8 Tips Jitu Menyambut Menantu Baru, Ciptakan Keluarga Harmonis Penuh Cinta

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 30 Januari 2026, 09:46 WIB

ringkasan

  • Menerima menantu baru membutuhkan keterbukaan terhadap perubahan dinamika keluarga dan pengakuan bahwa hubungan utama anak kini beralih ke pasangannya.
  • Membangun komunikasi yang efektif melibatkan pengajuan pertanyaan terbuka, mendengarkan dengan seksama, menahan diri dari penilaian dini, dan menawarkan nasihat hanya jika diminta.
  • Penting untuk menghormati batasan baru yang muncul dalam hubungan anak dan pasangannya, serta memberi kelonggaran pada diri sendiri dan semua pihak selama masa adaptasi ini.

Fimela.com, Jakarta - Menyambut anggota keluarga baru, terutama menantu, adalah momen penting yang membawa perubahan besar dalam dinamika keluarga. Pergeseran ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas lingkaran kasih sayang. Sahabat Fimela, memahami cara terbaik menyambut menantu baru sangat krusial agar mereka merasa diterima sepenuhnya.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif yang disadur dari Independent.co.uk, berdasarkan saran ahli psikoterapis Armele Philpotts dari British Association for Counselling and Psychotherapy (BACP). Philpotts membagikan delapan tips penting untuk membantu Anda menavigasi fase transisi ini dengan bijaksana.

Tujuan utama dari tips ini adalah memastikan menantu baru Anda merasa nyaman dan menjadi bagian integral dari keluarga. Dengan pendekatan yang tepat, Anda dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh pengertian. Mari kita selami 8 tips menyambut menantu baru yang akan memperkaya hubungan keluarga Anda.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Terbuka pada Perubahan Dinamika Keluarga

ilustrasi mertua dan menantu/Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Menerima menantu baru berarti membuka diri terhadap cara-cara baru dalam melakukan berbagai hal. Perubahan ini secara alami akan menggeser seluruh dinamika keluarga, suka atau tidak suka. "Ketika kita membawa orang lain ke dalam keluarga kita, mereka membawa cara mereka sendiri dalam melakukan sesuatu dan itu akan menggeser seluruh dinamika keluarga, suka atau tidak suka," kata Philpotts. Ia menekankan pentingnya mengakui bahwa perubahan pasti akan terjadi dan melihatnya sebagai kesempatan untuk menyambut perspektif serta kebiasaan baru. "Saya pikir penting untuk mengakui bahwa banyak hal akan berubah dan itu adalah kesempatan untuk menyambut cara-cara melakukan sesuatu yang sedikit berbeda," tambahnya.

Sahabat Fimela, penting juga untuk menyadari bahwa hubungan utama anak Anda kini telah bergeser ke pasangannya, bukan lagi hubungan orang tua-anak. Ini adalah pergeseran besar yang memerlukan pemahaman dan penerimaan dari pihak orang tua. Philpotts menjelaskan, "Penting untuk mengakui bahwa hubungan utama anak Anda sekarang adalah hubungan pasangannya, daripada hubungan orang tua-anak, yang merupakan pergeseran besar."

Jangan mencoba bersaing dengan pasangan anak Anda, melainkan terimalah bahwa ini adalah jenis hubungan yang berbeda. "Jangan mencoba bersaing, dan terimalah bahwa itu adalah jenis hubungan yang berbeda," saran Philpotts. Ingatlah, masih ada ruang untuk cinta yang mendalam antara orang tua dan anak, meskipun kini mereka memiliki hubungan dewasa dengan pasangannya. Menghargai hubungan baru mereka akan memperkuat ikatan keluarga secara keseluruhan.

3 dari 4 halaman

Membangun Komunikasi Efektif dan Mendalam

Untuk mengenal menantu baru, tunjukkan minat tulus dengan mengajukan pertanyaan terbuka. "Anda bisa mendapatkan banyak informasi dengan mengajukan pertanyaan terbuka, daripada pertanyaan tertutup," kata Philpotts. Pertanyaan terbuka memungkinkan Anda mendapatkan lebih banyak informasi dibandingkan pertanyaan tertutup yang hanya bisa dijawab ya atau tidak. Misalnya, daripada bertanya "Apakah Anda suka memasak?", coba tanyakan "Apa makanan favorit Anda saat kecil?".

