Cara Tepat Mengajarkan Empati dan Kebaikan pada Anak

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 06 Februari 2026, 12:17 WIB

ringkasan

  • Mengajarkan empati dan kebaikan sejak dini sangat krusial karena membentuk karakter anak yang peduli, meningkatkan kesehatan mental, serta membangun hubungan sosial yang kuat.
  • Orang tua berperan sebagai teladan utama dalam menunjukkan tindakan kebaikan dan membantu anak memahami serta mengelola emosi mereka melalui diskusi terbuka dan validasi perasaan.
  • Mendorong anak untuk melakukan tindakan kebaikan, melatih keterampilan sosial seperti mendengarkan aktif dan resolusi konflik, serta merayakan keberagaman adalah strategi efektif untuk menumbuhkan empati dan kebaikan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tahukah Anda mengapa empati dan kebaikan sangat penting bagi tumbuh kembang anak? Keterampilan ini adalah fondasi utama bagi mereka untuk membangun hubungan yang kuat dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Ini bukan hanya tentang bersikap baik, tetapi juga membentuk pribadi yang utuh dan berdaya.

Mengajarkan nilai-nilai luhur ini sejak dini akan membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional yang tinggi. Mereka akan lebih mudah memahami perasaan orang lain, berkomunikasi secara efektif, dan berkontribusi positif di komunitas mereka. Ini adalah investasi berharga untuk masa depan cerah sang buah hati.

Dilansir dari berbagai sumber, kita akan mengupas tuntas berbagai strategi jitu tentang cara mengajarkan empati dan kebaikan pada anak yang bisa Anda terapkan. Mari kita ciptakan generasi penerus yang penuh kasih sayang dan kepedulian.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Mengapa Empati dan Kebaikan Sangat Penting bagi Anak?

Mengajarkan kebaikan dan empati memberikan dampak positif pada kesehatan, harga diri, dan kebahagiaan anak. Anak-anak yang empatik lebih mampu berhasil dalam lingkungan sosial dan memiliki koneksi yang lebih baik dengan orang lain. (Foto: Katherine Hanlon/Unsplash)

Mengajarkan kebaikan dan empati memberikan dampak positif pada kesehatan, harga diri, dan kebahagiaan anak. Anak-anak yang empatik lebih mampu berhasil dalam lingkungan sosial dan memiliki koneksi yang lebih baik dengan orang lain. Empati adalah dasar untuk bertindak secara etis, membangun hubungan yang baik, mencintai dengan baik, dan mencapai kesuksesan profesional. Ini juga kunci untuk mencegah penindasan dan bentuk kekejaman lainnya.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak semuda 14 bulan memiliki kecenderungan altruistik bawaan, jauh sebelum sosialisasi memiliki pengaruh besar pada perkembangan mereka. Namun, kualitas ini perlu dikembangkan saat anak-anak memasuki lingkungan di mana insentif yang mendukung aspek-aspek ini tidak selalu ada. Umumnya, anak baru memahami konsep empati saat berusia 8–9 tahun, tetapi pada usia 5 tahun, mereka sudah bisa mulai diajarkan mengenali dan mengelola emosi.

Sebuah studi menemukan bahwa pemikiran anak-anak tentang kebaikan mencakup serangkaian orientasi tanpa pamrih dan altruistik yang dapat bermanfaat bagi orang lain, sekolah, dan masyarakat. Anak-anak sering menggambarkan kebaikan dalam hal perilaku murah hati (57%) dan penuh kasih sayang (43%), seperti berbagi makanan atau mendengarkan teman yang sedih.

3 dari 5 halaman

Menjadi Teladan dan Membangun Pemahaman Emosional Anak

Cara terbaik untuk mengajarkan keterampilan kebaikan dan empati kepada anak adalah dengan memberi contoh. Anak-anak belajar kebaikan dengan mengamati, jadi pastikan Anda memberikan contoh yang baik tentang cara memperlakukan orang lain. Ciptakan budaya kebaikan di rumah dengan memperlakukan setiap anggota keluarga dengan hormat dan adil, serta jadikan rumah tempat di mana setiap orang dapat berbagi ide dan mengajukan pertanyaan secara bebas tanpa kritik.

Modelkan regulasi emosi dengan menjelaskan apa yang Anda rasakan, misalnya, "Saya merasa frustrasi dan saya tidak ingin melampiaskannya pada orang lain." Tunjukkan kepada anak bagaimana Anda bisa bernapas melalui frustrasi. Diskusikan emosi secara terbuka daripada mengabaikan atau menyembunyikannya, dan ajarkan anak-anak kosakata untuk mengidentifikasi perasaan.

Latih pengambilan perspektif dengan membantu anak-anak mengenali bagaimana perasaan orang lain dalam situasi yang berbeda. Ajukan pertanyaan seperti, "Menurutmu bagaimana perasaan temanmu ketika itu terjadi?" atau "Bagaimana perasaanmu jika seseorang melakukan itu padamu?". Validasi emosi sulit anak dengan tidak terburu-buru memperbaikinya, melainkan mengakui perasaan mereka.

4 dari 5 halaman

Mendorong Tindakan Positif dan Keterampilan Sosial yang Kuat

Dorong tindakan kebaikan pada anak dan jadikan itu menyenangkan, Sahabat Fimela. Anda bisa membuat bagan kebaikan di mana anak dapat mendapatkan bintang atau stiker untuk tindakan kebaikan. Tetapkan tujuan kebaikan mingguan, seperti memberikan pujian atau menggambar untuk seseorang. Rayakan setiap tindakan kebaikan yang mereka lakukan.

Promosikan membantu orang lain dengan menemukan cara bagi anak-anak untuk berkontribusi pada komunitas mereka, seperti menjadi sukarelawan atau membantu teman dengan pekerjaan rumah. Ajarkan mendengarkan aktif, bimbing melalui resolusi konflik, dan dorong penggunaan bahasa empati yang menunjukkan kepedulian terhadap perasaan orang lain. Bermain peran juga dapat membantu anak-anak mempraktikkan perilaku empatik. Ajarkan pula berbagi sebagai bagian penting dari pengembangan empati.

Penting juga untuk mempromosikan keberagaman dan inklusi. Berikan anak Anda kesempatan untuk bermain dengan anak-anak dari ras, latar belakang, tingkat kemampuan, atau jenis kelamin yang berbeda. Dorong mereka untuk mencari kesamaan dengan orang lain, sekaligus menjelajahi perbedaan melalui buku, film, atau acara budaya.

5 dari 5 halaman

Kesabaran adalah Kunci

Mengembangkan empati membutuhkan waktu dan kesabaran, Sahabat Fimela. Otak anak kecil masih dalam tahap perkembangan, terutama bagian yang bertanggung jawab untuk emosi kompleks seperti empati. Anak-anak kecil melalui fase "egosentris" di mana mereka melihat dunia terutama dari sudut pandang mereka sendiri.

Bantu siswa terhubung dengan emosi mereka sendiri dengan membuat jurnal dan menulis tentang bagaimana perasaan mereka. Ajarkan anak-anak strategi mengatasi emosi yang efektif, seperti mengambil napas dalam-dalam, menghitung, dan memvisualisasikan hal-hal yang menenangkan.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak, seperti orang dewasa, cenderung meremehkan dampak positif dari tindakan kebaikan mereka. Namun, tindakan kebaikan kecil membuat perbedaan yang lebih besar dari yang diperkirakan orang, dan bermanfaat bagi penerima maupun pemberi.