Fimela.com, Jakarta - Industri seni dan fashion menjadi dua industri yang kerap beririsan dalam sebuah kolaborasi prestisius. Kali ini Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) menjadi tuan rumah untuk gelaran The Max Mara Art Prize for Women untuk periode 2025-207. Kolaborasi ini tidak hanya sekadar kerjasama kedua pihak melainkan juga menandai hadirnya penghargaan seni internasional ini untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, melalui Indonesia.
Memasuki edisi ke-10, Max Mara Art Prize for Women membuka babak baru dalam perjalanannya dengan mengusung format nomadik, di mana setiap edisi diselenggarakan di negara yang berbeda. Kehadiran edisi perdana di Indonesia bukan sekadar ekspansi geografis, melainkan pernyataan penting tentang pergeseran pusat inovasi seni kontemporer global.
Didirikan pada 2005 oleh Max Mara Fashion Group, rumah mode Italia yang dikenal akan estetika elegan dan nilai kemewahan klasik, Max Mara Art Prize for Women sejak awal berkomitmen mendukung perupa perempuan. Penghargaan ini dikembangkan bersama Collezione Maramotti, koleksi seni kontemporer privat yang berlokasi di bekas kantor pusat bersejarah Max Mara di Reggio Emilia, Italia.
Selama dua dekade, penghargaan ini telah menjadi ruang penting bagi eksplorasi artistik, riset mendalam, serta pengembangan profesional perupa perempuan. Kini, dengan visi internasional yang semakin luas, Max Mara Art Prize for Women memperkaya dialog seni global dengan menjangkau konteks budaya yang beragam.
Indonesia Jadi Panggung Baru
Edisi kesepuluh juga menandai berakhirnya kemitraan panjang Max Mara dan Collezione Maramotti dengan Whitechapel Gallery London, institusi yang selama ini berperan penting dalam mendukung seniman perempuan berbasis di Inggris. Peralihan ke format nomadik membuka kemungkinan baru dan mempertemukan lanskap budaya yang berbeda dan menciptakan pertukaran lintas negara yang lebih inklusif.
Kurator internasional ternama Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art, New York, dipercaya untuk membentuk fase baru penghargaan ini. Bersama Max Mara dan Collezione Maramotti, Alemani akan memilih negara penyelenggara, mitra institusi, serta merancang kerangka kolaborasi jangka panjang yang berkelanjutan.
Untuk edisi perdana di Indonesia, dewan juri diketuai langsung oleh Cecilia Alemani dan didukung oleh tokoh-tokoh seni lintas disiplin, antara lain Venus Lau (Direktur Museum MACAN), Amanda Ariawan (kurator), Megan Arlin (galeris, ara contemporary), Evelyn Halim (kolektor seni), dan Melati Suryodarmo (perupa).
Komposisi juri ini mencerminkan dialog antara perspektif global dan lokal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percakapan seni kontemporer internasional.
Residensi di Italia dan Dampak Jangka Panjang
Salah satu elemen kunci dari Max Mara Art Prize for Women adalah program residensi selama enam bulan di Italia, yang memberikan ruang eksperimental bagi perupa terpilih untuk memperdalam riset, memperluas jejaring, serta mengolah warisan budaya Italia menjadi ekspresi kreatif baru.
Menurut Venus Lau, Direktur Museum MACAN, kehadiran penghargaan ini di Indonesia tidak hanya berdampak bagi seniman terpilih, tetapi juga bagi ekosistem seni nasional secara luas. Program ini membuka percakapan baru tentang representasi, kesempatan, dan perspektif, sekaligus menempatkan praktik perupa perempuan Indonesia dalam dialog global yang lebih setara.
Cecilia Alemani menyebut format global Max Mara Art Prize for Women sebagai bentuk diplomasi budaya yang relevan dengan zaman. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, penghargaan ini hadir sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi, inovasi, dan keberagaman praktik artistik lintas negara.
Melalui kolaborasi dengan Museum MACAN, Max Mara Art Prize for Women menegaskan bahwa masa depan seni kontemporer bersifat plural, inklusif, dan tidak lagi terpusat pada satu wilayah. Indonesia pun kini menjadi bagian penting dari peta seni global, sebuah langkah signifikan bagi perupa perempuan dan dunia kreatif secara keseluruhan.