Selain bertanya, ingatlah prinsip penting: Anda memiliki dua telinga dan satu mulut. "Ingatlah bahwa Anda memiliki dua telinga, dan satu mulut," kata Philpotts. Ia menyarankan untuk lebih banyak mendengarkan, mengamati, dan melihat apa yang sedang terjadi. "Saya pikir itu selalu merupakan prinsip yang sangat baik untuk memulai," tambahnya.

Selama pertemuan awal, hindari mengungkapkan terlalu banyak pendapat pribadi secara langsung. "Pertimbangkan untuk tidak terlalu banyak mengungkapkan pendapat selama beberapa pertemuan pertama itu," saran Philpotts. Ia merujuk pada konsep "Botox Brow" dari psikolog Michelle Icard, yaitu mempertahankan ekspresi netral. "Prinsip Botox Brow adalah bahwa bahkan jika Anda berpikir sesuatu sedikit mengkhawatirkan atau agak aneh, Anda mempertahankan ekspresi yang sangat netral itu," jelasnya. Ini memberi menantu baru ruang untuk berekspresi tanpa merasa perlu untuk segera menolak atau membela diri.

Sebelum memberikan nasihat, selalu tanyakan apakah mereka menginginkannya, baik sekarang maupun di masa mendatang. "Periksa apakah mereka ingin mendengar beberapa nasihat, baik sekarang atau di masa mendatang, sebelum memberikannya," saran Philpotts. Jika diminta, usahakan nasihat seumum mungkin dan gunakan contoh dari pengalaman hidup Anda sendiri. "Kemudian cobalah membuat nasihat seumum mungkin. Pertimbangkan untuk menggunakan contoh pengalaman hidup Anda sendiri daripada mengatakan 'oh Anda harus melakukan itu, atau Anda pasti tidak boleh melakukan itu'. Cobalah untuk lebih bergerak ke peran mentoring itu," katanya.

4 dari 4 halaman

Menghormati Batasan dan Memberi Kelonggaran

Setiap orang memiliki ide yang berbeda tentang batasan yang sesuai dalam sebuah hubungan. Batasan anak-anak kita mungkin berubah ketika mereka memasuki hubungan baru. "Orang-orang akan memiliki ide yang berbeda tentang batasan apa yang mungkin sesuai, jadi ini semua tentang memeriksa dan mendengarkan karena batasan anak-anak kita mungkin berubah ketika mereka memasuki hubungan baru," kata Philpotts. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu memeriksa dan mendengarkan kebutuhan serta batasan baru yang mungkin muncul. Menghormati batasan ini adalah tanda penghargaan dan akan memperkuat ikatan keluarga.

Philpotts mengingatkan bahwa orang tua juga mungkin merasa gugup dalam situasi ini. "Kita sering berpikir tentang anak-anak kita yang gugup dalam situasi ini, tetapi ingatlah bahwa sebagai orang tua, ini seringkali pertama kalinya Anda melakukannya, jadi berikan diri Anda sedikit kelonggaran," kata Philpotts. Tidak perlu merasa harus melakukan semuanya dengan sempurna. "Perhatikan jika Anda gugup, dan ingatlah bahwa Anda tidak harus melakukannya dengan sempurna. Bersikaplah baik pada diri sendiri," tambahnya.

Hal terpenting adalah memberikan waktu bagi semua pihak untuk beradaptasi. "Terimalah bahwa baik anak-anak maupun orang tua akan membutuhkan waktu untuk mencari tahu apa yang perlu diubah, bagaimana perubahannya, dan itu akan terus berkembang," renung Philpotts. Baik anak-anak maupun orang tua memerlukan waktu untuk memahami apa yang perlu diubah dan bagaimana perubahan itu harus terjadi. Dinamika keluarga akan terus berkembang seiring waktu, dan kesabaran adalah kunci utama.