7 Kepribadian Orang yang Suka Mengoleksi Barang-Barang Lucu

Endah WijayantiDiterbitkan 12 Januari 2026, 15:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ada tipikal orang yang memilih pulang membawa kantong berisi benda-benda kecil yang lucu, bukan karena butuh, melainkan karena hatinya terasa lebih ringan. Di dunia yang serba cepat dan menuntut kedewasaan berlebihan, keputusan sederhana itu sering disalahpahami. Padahal, di balik koleksi gantungan kunci imut, boneka mini, atau alat tulis unik, tersimpan pola kepribadian yang bisa positif dan memengaruhi kesehatan mental yang lebih baik.

Mengoleksi barang-barang lucu bukan pelarian dari realitas. Justru, bagi banyak orang, itu adalah cara menyenangkan untuk berdamai dengan realitas tanpa kehilangan sisi manusiawi. Kali ini kita akan menyikapi hobi ini dari sudut pandang yang menarik. Berikut karakter atau kepribadian menarik yang bisa saja dimiliki oleh orang yang suka mengoleksi barang-barang lucu berdasarkan versi Fimela. Yuk, simak uraiannya di bawah ini. 

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Mereka Merawat Emosi Lewat Hal Sederhana dan Tidak Merugikan Siapa pun

1. Mereka Merawat Emosi Lewat Hal Sederhana dan Tidak Merugikan Siapa pun./Copyright freepik.com/author/pvproductions

Orang yang gemar mengoleksi barang lucu biasanya peka pada sinyal emosinya sendiri. Mereka tahu kapan hati sedang lelah, kapan pikiran terlalu padat, dan kapan butuh jeda yang aman. Benda-benda kecil yang menyenangkan menjadi jangkar emosi yang sehat.

Alih-alih meluapkan stres dengan cara destruktif, mereka memilih stimulasi visual yang menenangkan. Warna lembut, bentuk unik, dan kesan lucu memberi efek regulasi emosi yang halus namun konsisten. Ini bukan impulsif, melainkan sadar diri.

Dalam konteks kesehatan mental, kemampuan mengenali dan menenangkan diri secara mandiri adalah tanda kedewasaan psikologis. Sahabat Fimela, ini bukan soal benda, melainkan strategi perawatan diri yang cerdas.

3 dari 8 halaman

2. Mereka Menghargai Kebahagiaan Kecil tanpa Rasa Bersalah

2. Mereka Menghargai Kebahagiaan Kecil tanpa Rasa Bersalah./Copyright depositphotos.com/newafrica

Kepribadian ini tidak menunggu momen besar untuk merasa bahagia. Mereka memberi ruang bagi kebahagiaan mikro, yaitu hal kecil yang sering diabaikan orang dewasa. Mengoleksi barang lucu adalah deklarasi bahwa bahagia tidak harus spektakuler.

Banyak orang menunda senang karena takut dianggap tidak produktif. Sebaliknya, kolektor barang lucu memahami bahwa kebahagiaan kecil justru menjaga stamina mental jangka panjang. Mereka tidak memvalidasi diri lewat penderitaan.

Pandangan ini selaras dengan kesejahteraan mental: emosi positif yang konsisten, meski kecil, terbukti menurunkan risiko kelelahan emosional. Ini bukan manja, ini cerdas.

4 dari 8 halaman

3. Mereka Memiliki Imajinasi Aktif yang Menjaga Keseimbangan Psikis

3. Mereka Memiliki Imajinasi Aktif yang Menjaga Keseimbangan Psikis./Copyright freepik.com/author/lookstudio

Barang-barang lucu sering memantik cerita, asosiasi, dan makna personal. Kepribadian ini hidup berdampingan dengan imajinasi tanpa kehilangan pijakan realitas. Imajinasi mereka bukan pelarian, melainkan ruang bernapas.

Di tengah rutinitas kaku, imajinasi berfungsi sebagai katup tekanan. Orang-orang ini mampu berpikir fleksibel, melihat alternatif, dan lebih adaptif terhadap perubahan. Kesehatan mental sangat diuntungkan dari fleksibilitas kognitif seperti ini.

Sahabat Fimela, imajinasi yang dirawat bukan tanda kekanak-kanakan, melainkan bukti pikiran yang tidak membatu.

