Fimela.com, Jakarta - Kesehatan mata adalah aset berharga yang seringkali luput dari perhatian kita, Sahabat Fimela. Banyak yang tidak menyadari bahwa ada kondisi mata yang secara bertahap memburuk seiring waktu, menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. Kondisi inilah yang dikenal sebagai penyakit mata bersifat progresif, di mana penglihatan bisa memudar perlahan tanpa gejala awal yang jelas.
Penyakit mata progresif merupakan kondisi yang cenderung memburuk seiring waktu, menyebabkan penurunan fungsi penglihatan secara bertahap. Perkembangan penyakit ini dapat dihentikan atau diperlambat melalui pengobatan, meskipun dalam beberapa kasus, pengobatan hanya dapat memperlambat progresinya. Penting untuk memahami penyebabnya agar deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat dilakukan.
Berbagai faktor dapat memicu munculnya penyakit mata progresif, mulai dari predisposisi genetik, paparan lingkungan sehari-hari, hingga perubahan alami akibat penuaan. Mengenali faktor-faktor ini menjadi langkah awal yang krusial untuk menjaga kesehatan mata Anda. Mari kita selami lebih dalam apa saja penyebab utama di balik kondisi mata yang memerlukan perhatian khusus ini.
Faktor Genetik di Balik Penyakit Mata Progresif
Penyakit mata bersifat progresif seringkali memiliki komponen genetik yang kuat, Sahabat Fimela. Perubahan atau varian pada satu atau lebih gen dapat mengganggu fungsi retina yang tepat, menyebabkan degenerasi sel dan kehilangan penglihatan. Penyakit Retina Bawaan (Inherited Retinal Diseases - IRDs) adalah sekelompok penyakit genetik yang menyebabkan kehilangan penglihatan parah atau bahkan kebutaan, dengan lebih dari 270 gen berbeda diketahui sebagai penyebabnya.
Salah satu contoh IRD yang paling dikenal adalah Retinitis Pigmentosa (RP). RP adalah kelompok gangguan genetik yang menyebabkan kehilangan penglihatan progresif, dimulai dengan kesulitan melihat di malam malam dan penurunan penglihatan perifer. Penyakit ini disebabkan oleh varian genetik pada hampir 100 gen, di mana sel fotoreseptor batang pada retina mengalami kerusakan progresif. Gejala RP biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan sebagian besar penderitanya akan kehilangan sebagian besar penglihatan mereka seiring waktu.
Selain RP, beberapa kondisi genetik lain juga termasuk dalam kategori penyakit mata bersifat progresif. Neuropati Optik Herediter Leber (LHON) adalah kondisi langka yang menyebabkan kebutaan mendadak dan tidak dapat diubah, dengan pewarisan mitokondria memainkan peran penting. Penyakit Stargardt, bentuk paling umum dari distrofi makula juvenil, serta Distrofi Kerucut-Batang (CORD) dan Koroideremia, juga merupakan penyakit genetik yang memengaruhi retina dan menyebabkan kehilangan penglihatan secara bertahap. Bahkan, kondisi seperti Distrofi Endotel Fuchs dan Keratoconus juga dapat memiliki penyebab herediter yang memengaruhi kornea mata.
Dampak Lingkungan Terhadap Kesehatan Mata Progresif
Tidak hanya genetik, lingkungan sekitar kita juga berperan besar dalam memicu atau mempercepat perkembangan penyakit mata bersifat progresif. Paparan berlebihan terhadap radiasi UV, misalnya, dapat merusak retina atau kornea mata, yang berujung pada kondisi seperti degenerasi makula dan katarak. Sahabat Fimela perlu melindungi mata dari sinar UV yang berbahaya, baik dari matahari maupun sumber buatan, dengan menggunakan kacamata hitam yang tepat.
Polusi udara dan asap, termasuk asap rokok, juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata. Paparan konstan terhadap polusi udara dapat menyebabkan penglihatan kabur, mata berair, iritasi, hingga sindrom mata kering dan konjungtivitis. Asap rokok, baik langsung maupun tidak langsung, secara signifikan meningkatkan risiko glaukoma, katarak, retinopati diabetik, dan degenerasi makula terkait usia. Partikel udara seperti debu juga dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan kornea.
