Waspada! Kebiasaan yang Bisa Bikin Gigi Balita Tumbuh Tidak Beraturan

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 19 Maret 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Orang tua terkadang baru menyadari ada yang aneh dengan pertumbuhan gigi si kecil ketika mereka mulai tersenyum atau saat giginya tumbuh satu per satu. Meski terlihat sepele, gigi yang tumbuh tidak beraturan bisa berdampak pada rasa percaya diri anak seiring bertambahnya usia. Karena itu, penting bagi orang tua mengenali sejak dini kebiasaan atau faktor yang dapat memengaruhi bentuk gigi balita.

Melansir laman foxkidsdentistry.com masalah gigi yang berantakan ternyata jauh lebih umum terjadi daripada yang dipikirkan. Sebagian besar kasus memang tidak berbahaya, tetapi pertumbuhan gigi yang tidak rapi bisa menyulitkan anak saat membersihkan gigi, sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang dan gangguan gusi. Pada beberapa kondisi, susunan gigi yang tidak pas juga dapat memengaruhi cara bicara dan kemampuan mengunyah makanan.

Walaupun faktor genetik memiliki peran besar dalam menentukan bentuk rahang dan ukuran gigi anak, kebiasaan sehari-hari juga sangat berpengaruh. Mulai dari cara bernapas, kebiasaan mengisap jempol, hingga penggunaan dot yang terlalu lama dapat menggeser posisi gigi dan memicu ketidakteraturan. Itulah mengapa pemahaman tentang kebiasaan kecil ini sangat penting bagi orang tua.

2 dari 3 halaman

Kebiasaan yang mengganggu perkembangan struktur gigi

Kebiasaan terlalu lama memakai dot dapat membuat gigi tumbuh tidak rapi. (foto: jcomp/freepik)

Salah satu kebiasaan paling umum adalah mengisap jempol atau penggunaan dot dalam jangka panjang. Gerakan isap yang terus menerus bisa mendorong gigi depan ke depan, melemahkan struktur rahang, dan mengubah bentuk langit-langit mulut. Jika kebiasaan ini terbawa hingga gigi permanen mulai tumbuh, risiko gigi menjadi maju atau terbuka (open bite) semakin besar.

Selain itu, beberapa anak memiliki kebiasaan mendorong lidah ke depan saat menelan atau berbicara. Gerakan yang dikenal sebagai tongue thrusting ini dapat memberikan tekanan berulang pada gigi depan hingga akhirnya membuat gigi terdorong keluar dari posisi ideal. Jika dibiarkan hingga anak tumbuh besar, perubahan bentuk rahang juga dapat terjadi.

Kehilangan gigi susu terlalu cepat juga dapat menjadi penyebab gigi permanen tumbuh tidak rapi. Gigi susu sebenarnya berfungsi sebagai penyangga posisi gigi tetap. Ketika gigi susu copot sebelum waktunya, ruang kosong tersebut bisa membuat gigi di sekitarnya bergeser dan menghalangi jalur tumbuhnya gigi permanen.

3 dari 3 halaman

Dampak pola napas dan pola makan pada struktur rahang anak

Asupan nutrisi menjadi faktor penting dalam perkembangan gigi anak. (foto: jcomp/freepik)

Kebiasaan bernapas lewat mulut juga tidak boleh diremehkan. Jika anak sering bernapas dengan mulut dalam jangka panjang akibat alergi atau hidung tersumbat, struktur wajah dapat berubah. Rahang bisa berkembang tidak seimbang, wajah tampak lebih memanjang, dan gigi menjadi lebih mudah berdesakan.

Faktor nutrisi juga memegang peran penting. Asupan kalsium, vitamin D, serta makanan bergizi lainnya membantu pembentukan tulang dan gigi yang kuat. Sebaliknya, pola makan kurang sehat bisa membuat proses tumbuh kembang gigi terganggu, memperlambat erupsi gigi, atau membuat struktur rahang menjadi kurang kokoh.

Untuk mencegah gigi balita tumbuh tidak beraturan, orang tua bisa melakukan intervensi sejak dini. Menghentikan kebiasaan buruk, memperbaiki pola napas, memastikan kebersihan gigi anak, serta menjaga asupan nutrisi adalah langkah sederhana yang sangat membantu. Pemeriksaan ke dokter gigi sejak usia sekitar tujuh tahun juga penting agar potensi masalah bisa terdeteksi lebih awal sebelum menjadi lebih sulit ditangani.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa