Jakarta Menduduki Peringkat 9 di Dunia Terkait Polusi Udara, Data Menunjukan PSBB dan PPKM Tidak Berpengaruh

Anisha Saktian Putri diperbarui 10 Sep 2021, 07:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Bukan menjadi rahasia lagi jika polusi udara dapat membahayakan kesehatan. Menurut studi terbaru dari Air Quality Life Index (AQLI), polusi udara menurunkan angka harapan hidup orang Indonesia hingga 2,5 tahun.

Meski begitu, Aktivis Bicara Udara Amalia Ayuningtyas menyampikan masyarakat awam masih sulit mencerna informasi mengenai kualitas udara yang baik, padahal sudah banyak sumber infromasi dan edukasinya.

"Isu mengenai polusi udara di Indonesia tidak se-mainstream isu yang lain. Batubara dan kendaraan bermotor sudah ter-framing kuat menjadi penyebab polusi udara di Jakarta. Sehingga, dibutuhkan platform edukasi yang konsisten menyampaikan materi mengenai kondisi udara dan merekam upaya bersama untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik,” ucapnya dalam Webinar bertajuk "Clean Air Crisis, What Should We Do?“.

Misalnya, banyak orang mengira kualitas udara Jakarta membaik karena diberlakukannya PSBB dan PPKM karena tersebar foto-foto lagit biru Jakarta yang bebas polusi.

Faktanya, Chief Growth Officer Nafas Indonesia, Piotr Jakubowski PSBB di tahun 2020 tidak meningkatkan udara baik sama sekali. Hal ini dibuktikan dari data yang dikumpulkan menggunakan aplikasi pemantau kualitas udara, Nafas.

"PSBB hampir tidak meningkatkan kualitas udara, yang berada di atas batas WHO hampir sepanjang tahun, bahkan PPKM ketat pada Juli 2021 tidak memperbaiki kualitas udara, bahkan 3 minggu menjalani PPKM ketat, polusi malah naik," ujar Piotr.

2 dari 2 halaman

Jakarta menduduki peringkat 9 dunia terkait polusi

Jakarta/unsplash Uray

Jakarta sering menduduki peringkat teratas kota-kota paling tercemar dengan lebih dari 10 juta orang terpapar kualitas udara yang tidak sehat.

Menurut IQAir, Jakarta menempati urutan ke-9 di dunia, dan #1 di Asia Tenggara terkait polusi udara.

Piotr mengatakan, edukasi mengenai polusi udara selama ini mendapatkan berbagai tantangan. Salah satunya adalah masih banyak mitos-mitos terkait polusi udara yang masih dipercayai hingga saat ini.

“Mitos yang sering kita dengar adalah: ‘daerah saya memiliki banyak pohon dan jauh dari kota, tidak ada polusi udara di sini.’ Padahal, polusi udara dapat menempuh jarak 100 kilometer dari sumbernya karena hal-hal seperti arah angin,” terangnya.

Mitos berikutnya adalah anggapan bahwa kualitas udara paling bagus di pagi hari. Nyatanya, ujar dia, The Planetary Boundary Layer dan kondisi iklim lainnya membuat kualitas udara di pagi hari menjadi yang terburuk.

Mitos lainnya, lanjut Piotr, adalah anggapan bahwa olahraga membuat cukup sehat melawan polusi. Padahal, sebuah studi dari Seoul National University menyoroti bahwa ada peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 33% melalui olahraga terus menerus dalam polusi tinggi.

Piotr mengatakan, polusi udara menyebabkan banyak masalah terkait dengan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan dan paru-paru. Belum lagi, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa polusi udara dapat menurunkan kecerdasan anak.

#elevate women