framingnya. Bagaimana orang melihat brand itu ada added value-nya apa tidak. Dengan story tellingn, brand menempatkan diri sebagai guide bagi customer untuk menemukan solusi yang mereka cari," ungkap Daniel Mananta dalam acara virtual Bangga Buatan Rakyat Pesta Rakyat Simpedes pada Sabtu (12/9/2020).

Sepaham dengan Daniel, Niluh Djelantik yang sukses dengan bisnis sepatu homemade juga menilai betapa pentingnya story telling dalam bisnisnya. Meski ia memiliki pelanggan sekelas Julia Roberts, namun Niluh Djelantik merasa bahwa dengan memiliki cerita di dalam brand membuat orang merasa memiliki relevansi dengan brand tersebut. Mendorong orang untuk menggunakan produk dari sebuah brand bukan hanya karena produk, melainkan ceritanya.

 

2 dari 5 halaman

Mencintai Indonesia dengan cara yang berbeda

Bukan hal mudah memang bertahan di tengah Pandemi, seperti Daniel Mananta ini. Berbagai cara dilakukannya agar ia tetap bisa mempertahankan bisnis yang sudah digelutinya sejak lama. (Instagram/vjdaniel)

Daniel Mananta sendiri memulai bisnis fashion dari keinginan sederhana. Yakni menyediakan media yang tepat bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya Indonesia. Sehingga tercetuslah lini streetwear yang menggambarkan kultur Indonesia dengan cara yang kekinian.

"Banyak anak muda Indonesia yang apatis sama budaya Indonesia. Mungkin saat itu lagi heboh budaya Korea dan India. Akhirnya kita berpikir bagaiman cara memberikan pengaruh kepada generasi muda untuk mengajarkan mereka mencintai negara mereka sendiri," ungkap Daniel Mananta.

Sebagai seorang figur publik, Daniel Mananta memiliki pengaruh lebih untuk mengajak generasi muda lebih mencintai negaranya sendiri. Sehingga Daniel mencurahkan cerita yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda melalui lini streetwear yang ia garap. Menurutnya, added value akan membuat orang akan lebih menghargai produk yang dia beli.

 

3 dari 5 halaman

Membawa cerita pilu

Lain halnya dengan Niluh Djelantik yang memiliki cerita pilu di balik kesuksesan bisnis sepatunya. Niluh kecil hidup dengan tanpa alas kaki yang layak. Sehingga produksi alas kaki yang kini ia buat ingin membagikan inspirasi dan memberi kesempatan bagi banyak orang untuk menggunakan sepatu yang nyaman dan buatan lokal.

Berpegang dari cerita itu, selama 18 tahun Niluh Djelantik mampu mengambil hati setiap konsumennya untuk kembali lagi membeli produk yang ia buat. Termasuk artis sekelas Julia Roberts.

Di masa pandemi seperti ini, keduanya pun mengubah haluan strategi bisnis yang digunakan. Tidak lagi berorientasi pada apa yang diinginkan orang, melainkan apa yang dibutuhkan orang. Hingga akhirnya Niluh Djelantik memproduksi masker yang dibuat dari tenun Bali.

 

4 dari 5 halaman

Berorientasi pada apa yang dibutuhkan

Awalnya, Niluh Djelantik hanya membuat masker dari tenun Bali hanya untuk dibagikan kepada mereka yang tidak mampu membeli masker. Namun melihat ada banyak konsumen yang ingin membeli masker tersebut, akhirnya dibuat menjadi salah satu produk yang dijual di masa pandemi.

Bagi Niluh Djelantik ada empat kunci yang membuat sebuah brand mampu bertahan terutama di masa pandemi seperti ini. Yakni kualitas, kepuasan pelanggan, story telling, konsisten, dan cara kita memperlakukan tim.

"Pelanggan memang raja. Tapi itu akan merefleksikan bagaimana melayani tim kita. Apakah mereka bisa dimanusiakan. Selama 18 tahun kamu berdiri, hanya berpegang pada 4L, lu lagi lu lagi," ungkap Niluh Djelantik.

5 dari 5 halaman

Simak video berikut ini

#changemaker