3 Kebiasaan Buruk yang Harus Dihindari Saat Berbicara dengan Balita

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 06 Februari 2026, 12:32 WIB

ringkasan

  • Hindari penggunaan kata-kata menyakitkan, sarkasme, atau merendahkan karena dapat merusak kepercayaan diri balita dan memicu perasaan tidak berharga.
  • Kurangi mengajukan terlalu banyak pertanyaan kepada balita dan gantikan dengan mengomentari aktivitas mereka untuk mendorong interaksi dan perkembangan bahasa yang lebih alami.
  • Alihkan penggunaan bahasa negatif seperti "jangan" menjadi instruksi positif yang memberitahu balita apa yang harus dilakukan, agar mereka lebih mudah memahami dan menuruti arahan.
 

Fimela.com, Jakarta - Komunikasi yang efektif adalah kunci dalam membangun hubungan yang kuat dengan siapa pun, termasuk dengan si kecil. Bagi Sahabat Fimela yang memiliki balita, cara berkomunikasi memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian dan kepercayaan diri mereka. Setiap kata yang terucap dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan emosional dan mental anak.

Sayangnya, tanpa disadari, orangtua seringkali melakukan beberapa kebiasaan buruk saat berinteraksi dengan balita yang justru dapat menghambat tumbuh kembang mereka. Kebiasaan ini, jika terus dilakukan, bisa merusak kepercayaan diri anak dan bahkan memicu perasaan tidak berharga.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengenali dan menghindari 3 Kebiasaan Buruk yang Harus Dihindari Saat Berbicara dengan Balita berikut. Dengan memahami dan mengubah pola komunikasi, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan positif bagi buah hati.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Hindari Kata-kata Menyakitkan dan Merendahkan

Salah satu kebiasaan paling merusak adalah menggunakan kata-kata yang menyakitkan, sarkasme, menyalahkan, meremehkan, atau merendahkan balita. | Unsplash - dx www

Salah satu kebiasaan paling merusak adalah menggunakan kata-kata yang menyakitkan, sarkasme, menyalahkan, meremehkan, atau merendahkan balita. Orangtua sebaiknya menjauhi ejekan yang menyakitkan dan mencari-cari kesalahan saat berkomunikasi. Menggunakan kata-kata merendahkan juga harus dihindari, karena dapat melukai kepercayaan diri anak.

Kata-kata seperti memanggil anak dengan sebutan "penakut" atau "pengeluh" dapat sangat melukai harga diri mereka, terutama balita usia sekitar 2 tahun yang sangat fokus pada kata-kata dan peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Serangan verbal ini bisa melukai anak sama seperti tamparan fisik. Bahkan, beberapa ucapan kejam dapat menghilangkan ratusan pelukan serta memicu kebencian atau perasaan tidak berharga pada diri anak.

Untuk membangun komunikasi yang positif, gunakan kata-kata yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan Anda, bukan menyalahkan anak. Pendekatan ini membantu anak memahami konsekuensi tindakan mereka tanpa merasa diserang secara personal.

3 dari 4 halaman

Jangan Terlalu Banyak Mengajukan Pertanyaan

Meskipun terasa alami untuk mencoba mengajari balita berbicara dengan mengajukan banyak pertanyaan, hal ini justru dapat menghambat perkembangan bahasa mereka. Terlalu banyak pertanyaan dapat membuat balita merasa tertekan, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk memikirkan dan mengucapkan kata-kata. Seringkali, ini mengakibatkan balita tidak mengatakan apa-apa karena merasa terbebani.

Sebagai gantinya, Sahabat Fimela disarankan untuk mengomentari apa yang sedang dilakukan atau dikatakan balita. Misalnya, daripada bertanya "Apakah kamu bermain dengan dinosaurus?" atau "Apa itu?", lebih baik katakan "Dinosaurusmu sangat besar dan berisik" atau "Dinosaurusmu sedang menginjak-injak."

Pendekatan ini membuat orangtua lebih menarik bagi balita dan memotivasi mereka untuk berinteraksi, menyalin tindakan, atau mengulangi kata-kata yang diucapkan. Ini membantu mereka memahami kekuatan komunikasi dan arti kata-kata dengan cara yang menyenangkan dan tanpa tekanan.

4 dari 4 halaman

Gunakan Bahasa Positif, Bukan Negatif

Ketika orangtua terus-menerus memberi tahu balita apa yang tidak boleh dilakukan, balita cenderung mengabaikannya. Instruksi negatif seperti "Jangan lari!" atau "Jangan berteriak!" seringkali tidak efektif karena tidak memberikan arahan yang jelas tentang perilaku yang diinginkan.

Bahasa positif, yang memberi tahu balita apa yang harus dilakukan, jauh lebih membantu. Pendekatan ini memberikan panduan yang jelas dan konstruktif, sehingga balita lebih mudah memahami dan mengikuti arahan. Ini juga membangun suasana yang lebih positif dan mendukung.

Contohnya, daripada mengatakan "Jangan lari!", ubah menjadi "Berjalanlah di dalam rumah". "Jangan berteriak!" dapat diubah menjadi "Gunakan suara dalammu". Dan "Jangan melempar mainanmu!" menjadi "Mainan tetap di lantai". Dengan mengubah frasa negatif menjadi positif, Anda membantu balita mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang batasan dan perilaku yang diharapkan.