Dari Win Metawin hingga Gabriel Prince, Gaya Athleisure dengan Track Spike Jadi Statement Baru Sehari-hari

Hilda IrachDiterbitkan 20 Maret 2026, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Gaya sporty tak lagi terbatas di lintasan. Di tengah gelombang tren athleisure yang terus berkembang, sepatu track spike kini justru menemukan tempat baru dalam keseharian, dipadukan dengan outfit kasual hingga semi-street yang effortless. Hal ini terlihat jelas dalam penampilan para brand ambassador PUMA di Bangkok, yang menghadirkan interpretasi segar tentang bagaimana sepatu performa bisa menyatu dengan gaya hidup modern.

Dalam sebuah perhelatan eksklusif di Siam Square, Bangkok, PUMA memperkenalkan PUMA House pertama di Asia Tenggara sebagai bagian dari perayaan kembalinya H-Street di tahun 2026. Ruang imersif ini mengusung konsep “Suburban Surreality,” menghadirkan perpaduan antara nuansa suburban dengan sentuhan kreatif yang mengaburkan batas masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Acara pembukaannya diwarnai dengan fashion show yang menampilkan wajah baru H-Street di kawasan Asia Tenggara. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Win Metawin, yang tampil standout dalam jaket hitam-merah dengan sentuhan sporty yang sleek. Gayanya terasa clean namun tetap bold, mewakili transisi sempurna antara estetika atletik dan street style masa kini.

Di sisi lain, brand ambassador dari Indonesia,  Gabriel Prince menghadirkan pendekatan yang lebih laid-back lewat sweater cokelat yang dipadukan dengan celana longgar. Look ini terasa santai, namun tetap memiliki karakter kuat berkat permainan siluet dan styling yang effortless. Keduanya menunjukkan bahwa sepatu bergaya track spike kini tak lagi eksklusif untuk olahraga, melainkan menjadi elemen kunci dalam membangun personal style yang ekspresif.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Wajah Baru H-Street di Asia Tenggara

Ruang imersif ini mengusung konsep “Suburban Surreality,” menghadirkan perpaduan antara nuansa suburban dengan sentuhan kreatif yang mengaburkan batas masa lalu, masa kini, dan masa depan. [Dok/PUMA].

Momen peluncuran yang berlangsung pada 12 Maret 2026 itu juga semakin hidup lewat rangkaian fashion show yang memperkenalkan lima wajah baru Brand Ambassador PUMA Asia Tenggara. Mereka tampil bersama Win Metawin, menghadirkan spektrum gaya yang beragam namun tetap terhubung dalam satu benang merah: ekspresi diri melalui fashion yang dinamis.

Kelima sosok ini menjadi representasi generasi baru H-Street di kawasan ini. Mulai dari Kevin, aktor sekaligus rising fashion figure asal Singapura, hingga Aedy Ashraf dari Malaysia yang dikenal dengan karisma dan gaya personalnya. Dari Indonesia, Gabriel Prince tampil sebagai figur Gen Z yang berpengaruh, menggabungkan peran sebagai penyanyi, aktor, sekaligus digital creator dengan jangkauan global. Sementara itu, Arthur Nery dari Filipina membawa sentuhan musikal dengan pencapaian streaming yang masif, dan JSOL dari Vietnam menonjol lewat karakter emosional serta gaya yang berani dan fashion-forward.

Bagi Gabriel Prince sendiri, keterlibatannya dalam kampanye ini terasa personal. Ia melihat H-Street bukan sekadar sepatu, melainkan representasi semangat anak muda masa kini, yang ekspresif, berani tampil berbeda, serta terhubung dengan komunitas. Ia juga berharap kehadiran H-Street di Asia Tenggara bisa mendorong generasi muda untuk lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri, baik lewat gaya maupun karya.

3 dari 4 halaman

Dari Track ke Street, Evolusi H-Street

Ruang imersif ini mengusung konsep “Suburban Surreality,” menghadirkan perpaduan antara nuansa suburban dengan sentuhan kreatif yang mengaburkan batas masa lalu, masa kini, dan masa depan. [Dok/PUMA].

Di balik tampilannya yang kini lekat dengan gaya lifestyle, H-Street memiliki akar kuat dari dunia olahraga. Siluet ini terinspirasi dari Harambee, sepatu track spike ikonik PUMA di era awal 2000-an, yang kini dihadirkan kembali dalam versi yang lebih relevan untuk keseharian.

Desain low-profile, material mesh yang ringan, serta palet warna yang ekspresif menciptakan keseimbangan antara fungsi dan estetika. Tak heran jika H-Street kini mudah dipadukan dalam berbagai gaya, mulai dari kasual hingga statement look yang lebih bold.

Lebih dari sekadar produk, H-Street juga diposisikan sebagai bagian dari kultur. Hal ini sejalan dengan visi PUMA dalam membangun komunitas kreatif di Asia Tenggara, dengan Bangkok sebagai titik awal yang menghadirkan pengalaman imersif bagi publik.

4 dari 4 halaman

Ekspresi Warna dan Gaya yang Inklusif

Ruang imersif ini mengusung konsep “Suburban Surreality,” menghadirkan perpaduan antara nuansa suburban dengan sentuhan kreatif yang mengaburkan batas masa lalu, masa kini, dan masa depan. [Dok/PUMA].

Di dalam PUMA House, pengunjung juga disuguhkan deretan warna H-Street yang playful, termasuk yang dikenakan oleh global ambassador mereka, Rosé. Tiga warna utama yaitu Black, Fizzy Green, dan Poison Pink, menjadi highlight yang mempertegas karakter bold dan ekspresif dari koleksi ini. Tak hanya itu, preview eksklusif untuk warna dan desain terbaru yang akan datang juga menjadi daya tarik tersendiri.

Transformasi H-Street dari sepatu performa menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari terasa semakin jelas. Meski banyak diarahkan untuk perempuan sebagai pengguna utama, esensinya tetap inklusif, memberi ruang bagi siapa pun untuk berekspresi tanpa batas.

Kini, ketika batas antara fashion dan fungsi semakin kabur, sepatu track spike seperti H-Street membuktikan bahwa gaya atletik bisa menjadi bagian dari identitas sehari-hari, bukan hanya di lintasan, tapi juga di jalanan.