Penyakit Ginjal Kronis Sering Tak Bergejala di Awal, Banyak Pasien Baru Sadar Saat Harus Cuci Darah

Hilda IrachDiterbitkan 15 Maret 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Penyakit ginjal kronis sering disebut sebagai silent disease karena pada tahap awal kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa fungsi ginjalnya mulai menurun hingga akhirnya terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Tessa Oktaramdani, Sp.PD, Subsp. G.H (K), FINASIM, menjelaskan bahwa banyak pasien baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah fungsi organ tersebut menurun drastis dan membutuhkan terapi pengganti ginjal, seperti hemodialisis (HD) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai cuci darah.

“Penyakit ginjal kronis sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Banyak pasien datang ketika kondisi sudah cukup berat dan membutuhkan terapi pengganti ginjal,” jelas dr. Tessa.

Padahal, menurutnya, penyakit ginjal sebenarnya dapat dicegah atau diperlambat perkembangannya jika terdeteksi lebih dini. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, sangat penting dilakukan.

Ia juga menekankan bahwa penerapan pola hidup sehat berperan besar dalam menjaga fungsi ginjal. Mengontrol tekanan darah dan gula darah, mengurangi konsumsi garam, menjaga berat badan ideal, serta cukup minum air putih dapat membantu menurunkan risiko gangguan ginjal.

“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dengan informasi yang tepat dan pola hidup sehat, risiko penyakit ginjal bisa ditekan,” tambahnya.

2 dari 2 halaman

RS EMC Sentul Gelar Health Talk

Peringati Hari Ginjal dan Hari Tuberkulosis Sedunia, RS EMC Sentul Gelar Edukasi Kesehatan dan Buka Puasa Bersama. [Dok/RS EMC Sentul].

Edukasi mengenai kesehatan ginjal ini disampaikan dalam kegiatan Health Talk yang digelar RS EMC Sentul di Bogor pada 13 Maret 2026. Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia dan Hari Tuberkulosis Sedunia.

Selain membahas kesehatan ginjal, kegiatan ini juga menghadirkan edukasi mengenai tuberkulosis (TBC) yang disampaikan oleh dr. Herman, Sp.P, FISR, Spesialis Paru dan Pernapasan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.

“TBC merupakan penyakit infeksi yang menular melalui udara. Namun dengan deteksi dini dan pengobatan yang teratur hingga tuntas, penyakit ini sebenarnya dapat disembuhkan,” ungkapnya.

Presiden Direktur PT Unggul Pratama Medika sekaligus Direktur RS EMC Sentul, dr. G.A. Kusmiati, MARS, FISQua, mengatakan bahwa kegiatan edukasi seperti ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai penyakit kronis yang masih banyak ditemukan di Indonesia.

“Meskipun fungsi ginjal terbatas, hidup bisa tetap berkualitas. Tuberkulosis juga tidak perlu ditakuti karena dapat diobati dan sembuh total,” ujarnya.

Menariknya, acara ini juga menghadirkan pasien penyakit ginjal kronis yang telah menjalani hemodialisis di RS EMC Sentul untuk berbagi pengalaman. Mereka menceritakan perjalanan menjalani terapi serta bagaimana tetap menjaga kualitas hidup selama proses pengobatan.

Selain sesi edukasi dan diskusi interaktif, kegiatan ini juga diakhiri dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh dokter, tenaga medis, pasien, rekan media, dan para undangan yang hadir. Momen tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antara rumah sakit dengan masyarakat.

Peringati Hari Ginjal dan Hari Tuberkulosis Sedunia, RS EMC Sentul Gelar Edukasi Kesehatan dan Buka Puasa Bersama. [Dok/RS EMC Sentul].