Ubah Kebiasaan Memukul Pada Anak dengan Pendekatan Redirection yang Positif

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 01 Februari 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Mengubah kebiasaan memukul pada anak sering kali menjadi tantangan bagi banyak orangtua, terutama ketika perilaku tersebut muncul secara tiba-tiba atau terus berulang. Pada fase tumbuh kembang, anak masih belajar mengenali emosi, memahami batasan, dan mengekspresikan rasa frustasi yang mereka rasakan. Oleh karena itu, tindakan memukul umumnya bukan bentuk kenakalan, melainkan cara anak menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan yang belum dapat mereka ungkapkan melalui kata-kata. Dalam kondisi seperti ini, orangtua memerlukan pendekatan yang lembut namun tetap tegas agar kebiasaan tersebut tidak semakin menguat.

Pendekatan redirection merupakan salah satu strategi yang efektif untuk membantu anak mengalihkan dorongan memukul menuju tindakan yang lebih aman dan positif. Berdasarkan sumber dari genmindful.com, alih-alih menegur dengan keras atau memberi hukuman, teknik ini mendorong orangtua untuk mengarahkan ulang perhatian anak ke aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Metode ini memanfaatkan rasa ingin tahu serta kemampuan anak untuk mengikuti arahan baru ketika disampaikan dengan tenang dan konsisten. Mengalihkan fokus anak pada pilihan yang lebih tepat, seperti meremas bantal, berbicara, atau meminta bantuan, orangtua membantu mereka memahami bahwa emosi besar dapat disalurkan tanpa menyakiti siapa pun.

Menerapkan redirection secara berkelanjutan, orangtua dapat menanamkan kemampuan regulasi emosi sejak dini pada anak. Pendekatan yang positif ini membuat anak merasa didukung dan dipahami sehingga mereka lebih mudah belajar mengenali perasaan dan menemukan cara menyelesaikan masalah. Hasilnya, anak tidak hanya berhenti memukul, tetapi juga berkembang menjadi individu yang mampu mengelola konflik dengan cara yang lebih sehat dan penuh empati. Menyadari bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses, orangtua dapat memanfaatkan redirection sebagai langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang aman, hangat, dan mendukung perkembangan emosional anak secara lebih menyeluruh.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Alihkan fokus anak secepat mungkin

Segera alihkan fokus anak sebelum keinginannya untuk memukul muncul. (Foto: LollipopPhotographyUK/Freepik)

Saat anak mulai menunjukkan tanda ingin memukul, segera arahkan perhatian mereka ke aktivitas lain sebelum perilaku tersebut berkembang. Pengalihan yang cepat membantu memutus dorongan spontan anak sehingga mereka tidak sempat melanjutkan tindakan memukul.

2. Berikan alternatif yang aman

Tawarkan benda atau tindakan lain seperti meremas bantal, memukul drum mainan, atau memegang benda yang menenangkan agar anak tetap dapat menyalurkan energi dan emosinya. Alternatif ini membantu anak memahami bahwa mereka boleh marah, tetapi tidak boleh melukai orang lain.

3. Ajak anak berbicara tentang perasaannya

Bantu anak mengenali emosinya dengan mengucapkan kalimat sederhana, misalnya “kamu marah ya?” Langkah ini bukan hanya menenangkan, tetapi juga mengajarkan anak untuk mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, bukan dengan memukul.

4. Pindahkan anak ke situasi atau lingkungan lain

Jika anak terlihat semakin terpancing oleh suasana atau konflik, pindahkan mereka ke tempat yang lebih tenang untuk meredakan ketegangan. Mengubah lingkungan membantu anak merasa lebih aman dan mengurangi dorongan agresif.

3 dari 3 halaman

5. Tawarkan aktivitas yang menarik perhatian

Tawarkan anak aktivitas yang bisa langsung menarik perhatiannya. (Foto: congnamoo/Pixabay)

Arahkan anak ke permainan yang menenangkan atau aktivitas favorit mereka, seperti puzzle, menggambar, atau bermain peran sederhana. Aktivitas yang disukai membuat anak lebih mudah melupakan keinginan untuk memukul.

6. Gunakan sentuhan lembut atau pelukan

Jika anak nyaman dengan sentuhan, pelukan atau usapan lembut dapat menurunkan emosi mereka dengan cepat. Kontak fisik yang menenangkan membantu anak merasa dipahami dan didukung.

7. Tetap tenang dan konsisten

Respon orangtua sangat berpengaruh pada perilaku anak. Sikap tenang dan konsisten membantu anak belajar bahwa emosi besar dapat dihadapi tanpa kekerasan. Konsistensi juga mempercepat proses anak memahami batasan.

8. Berikan pujian ketika anak berhasil mengalihkan diri

Penguatan positif membantu anak memahami bahwa perilaku baik lebih dihargai daripada memukul. Dengan pujian yang tepat, anak akan lebih termotivasi untuk memilih cara yang lebih positif setiap kali mereka merasa marah atau frustrasi.