Di era digital ini, penggunaan layar digital yang berkepanjangan menjadi faktor lingkungan lain yang perlu diwaspadai. Waktu layar yang berlebihan, kurangnya istirahat mata, dan kecerahan layar yang tinggi dapat menyebabkan ketegangan mata digital atau sindrom penglihatan komputer. Selain itu, pencahayaan yang buruk atau berlebihan, serta udara kering dan tingkat kelembaban rendah, juga dapat berkontribusi pada masalah mata seperti ketidaknyamanan, penglihatan kabur, dan mata kering. Alergi dan serbuk sari musiman juga dapat memicu konjungtivitis alergi yang mengganggu.
Penuaan dan Risiko Penyakit Mata Progresif
Penuaan adalah penyebab utama banyak penyakit mata bersifat progresif karena menyebabkan perubahan alami pada struktur dan fungsi mata. Degenerasi Makula Terkait Usia (AMD) adalah contoh paling umum, di mana penuaan menyebabkan kerusakan pada makula, bagian mata yang mengontrol penglihatan sentral yang tajam. AMD adalah penyebab utama kehilangan penglihatan bagi orang dewasa yang lebih tua, dan dapat berupa bentuk kering yang berkembang lambat atau bentuk basah yang lebih cepat merusak penglihatan.
Katarak, yaitu area keruh pada lensa mata yang biasanya jernih, juga sangat umum terjadi pada orang yang lebih tua. Protein dalam lensa mulai rusak seiring bertambahnya usia, menyebabkan penglihatan kabur dan sensitivitas terhadap cahaya. Meskipun progresif, katarak dapat diobati dengan operasi. Glaukoma, kondisi yang memengaruhi saraf optik akibat tekanan tinggi di dalam mata, juga seringkali berkembang seiring usia. Glaukoma dapat menyebabkan kehilangan penglihatan progresif jika tidak diobati, dimulai dari penglihatan perifer hingga sentral.
Selain itu, presbiopia membuat membaca sulit bagi orang berusia 40 tahun ke atas karena lensa mata menjadi kurang fleksibel. Mata kering juga lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua karena penurunan alami dalam produksi air mata. Perubahan otot pupil, kehilangan sensitivitas sel kerucut yang memengaruhi penglihatan warna, dan penyusutan vitreous yang dapat menyebabkan floaters atau ablasi retina, semuanya adalah bagian dari proses penuaan yang dapat berkontribusi pada kondisi mata progresif. Deteksi dini dan pemeriksaan mata rutin sangat disarankan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti usia lanjut.
Kondisi Medis Lain Pemicu Penyakit Mata Progresif
Beberapa kondisi medis sistemik atau masalah mata lainnya juga dapat menyebabkan penyakit mata bersifat progresif. Retinopati Diabetik (DR) adalah komplikasi serius diabetes yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan dan bahkan kebutaan. Kondisi ini melibatkan kerusakan progresif pada pembuluh darah retina, dan 90% kehilangan penglihatan akibat diabetes dapat dicegah dengan deteksi dini serta pemeriksaan mata teratur.
Ablasi retina, kondisi ketika sebagian retina robek atau terlepas dari bagian belakang mata, juga dapat mengancam penglihatan secara progresif jika tidak segera ditangani. Penyakit kornea, seperti kekeruhan atau jaringan parut akibat cedera, infeksi, atau peradangan kronis, juga dapat menyebabkan penurunan penglihatan. Uveitis, sekelompok kondisi yang ditandai dengan peradangan di dalam mata, serta penyakit menular tertentu, juga bisa berkontribusi pada perkembangan penyakit mata progresif.
Menurut dr. Ucok Pasaribu, Sp.M(K), Dokter Konsultan Mata di Mayapada Eye Centre, banyak penyakit mata bersifat progresif berkembang tanpa gejala awal yang jelas, sehingga seringkali baru disadari ketika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia menyoroti pekerja kantoran dengan paparan layar digital yang tinggi sebagai kelompok berisiko. "Faktor seperti screen time berlebih, minimnya waktu istirahat mata, serta pencahayaan ruang kerja yang kurang optimal dapat mempercepat terjadinya kelelahan mata digital dan gangguan penglihatan lainnya," ujarnya. Oleh karena itu, pemeriksaan mata rutin menjadi sangat penting untuk mempertahankan penglihatan yang optimal, Sahabat Fimela.