5 dari 8 halaman

4. Mereka Tidak Takut Menjadi Diri Sendiri di Tengah Standar Sosial

4. Mereka Tidak Takut Menjadi Diri Sendiri di Tengah Standar Sosial/Copyright depositphotos.com/sevendeman

Mengoleksi barang lucu sering kali berhadapan dengan komentar sinis. Namun kepribadian ini tidak mudah goyah. Mereka nyaman dengan preferensinya sendiri tanpa perlu validasi berlebihan.

Sikap ini menunjukkan kelekatan diri yang sehat. Mereka tidak membangun identitas dari penilaian luar, melainkan dari kesadaran akan apa yang membuat hidup terasa bermakna. Ini fondasi penting kesehatan mental jangka panjang.

Ketegasan yang lembut ini membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan sosial. Mereka tidak anti kritik, tetapi selektif dalam menyerapnya.

6 dari 8 halaman

5. Mereka Menggunakan Humor Visual sebagai Coping Mechanism yang Dewasa

5. Mereka Menggunakan Humor Visual sebagai Coping Mechanism yang Dewasa./Copyright depositphotos.com/serezniy

Barang lucu sering mengandung humor visual yang ringan. Kepribadian ini mampu menertawakan hidup tanpa meremehkannya. Humor menjadi alat coping, bukan topeng penyangkalan.

Dalam psikologi, humor adaptif membantu seseorang memproses stres tanpa menekan emosi. Koleksi benda lucu menjadi pengingat harian bahwa hidup tidak harus selalu serius untuk tetap bertanggung jawab.

Sahabat Fimela, ini adalah bentuk kecerdasan emosional yang jarang disadari: mampu tersenyum tanpa mengabaikan realitas.

7 dari 8 halaman

6. Mereka Menjaga Koneksi Emosional dengan Diri yang Autentik

6. Mereka Menjaga Koneksi Emosional dengan Diri yang Autentik./Copyright freepik.com/author/lookstudio

Seiring bertambahnya usia, banyak orang menjauh dari bagian diri yang spontan dan jujur. Orang yang mengoleksi barang lucu justru menjaga koneksi itu. Mereka tidak mematikan sisi lembut demi terlihat dewasa.

Koneksi dengan diri autentik berperan besar dalam kesehatan mental. Ini membantu seseorang mengenali kebutuhan batin, batas pribadi, dan sumber kebahagiaan sejati.

Alih-alih terjebak citra, mereka memilih keutuhan diri. Pilihan ini menurunkan konflik batin yang sering menjadi akar kecemasan.

8 dari 8 halaman

7. Mereka Memahami bahwa Kesejahteraan Mental Dibangun dari Rutinitas Kecil

7. Mereka Memahami bahwa Kesejahteraan Mental Dibangun dari Rutinitas Kecil./Copyright depositphotos.com/sevendeman

Kepribadian ini tidak menunggu krisis untuk peduli pada mental health. Mereka membangun kesejahteraan dari rutinitas kecil yang konsisten, termasuk merawat ruang personal dengan benda-benda yang memberi rasa aman.

Barang lucu di meja kerja atau kamar tidur berfungsi sebagai penanda emosional: hidup boleh berat, tapi tidak harus kering. Ini menciptakan lingkungan psikologis yang suportif.

Sahabat Fimela, kesadaran seperti ini menunjukkan relasi sehat dengan diri sendiri, yaitu fondasi utama kesehatan mental yang berkelanjutan.

Mengoleksi barang-barang lucu bukan soal selera semata, melainkan cara seseorang menjaga dirinya tetap utuh di tengah dunia yang sering menuntut kekerasan emosional. Di sana ada keberanian untuk memilih ringan tanpa menjadi rapuh, bahagia tanpa merasa bersalah, dan autentik tanpa harus menjelaskan diri.

Jika suatu hari Sahabat Fimela melihat seseorang tersenyum karena benda kecil yang lucu, mungkin itu bukan tanda ketidakdewasaan. Bisa jadi, itu adalah bukti seseorang yang cukup matang untuk tahu bagaimana caranya tetap waras dan hangat di dunia yang dingin.