Toxic Relationship Bisa Ciptakan Kekerasan Fisik dan Verbal, Benarkah Itu?

Fachri pada 30 Jul 2023, 17:05 WIB

Fimela.com, Jakarta Toxic relationship merupakan sebuah hubungan yang kerap membuat kamu merasa tidak didukung, disalahpahami, direndahkan, atau bahkan diserang secara fisik atau verbal. Sebuah toxic relationship semakin beracun ketika sudah membuat kesejahteraan secara emosional, psikologis, bahkan fisik menjadi terancam.

Memang, hubungan apa pun yang membuat kamu merasa lebih buruk daripada lebih baik bisa menjadi tidak sehat seiring berjalannya waktu. Toxic relationship tak hanya ketika kamu menjalin kasih dengan seorang pasangan, namun juga bisa muncul ketika kamu berada di lingkungan kerja, pertemanan, hingga keluarga.

Beberapa orang ketika terjebak pada toxic relationship sangat rentan mengalami masalah mental, seperti orang yang memiliki gangguan bipolar hingga depresi berat. Pasalnya, seorang yang rentan memiliki masalah mental tersebut memiliki stabilitas emosi yang lemah.

Untuk itu, perlu mengetahui toxic relationship seperti apa yang membuat kamu menjadi semakin buruk secara mental dan bagaimana kamu harus bersikap ketika terjebak pada toxic relationship. Dikutip dari verywellmind, berikut ini tentang toxic relationship secara lengkap yang patut kamu ketahui!

2 dari 6 halaman

Apa Saja Tanda-Tanda Toxic Relationship?

Ilustrasi toxic relationship/coppyright shutterstock

Toxic relationship bisa terjadi pada semua orang, baik itu secara kasar atau halus. Namun yang pasti, sebuah hubungan yang melibatkan kekerasan fisik atau verbal sudah pasti tergolong beracun. Selain itu, ada pula tanda-tanda toxic relationship lainnya yang perlu kamu ketahui.

  • Kamu memberi lebih dari yang didapatkan dan membuat kondisi merasa terdevaluasi serta terkuras secara emosional atau fisik.
  • Kamu merasa tidak dihargai atau kebutuhan tidak terpenuhi.
  • Harga diri terasa berkurang dari waktu ke waktu.
  • Kamu merasa tidak didukung, kerap disalahpahami, direndahkan, atau bahkan diserang.
  • Kamu merasa sering tertekan, marah, atau lelah setelah berbicara atau bersama orang lain.
  • Memunculkan suatu sikap yang buruk satu sama lain. Seperti ketika rekan kamu memunculkan sifat kompetitif atas dasar dendam karena iri dengan dirimu.
  • Kamu terasa bukan seperti diri sendiri versi terbaik di lingkungan sekitar.
  • Kamu menghabiskan banyak waktu dan emosi untuk menghibur orang sekitar.
  • Kamu selalu disalahkan oleh orang sekitar.
3 dari 6 halaman

Toxic Relationship Sama dengan Hubungan yang Kasar?

Toxic Relationship | pexels.com/@polina-zimmerman

Kamu perlu mengetahui, tidak semua toxic relationship itu kasar. Akan tetapi, kamu ingat, setiap hubungan yang kasar dapat dianggap sebuah toxic relationship. Dalam toxic relationship, biasanya terdapat rasa kurang hormat dan kerap melanggar batasan dalam hubungan sosial. Terkadang, perilaku yang muncul tersebut terjadi secara natural dan tidak disadari oleh orang tersebut.

Akan tetapi, jika perilaku semacam ini terus-menerus diulangi dengan niat aktif untuk menyakiti orang lain, hubungan tersebut dapat dianggap kasar. Salah satu yang kerap terjadi dalam hubungan tersebut adalah pelecehan, baik secara psikologis, emosional, dan fisik. Pasalnya, hubungan yang kasar cenderung beririsan dengan pelecehan.

Biasanya, tahapan siklus pelecehan bakal melibatkan;

  1. Ketegangan mulai meningkat.
  2. Terjadi tindak pelecehan.
  3. Adanya tindakan meminta maaf, menyalahkan korban, atau meminimalkan pelecehan.

