Film Reza Rahadian dan Lutesha Masuk ke Festival Busan, Siap Bersaing dengan Hollywood

Syifa Ismalia diperbarui 08 Sep 2023, 09:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Dua film Indonesia yang diproduksi Visinema siap bersaing di Busan International Film Festival (BIFF) 2023. Film tersebut adalah '24 Jam Bersama Gaspar' yang diperankan Reza Rahadian dan 'Ali Topan' yang diperankan Lutesha.

Anak perusahaan Visinema, Bioskop Online juga tengah memutar 'Ziarah', salah satu film yang akan diputar dalam program khusus Indonesia yang bertajuk, 'Renaissance of Indonesian Cinema'.

Angga Sasongko, Founder dan CEO Visinema menyatakan, "Saya yakin potensi industri film Indonesia bisa sebesar Korea atau Hollywood sekalipun karena kita memiliki cerita yang relevan tidak hanya untuk penonton Indonesia tapi juga global," katanya.

"Hal ini tercermin dari dukungan berbagai festival film internasional seperti Busan, serta respon penonton internasional di berbagai streaming platform terhadap film Indonesia. Namun untuk merealisasikan potensi industri, tidak bisa hanya mengandalkan produksi film berkualitas saja. Oleh karena itu, Visinema juga tengah berekspansi di luar produksi film, dengan mengembangkan distribusi konten melalui Bioskop Online, hingga pengembangan Intellectual Property (IP). Saat ini potensi nilai IP Visinema mencapai sekitar setengah triliun rupiah," tambah Angga Sasongko.

2 dari 3 halaman

Komentar Reza Rahadian

Film Reza Rahadian dan Lutesha Masuk ke Festival Busan [Fimela.com/Syifa Ismalia]

Dalam acara yang sama, Reza Rahadian, aktor '24 Jam Bersama Gaspar' dan juga Ketua Komite Festival Film Indonesia menyatakan optimisme yang sama terhadap potensi industri film Indonesia.

"Sudah ada 147 film Indonesia yang siap tayang di tahun ini, menandakan resiliensi Indonesia yang sempat ditantang saat pandemi, dan sekarang sudah bangkit dan berkarya lebih dari sebelumnya. Resiliensi ini, ditambah potensi pasar yang besar dan perkembangan pesat talenta filmmaker Indonesia membuat saya jadi makin yakin bahwa Indonesia tidak hanya bisa jadi pasar bagi film internasional, tapi jadi pemain besar di industri global. Harapannya setelah dapat pengakuan dari festival film sebesar Busan, ke depannya perfilman Indonesia, termasuk filmmakersnya akan makin jadi perhatian industri film global," ucapnya.

Sidharta Tata, sutradara Ali Topan, yang juga merupakan generasi baru sineas Indonesia menambahkan, "Sebagai sutradara baru, prioritas kami adalah terus meng-upgrade diri, dengan menawarkan hal yang baru. Saya berharap partisipasi di film festival bisa menambah inspirasi untuk terus meningkatkan kualitas produksi selanjutnya dan juga menambah exposure ke audiens serta filmmaker global," tuturnya.

Menurut data Media Partners Asia, investasi konten video dan film Indonesia meningkat 13% di tahun 2022, senilai $979juta, terbesar di Asia Tenggara. Busan International Film Festival (BIFF), salah satu film festival paling bergengsi juga mendukung pentingnya peran sinema Indonesia di kancah global melalui berbagai program khusus Indonesia di BIFF yang akan berlangsung Oktober 2023 ini.

"Setelah industri film Indonesia terbukti resilient dan sustainable, muncul fase baru bagi industri yaitu growth. Visinema berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan film Indonesia dengan menjadi platform bagi sineas, penonton dan pemain industri berkembang bersama. Kami percaya Indonesia memiliki banyak sekali storytellers, story dan penonton yang akan menjadikan Indonesia salah satu pemain terbesar di kancah global," tutup Angga.

3 dari 3 halaman

Pencapain Visinema

Film Reza Rahadian dan Lutesha Masuk ke Festival Busan [Fimela.com/Syifa Ismalia]

Setahun belakangan, Visinema telah mencetak berbagai pencapaian. Dari sisi produksi film, Visinema Pictures telah mencetak hits seperti 'Mencuri Raden Saleh', yang telah ditonton lebih dari 2,3 juta penonton bioskop dan juga 'Hari ini Akan kita Ceritakan Nanti' salah satu top-10 Netflix. Baru-baru Ini, Visinema juga telah mengakuisisi Intellectual Property (IP) seri animasi populer Nussa, menjadikan total potensi nilai IP Visinema mencapai sekitar setengah triliun rupiah. Di ranah distribusi, Bioskop Online sendiri telah diakses oleh lebih dari 11 juta penonton dengan lebih dari 200 konten lokal dari 100+ pembuat film di 15+ provinsi Indonesia.