Sukses

Lifestyle

Bertanggung Jawablah dengan Mimpimu agar Bekerja Keras jadi Pilihanmu

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Rosetti Syarief

Melihat sang anak tumbuh menjadi sosok yang berprestasi, tentu menjadi dambaan bagi setiap orang tua. Tapi, prestasi seperti apa yang biasanya orang tua harapkan? Masuk peringkat 5 besar di kelas atau mendapatkan juara 1 olimpiade matematika? Hm, terdengar tidak adil.

Sepertinya seorang anak yang pandai di bidang akademik terdengar lebih membanggakan, ya? "Nggak kok. Kalau kamu mau berhenti les sempoa terus coba les renang. Nanti kita cari guru renangnya." Eh, ternyata jawaban ayahku berbeda. Aku nggak memanggil beliau ayah sih, aku dan adik-adikku memanggilnya papa.

Aku ingin bercerita tentang bagaimana papa dan mamaku mendidik aku dan adik-adikku dengan kebebasan. Siapa tahu bisa menginspirasi para orang tua di luar sana yang masih ragu memberi kebebasan pada anaknya. Kebebasan untuk mengekspresikan diri atau kebebasan untuk berkembang dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Jadi di zaman itu, les sempoa seperti menjadi tren yang hampir semua murid sekolah dasar tekuni. Karena rata-rata temanku menggerak-gerakkan jarinya saat menghitung, membuat aku penasaran dan ingin masuk les sempoa juga. Dua bulan berjalan, namun aku pribadi tidak menikmatinya. Karena jujur saja, aku tidak terlalu minat menghitung, ya, hanya penasaran saja melihat seisi kelas melakukannya. 

Dengan ragu, aku mengutarakan ketidaknyamanan ku ikut les sempoa pada papa. Dan jawaban papa adalah, "Loh, kenapa mau berhenti? Bukannya kamu yang minta kemarin?"

"Nggak suka aja, kayak ngerasa untuk apa dilanjutin, soalnya ngebosenin. Aku juga ngerasa bisa belajar sendiri," jawabku seadanya. Karena memang itu yang aku rasakan, kegiatannya monoton dan membosankan. 

“Kalau misalnya aku mau les renang aja, boleh nggak pa?" Aku ingat sekali, jika aku yang menawarkan opsi itu lebih dulu.

"Kenapa tiba-tiba mau berenang, hayo? Mau jadi olahragawan kayak tetangga sebelah, ya?" jawab papa yang mengundang gelak tawa kami.

"Nggak lah, pa! Aku mau les renang biar tinggi gitu. Aku lihat di internet kayaknya seru juga kegiatannya. Gimana pa? Nggak papa, kan?" tanyaku yang mendapat anggukan dari papa.

"Nggak kok. Kalau kamu mau berhenti les sempoa terus coba les renang. Nanti kita cari guru renangnya." Aku langsung tersenyum lega mendengar jawaban itu.

 

Kebebasan yang Diberikan Ayah

Awalnya aku sempat ragu memberikan ‘proposal pemberhentian les sempoa ini’. Karena sebelumnya, teman satu sempoaku bercerita kalau dia kena marah mamanya waktu meminta keluar les sempoa. Temanku itu aktif di ekstrakurikuler menari dan ikut bimbel juga, padahal kami masih kelas 4 sekolah dasar waktu itu. Dia merasa hari-harinya terlalu padat, oleh karena itu dia memutuskan untuk meminta keluar dari sempoa dengan alasan yang tidak jauh berbeda dariku, kegiatan monoton dan bisa belajar sendiri.

Aku nggak tahu pasti apa yang terjadi, tapi dia bilang mamanya kurang setuju dia keluar les sempoa. Mamanya bilang, sempoa bakal bikin dia mudah menghitung ke depannya. Sempoa juga nggak bikin dia lelah, beda sama nari. Karena alasan ‘lelah’ itu, makanya mamanya malah menyuruh dia berhenti ekskul nari, mamanya takut menari justru mengganggu dia belajar. Padahal aku ingat sekali sesuka apa dia menari. Dari tari K-Pop sampai tradisional pun dia mahir.

Mengingat cerita dia, membuat aku sadar, kalau nggak selamanya kegiatan non-akademis itu tidak berguna dan yang harus disingkirkan dari hidup. Hidup ini nggak melulu soal pelajaran, ranking, dan olimpiade.

Ada 1.001 minat dan bakat yang anak miliki dan semuanya itu berbeda, unik, dan punya valuenya sendiri-sendiri. Penulis hebat di bidangnya, olahragawan juga memiliki kemampuannya sendiri. Begitu pula dengan dokter dan si jenius sains. Dokter belum tentu bisa berenang, begitu pula dengan atlet renang yang pasti tidak bisa membedah perut pasien.

Jangan buat anak berhenti mencari tahu apa minat dan bakatnya, hanya untuk kepuasan dan kebanggaan orang tua semata. "Biarkan dia bertanggung jawab dengan mimpinya." Papa selalu bilang kayak gitu. Nggak hanya ke aku, tapi juga adik-adikku.

Kami punya cerita serupa, dan nyatanya sekarang dia hebat di pilihannya. Aku pribadi nggak bisa membayangkan, kalau dulu aku nggak dibolehin les renang. Pasti kegiatan Sabtu-Minggu ku jadi membosankan karena nggak pergi ke kolam renang. Aku nggak bisa ikut kompetisi renang dan mungkin aku juga nggak bisa mengajari teman-temanku renang saat pengambilan nilai renang.

Jadi pesan dari aku, gadis 20 tahun yang mendapatkan haknya untuk menekuni minat dan bakatnya, kepada orang tua di luar sana, Benar kata papa, “Biarkan dia bertanggung jawab dengan mimpinya.” Karena kalau si ‘dia’ tidak bersungguh-sungguh setelah diberikan kepercayaan, dia pasti akan malu kalau gagal nantinya. Dan itu membuatnya mau tidak mau akan bekerja keras karena itu pilihannya.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Tanpa Bertatap Muka, Kemeriahan HUT RI Tetap Bisa Dirayakan dengan Lomba Ini
Artikel Selanjutnya
Grup Alumni adalah Tempat Menjalin Hubungan Baik, bukan Ajang Perdebatan