Toxic relationship terasa lebih subjektif dibandingkan dengan hubungan yang kasar. Sebagai contoh, jika kamu pernah dibohongi, kamu akan menganggap orang yang berbohong tersebut sebagai orang yang toxic. Akan tetapi, ada orang yang menganggap hal itu merupakan hal yang wajar dilakukan.

4 dari 6 halaman

Kebiasaan yang Toxic dan Kebiasaan yang Sehat

Toxic Relationship | pexels.com/@cottonbro

Ketika menentukan apakah suatu hubungan menciptakan toksisitas, kamu harus melihat perilaku mana yang paling sering diperlihatkan dalam sebuah hubungan. Dengan kata lain, jika mereka atau kamu secara konsisten memperlihatkan sikap egois, negatif, dan tidak sopan, toksisitas dalam hubungan pun akan tercipta.

Untuk itu, kamu perlu mengenali kebiasaan buruk yang dapat menciptakan toksisitas yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan dan kebiasaan sehat yang bisa mereduksi hal tersebut terjadi.

Kebiasaan Toxic

  • Merasa tidak aman
  • Cemburu
  • Negatif
  • Egois
  • Merendahkan
  • Tidak percaya
  • Kasar
  • Tidak sopan

Kebiasaan Sehat

  • Aman
  • Penuh kasih
  • Positif
  • MemberiTanpa pamrih
  • Mendorong satu sama lain
  • Dapat dipercaya
  • Penuh kasihHormat

Tipe Toxic Relationship

Toxic relationship tak hanya sebatas hubungan kamu dengan kekasih, namun ada pula yang terjadi dalam sebuah keluarga, lingkungan kerja, atau lingkungan sosial. Untuk itu, kenali tipe-tipe dari toxic relationship di bawah ini, ya!

Ketika Ada Perilaku Negatif

Keluhan terus-menerus dari beberapa orang, komentar kritis, dan kenegatifan secara keseluruhan menciptakan lingkungan yang toxic. Sifat toxic lainnya termasuk perfeksionisme, daya saing yang tidak sehat, dan sering berbohong. Seseorang juga dapat membiarkan ketidakamanan mereka memunculkan hal terburuk dalam diri.

Ketika Ada Kurangnya Kesadaran Diri

Terkadang orang tidak menyadari efek negatif mereka pada orang lain. Mereka juga mungkin tidak tahu cara berkomunikasi yang lebih sehat. Kemungkinan besar mereka tidak tahu cara membaca isyarat sosial dengan cukup baik untuk mengetahui kapan membuat orang frustrasi atau membuat merasa dikritik atau diabaikan.

Ketika dengan Sengaja Menyakiti Orang Lain

Beberapa orang sengaja bersikap kasar dan menyakitkan. Dalam situasi ini, kamu mungkin merasa diasingkan dan ditargetkan melalui kata-kata dan tindakan mereka yang kejam. Seseorang mungkin juga mencoba mengendalikan atau memanipulasi kamu, yang merupakan perilaku beracun.

Ketika Ada Perselingkuhan

Jika pasangan berbohong dan berselingkuh bahkan tanpa berusaha mengubah perilakunya, itu menambah elemen toxic dalam hubungan.

Ketika Ada Kekerasan

Ketika orang berulang kali dan dengan sengaja menyakiti kamu, perilaku mereka dapat dianggap kasar. Apakah mereka terus-menerus menggosipkan kamu atau mereka menyakiti secara fisik dengan cara apa pun.

5 dari 6 halaman

Apa Efek dari Toxic Relationship?

Ilustrasi toxic relationship (Foto: Unsplash.com/Henri Pham)

Toxic relationship dapat menyebabkan kerusakan nyata pada harga diri dan kesehatan mental serta kesehatan fisik kamu. Drama yang terus menerus terjadi dalam sebuah hubungan dapat mengalihkan perhatian dari hubungan lain dalam hidup kita yang dapat menyebabkan kualitas tidur tidak baik dan depresi.

