Tidak Harus Selalu Baru, Tren Baju Lebaran Berkelanjutan Makin Dilirik

Hilda IrachDiterbitkan 17 Maret 2026, 09:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Lebaran selama ini identik dengan tradisi mengenakan baju baru. Momen Hari Raya sering menjadi alasan banyak orang membeli pakaian khusus untuk tampil rapi dan segar saat bersilaturahmi dengan keluarga. Namun belakangan, semakin banyak orang mulai mempertanyakan kebiasaan tersebut. Apakah baju Lebaran harus selalu baru setiap tahun?

Kesadaran terhadap isu lingkungan membuat sebagian masyarakat mulai mengubah cara mereka memandang fashion, termasuk saat merayakan Hari Raya. Tren sustainable fashion atau mode berkelanjutan kini semakin mendapat perhatian, seiring meningkatnya pemahaman bahwa industri fashion merupakan salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia.

Alih-alih selalu membeli pakaian baru, banyak orang mulai memilih opsi yang lebih ramah lingkungan, mulai dari mengenakan kembali koleksi lama, memadupadankan outfit yang sudah dimiliki, hingga memilih brand yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam proses produksinya.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Sejauh Mata Memandang dan Komitmen pada Fashion Berkelanjutan

Tak lama setelah perilisan lagu perdananya, Dita tiba di Jakarta dan langsung mencuri perhatian publik lewat penampilan istimewanya di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, pada 28 Oktober 2025. [@hey_deets].

Konsep berbusana berkelanjutan sebenarnya tidak berarti harus meninggalkan gaya atau tampil sederhana. Justru, pendekatan ini mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih pakaian yang memiliki kualitas baik, desain timeless, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Beberapa brand lokal bahkan mulai menawarkan koleksi yang dirancang agar tetap relevan dipakai tidak hanya saat Lebaran, tetapi juga untuk berbagai kesempatan lain. Siluet yang versatile, palet warna yang lembut, hingga material yang nyaman menjadi kunci agar pakaian bisa dipakai berulang kali tanpa terasa membosankan.

Salah satu brand lokal yang konsisten mengusung prinsip keberlanjutan adalah Sejauh Mata Memandang. Brand yang didirikan oleh Chitra Subyakto ini dikenal mengangkat filosofi slow fashion melalui penggunaan material ramah lingkungan, teknik produksi yang bertanggung jawab, serta motif yang terinspirasi dari kekayaan alam Indonesia.

Selain menghadirkan koleksi dengan desain yang timeless, Sejauh Mata Memandang juga aktif mengedukasi konsumen tentang pentingnya mengurangi limbah tekstil. Beberapa inisiatif mereka bahkan melibatkan penggunaan kembali potongan kain sisa produksi untuk dijadikan produk baru, sehingga meminimalkan pemborosan material.

Dengan pendekatan tersebut, pakaian dari Sejauh Mata Memandang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga bumi melalui pilihan fashion yang lebih sadar.

3 dari 4 halaman

SukkhaCitta: Pakaian dengan Cerita dan Dampak Sosial

Widi Mulia kenakan koleksi terbaru SukkhaCitta. [Anisha Saktian/Fimela]

Selain Sejauh Mata Memandang, brand SukkhaCitta juga menjadi salah satu pionir sustainable fashion di Indonesia. Didirikan oleh Denica Flesch, brand ini dikenal dengan konsep farm-to-closet, yaitu proses produksi yang transparan dan berkelanjutan dari tahap bahan baku hingga menjadi pakaian.

SukkhaCitta bekerja langsung dengan para perajin dan komunitas perempuan di berbagai daerah di Indonesia. Mereka menggunakan pewarna alami serta proses pembuatan kain yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memberdayakan para pengrajin lokal agar mendapatkan penghasilan yang lebih adil.

Tak hanya menghadirkan pakaian, SukkhaCitta juga ingin mengajak konsumen memahami cerita di balik setiap kain, mulai dari siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, hingga dampak sosial yang dihasilkan.

4 dari 4 halaman

Mengubah Tradisi, Menjaga Makna Lebaran

Berawal dari pengalaman pribadi sang founder, Denica Riadini-Flesch, Sukkha Citta mencoba mengusung konsep Farm-to-Closet. Produk-produk Sukkha Citta dibuat dengan bahan alami tanpa mencemari lingkungan, melibatkan perajin dan petani lokal dari berbagai daerah seperti Jawa, Bali, hingga Flores. Selain menawarkan busana dengan sentuhan tradisi, Sukkha Citta menekankan dampak sosial melalui pemberdayaan komunitas. [Foto: Instagram/ SukkhaCitta]

Memilih baju Lebaran yang lebih berkelanjutan bukan berarti menghilangkan makna tradisi. Justru, pendekatan ini bisa menjadi cara baru untuk merayakan Hari Raya dengan lebih bijak, menghargai apa yang sudah dimiliki sekaligus mendukung praktik fashion yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, esensi Lebaran bukan terletak pada seberapa banyak pakaian baru yang dikenakan, melainkan pada momen kebersamaan, rasa syukur, dan nilai berbagi. Dengan memilih fashion yang lebih berkelanjutan, perayaan pun bisa terasa lebih bermakna, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan dan komunitas yang terlibat di balik setiap pakaian.