Mendengar Kisah Masa Kecil Papa, Mengenang Zaman yang Jauh di Sana

Endah Wijayanti diperbarui 06 Agu 2021, 07:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Hayati Syafri

Bagaimana masa kecil papa tidak banyak kami anaknya yang tahu. Suatu hari saya bercerita dengan papa tentang masa kecilnya. Papa dibesarkan oleh kakek dan nenek sejak tahun 1946. Tepat setahun setelah kemerdekaan. Namun kata papa, walau sudah merdeka penjajah masih ada yang berada di kampung kami. Artinya papa kecil saat itu merasakan bahwa bangsa kita belum seratus persen merdeka dari penjajahan.

Kakek berasal dari Gantiang, daerah yang bertetanggaan dengan Koto Gadang, Sumatra Barat tempat lahirnya pahlawan Nasional kita seperti H. Emil Salim dan tempat sekolah perempuan pertama yang dikenal dengan Sekolah Amai Setia. 

Orang tua laki-laki papa (kakek kami) biasanya kami panggil dengan enek. Enek seorang pedagang. Orang minang (suku terbesar di Sumatra Barat) memang terkenal dengan kemampuan berdagangnya.

Enek berdagang antar kota antar propinsi. Beliau menjajakan perak dari satu kota ke kota lainnya. Kalau sudah mulai berdagang kakek akan meninggalkan rumah berbulan-bulan. Itu makanya pemuda Minangkabau dikenal dengan kemampuan merantaunya.

Kakek saat muda dulu menikah dengan nenek (yang kami panggil dengan uwai) dan menentap di Guguak Randah yang posisinya bersebelahan dengan Gantiang dibawah kaki gunung Singgalang. Jika diperkirakan, pernikahan ini terjadi sekitar tahun 1920an.

Kakek berdagang dari Guguak Randah Agam, Sumatra Barat sampai ke Taluak Kuantan provinsi Kepulauan Riau. Untuk perjalanan dengan mobil saat ini jarak ini memerlukan waktu sekitar 7 jam. Namun kakek muda saat ini cuma berjalan kaki.

Dan itu pun dengan jalur yang tidak langsung ke Taluak Kuantan tapi putar dulu ke Medan Sumatra Utara. Dari Kirian Jawo, kakek berjalan yang arahnya tidak langsung ke Medan. Tapi ke Pasaman dulu, lalu ke kota Nopan baru sampai ke Medan. Tentu berjalan berbulan-bulan bukan suatu pekerjaan yang mudah. Untuk keamanan kakek pergi berjualan berkelompok. Kakek jualan perak yang barangnya kadang diambil dari kota Koto Gadang yang dikenal juga sebagai silver work city.

Kakek berjalan tidak dijalan seperti  yang  kita bayangkan saat ini. Kakek masuk hutan keluar hutan. Rute kakek pun beragam ada yang dari hutan sianok lanjut ke hutan baso, piladang, baru ke Payakumbuh. Jalan tidak sebagus saat ini. Karena perjalan yang dilalui berat ini, maka Enek dan teman-teman seperjuangannya dalam perjalanan dibekali ilmu dalam. 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Mengenang Masa Lalu

ilustrasi./Photo by Anthony Tran on Unsplash

Saat Papa masih SD, kakek masih berjualan antar kota bahkan antar provinsi. Papaku pernah diajak kakek juga semasa kakek berjualan di Bangkinang. Di masa papa kecil, kakek mengajak papa ke Bangkinang dengan mobil. Alhamdulillah ada mobil ternyata. Namun menurut papa kakek adalah pedagang yang jujur, pekerja keras, dan disiplin.

Saat papa sudah besar baru kakek menetap dan bertani di rumah. Dulu kecil-kecil muda mudi sudah menikah. Daerah perkampungan masih sepi sehingga menikah cepat bisa mempercepat populasi  kampung.

Papa lahir 1946. Pak dang Bermawi (kakak papa yang kami panggil pal dang) meninggal di usia 55 tahun ditahun 1977, setahun sebelum saya lahir. Artinya Pak dang lahir di tahun 1922 di zaman penjajahan Belanda. Saat penjajahan di kampung suasananya kadang mencekam juga.

Saudara papa dari yang besar ke yang kecil adalah Pak dang Bermawi, pak dang Agus, uwai Syamsidar, pak dang Acin. Saat banyak anak uwai (panggilan dari nenek) yang meninggal ,uwai sampat tergocang sampai kehilangan akal. Pengajian membuat uwai mulai sadar dan pemikiran uwaik normal kembali.

Dahulu, setiap suku punya satu surau. Posisinya dekat rumah persukuan itu. Contohnya seperti  Surau pili dipenuhi dengan suku pilih. Artinya satu surau untuk satu suku.

Di zaman papa mulai dewasa, kakek sudah mulai tinggal di rumah. Dahulu orang perantau umumnya pandai bersilat. Silat dijadikan ilmu bela diri. Dari dulu papa tinggal di guguak randah. Enek jualan ke taluak. Lalu uang kiriman enek untuk menambah modal barang yang dititip ke pedagang yang pulang kampung, dibelikan pak dang Bermawi  (kakak paling besar papa) ke kayu untuk membangun rumah tempat papa dilahirkan. Rumah besar suku Pili berada di perkuburan kakek nenek saat ini. 

#ElevateWomen