Ketika kamu terus menerus berada di lingkungan yang toxic, hal itu dapat pula menyebabkan kesehatan fisik dan mental dan menjadi menurun secara keseluruhan dari waktu ke waktu. Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Michigan pada tahun 2016 menemukan bawah stres dan kualitas hubungan yang negatif secara langsung dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.

Bagaimana Atasi Toxic Relationship?

Tidak semua toxic relationship dapat dihindari, terutama di antara rekan kerja atau anggota keluaga. Namun, hubungan tersebut dapat dikelola dengan batasan yang sehat dan penuh kesadaran.

Jika kamu menemukan diri berada dalam toxic relationship, kamu mungkin ingin memperbaiki hubungan tersebut dan mengubah dinamikanya, terutama jika ada manfaat lainnya dalam hubungan tersebut.

  • Bicaralah dengan orang lain tentang apa yang kamu rasakan. Bersikap tegas tentang kebutuhan dan perasaan sambil bertanggung jawab atas peran dalam situasi tersebut.
  • Diskusikan apa yang kamu lihat sebagai masalah dan putuskan bersama apakah ingin mengubah dinamika untuk memastikan bahwa kebutuhan bakal terpenuhi.
  • Evaluasi kembali hubungan dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah orang ini menyebabkan kerusakan nyata pada harga diri dan kesehatan mental secara keseluruhan?
  • Batasi waktu yang kamu habiskan bersama orang-orang yang membawa frustrasi atau ketidakbahagiaan ke dalam hidup. Jika orang ini adalah seseorang yang perlu kamu ajak berinteraksi, seperti anggota keluarga atau rekan kerja, mungkin perlu membatasi interaksi.
  • Jika kamu memutuskan untuk membicarakan kekhawatiran, gunakan pernyataan "Saya merasa" saat menjelaskan perasaan dan emosi. Melakukan hal itu membantu menjaga mereka dari perasaan defensif.
  • Sadarilah bahwa beberapa orang beracun tidak mau berubah, terutama mereka yang tidak memiliki kesadaran diri atau keterampilan sosial.
  • Cobalah untuk membela diri sendiri secara non-konfrontatif.
6 dari 6 halaman

Gimana Tinggalkan Toxic Relationship?

Ilustrasi Pasangan Credit: unsplash.com/Jemmy

Jika kamu telah mencoba menetapkan batasan dan orang lain menolak untuk menghormatinya, mungkin sudah waktunya untuk mengakhiri hubungan. Meskipun mungkin sulit untuk melakukannya, ingatlah bahwa hal terpenting adalah memprioritaskan diri sendiri, kebutuhan, dan kesehatan kamu.

  • Beri tahu orang tersebut secara langsung bahwa kamu memilih untuk mengakhiri hubungan dan buat daftar alasan.
  • Biarkan hubungan memudar seiring waktu, perlahan-lahan komunikasi dengan orang ini semakin berkurang.
  • Hentikan komunikasi segera, terutama jika suatu hubungan mengancam keselamatan kamu.

Jika memilih untuk berkomunikasi dengan orang tersebut secara langsung, kamu dapat bertanggung jawab atas perasaan dan mencoba untuk tidak menyalahkannya atau bersikap defensif. Pada akhirnya, kamu tidak dapat mengontrol reaksi mereka, tetapi dapat mencoba menggunakan strategi untuk menghindari eskalasi diskusi.

Jika meninggalkan hubungan romantis, kamu mungkin perlu mengembangkan jaringan pendukung agar dapat pergi dengan aman. Misalnya, jika kamu khawatir tentang reaksi orang tersebut, kamu dapat memilih untuk berbicara dengannya di tempat umum.

Selain itu, beri tahu orang tepercaya kapan ini akan terjadi dan di mana akan berada, sehingga kamu dapat merencanakan untuk bertemu dengan mereka sesudahnya. Kamu juga mungkin perlu tinggal bersama anggota keluarga atau teman sampai mengetahui situasi kehidupan baru, jauh dari pasangan kamu.

 

(*)