Fimela.com, Jakarta - Berbicara pada anak sering kali terasa seperti hal paling spontan dalam pengasuhan. Kata-kata keluar begitu saja, terutama saat emosi sedang tinggi, tubuh lelah, dan kesabaran menipis. Padahal, bagi anak, ucapan orang tua bukan sekadar suara, tetapi bisa menjadi cermin tentang siapa dirinya, bagaimana ia dipandang, dan seberapa aman dunia di sekelilingnya. Di sinilah peran bahasa menjadi sangat krusial.
Kali ini kita akan membahas soal lima kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan kepada anak. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memberi perspektif baru. Karena parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus belajar, bertumbuh, dan memperbaiki arah saat kita sadar ada yang perlu diubah.
1. Kenapa sih kamu melakukan itu?
Kalimat ini terdengar sederhana dan sering kali diucapkan tanpa niat buruk. Akan tetapi, bagi anak, pertanyaan “kenapa” yang dilontarkan dengan nada kesal bisa terasa seperti tuduhan. Anak belum tentu memahami motif di balik tindakannya sendiri, sehingga pertanyaan ini justru membuatnya bingung, terpojok, atau merasa disalahkan.
Akar masalah dari kalimat ini biasanya bukan rasa ingin tahu, melainkan frustrasi. Kita ingin anak “mengerti” secepat mungkin, padahal kemampuan refleksi mereka masih berkembang. Saat anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, ia lebih membutuhkan arahan daripada interogasi.
Alih-alih bertanya “kenapa”, Moms bisa menyebutkan perilakunya secara spesifik dan menjelaskan dampaknya. Misalnya, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak aman atau tidak sesuai aturan rumah. Pendekatan ini membantu anak memahami konsekuensi tanpa merasa direndahkan, sekaligus belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
2. Kamu bikin Mama stres saja!
Kalimat ini sering muncul ketika energi anak sedang penuh, sementara energi orang tua sudah habis. Tanpa disadari, ucapan ini menempatkan beban emosional pada anak. Pesannya seolah mengatakan bahwa kestabilan emosi orang tua sepenuhnya bergantung pada perilaku anak.
Masalahnya, anak bukanlah pengatur emosi orang dewasa. Ketika mereka merasa bertanggung jawab atas perasaan orang tuanya, anak bisa tumbuh dengan rasa bersalah berlebihan atau kecemasan untuk selalu “menyenangkan” orang lain.
Pendekatan yang lebih sehat adalah mengakui kondisi diri sendiri tanpa menyalahkan anak. Mengatakan bahwa Moms sedang lelah dan membutuhkan waktu untuk tenang memberi contoh pengelolaan emosi yang baik. Anak belajar bahwa perasaan boleh diungkapkan, tetapi tidak dengan cara menyalahkan orang lain.
3. Kamu memang selalu nakal!
Memberi label negatif pada anak adalah salah satu hal yang paling berisiko dalam pengasuhan. Ketika anak disebut “nakal”, ia tidak hanya dinilai dari satu perilaku, tetapi dari keseluruhan dirinya. Padahal, perilaku bisa diperbaiki, sementara label cenderung melekat dan membentuk identitas.
Kalimat ini biasanya muncul karena akumulasi kejengkelan sepanjang hari. Namun, ia menghapus semua perilaku positif yang mungkin sudah dilakukan anak sebelumnya. Anak yang sering dilabeli negatif bisa mulai mempercayai bahwa dirinya memang seperti itu, lalu bertindak sesuai label tersebut.
Moms bisa mengganti label dengan deskripsi perilaku yang lebih objektif. Fokus pada situasi tertentu dan apa yang perlu diperbaiki. Di saat yang sama, jangan ragu mengingatkan anak pada perilaku baik yang pernah ia lakukan. Penguatan positif memberi pesan bahwa anak mampu berubah dan berkembang.
4. Kalau kamu sayang Mama, harusnya kamu nurut.
Sekilas, kalimat ini terdengar seperti permintaan lembut. Namun, di baliknya tersembunyi pola manipulasi emosional. Anak diajarkan bahwa cinta harus dibuktikan dengan kepatuhan, dan bahwa kebahagiaan orang tua bergantung pada perilakunya.
Pola ini berbahaya karena dapat membentuk anak yang sulit menetapkan batasan saat dewasa. Mereka terbiasa mengorbankan kebutuhan sendiri demi menyenangkan orang lain, karena takut dianggap tidak menyayangi.
Daripada mengaitkan kasih sayang dengan kepatuhan, Moms bisa menyampaikan apresiasi secara langsung pada perilaku yang diharapkan. Anak perlu tahu bahwa ia dicintai tanpa syarat, sementara aturan tetap ada untuk menjaga kebaikan bersama. Dengan begitu, anak belajar bahwa cinta dan disiplin adalah dua hal yang berbeda namun saling melengkapi.
5. Mama nggak mau bicara sebelum kamu berubah.
Mengabaikan anak sebagai bentuk hukuman sering kali dianggap cara cepat untuk menghentikan perilaku tidak menyenangkan. Padahal, bagi anak, ini bisa terasa seperti penolakan emosional. Pesan yang tertangkap bukan tentang perilaku, melainkan tentang hubungan.
Ketika kasih sayang terasa bersyarat, anak bisa tumbuh dengan rasa tidak aman. Ia belajar bahwa kedekatan bisa dicabut sewaktu-waktu jika ia berbuat salah. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi cara anak membangun relasi dengan orang lain.
Pendekatan yang lebih sehat adalah menetapkan batas dengan tetap menjaga koneksi. Moms bisa menjelaskan bahwa perilaku tertentu tidak bisa diterima, sambil menegaskan bahwa hubungan tetap ada. Anak belajar bahwa konflik tidak harus berarti kehilangan kasih sayang.
Mengapa Kata-Kata Sangat Berpengaruh?
Otak anak masih berkembang, terutama dalam hal regulasi emosi dan pemaknaan diri. Kata-kata orang tua menjadi salah satu fondasi utama dalam proses ini. Ucapan yang berulang, terutama di momen emosional, bisa tertanam lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Bukan berarti Moms harus selalu berkata sempurna. Setiap orangtua pasti pernah terpeleset.
Yang terpenting adalah kesediaan untuk refleksi dan memperbaiki diri. Bahkan meminta maaf pada anak ketika salah berkata justru mengajarkan kerendahan hati dan tanggung jawab emosional.
Menghindari lima kalimat di atas bukan tentang menahan emosi, melainkan tentang mengelolanya. Parenting atau pola asuh yang sehat tidak anti tegas, tetapi tegas tanpa melukai. Anak tetap perlu batasan, arahan, dan konsekuensi, namun disampaikan dengan bahasa yang membangun.
Saat Moms mulai mengganti cara berbicara, perubahan mungkin tidak langsung terlihat. Hanya saja, seiring waktu, anak akan merasa lebih aman, lebih didengar, dan lebih percaya diri. Hubungan pun menjadi lebih hangat dan terbuka.
Anak tidak hanya mengingat apa yang kita ajarkan, tetapi bagaimana perasaan mereka saat bersama kita. Kata-kata yang dipilih dengan sadar dapat menjadi jembatan menuju hubungan yang lebih kuat, penuh empati, dan saling menghargai.